Until The End

Vina Marlina
Chapter #16

First Road

Pagi tiba, seluruh keluarga Ayla berkumpul di meja makan. Silva sudah kelihatan akrab dengan para ponakan perempuan Ayla yang berusia TK dan SD kelas satu. Anak itu menolak keras disuapi papanya, dia memilih makan sarapan sendiri di beranda, bersama saudara-saudara barunya.

“Seru juga ya, bisa ngumpul rame-rame gini. Lain kali, kita bakal sering main kemari, deh,“ kata om Beni, terkekeh-kekeh.

“Ngaku aja, kamu seneng anak-anak ada temen main, kan… Soalnya di komplek kami, tetangga yang punya anak kecil dikiiiiit banget. Makanya, kepaksa Papanya nih yang jadi tumbal. Harus mau diajakin main barbie!” bibi Ayla menyahut panjang lebar.

Semua tertawa.

Rio menimpali. “Nggak apa-apa, Om. Kita senasib. Punya anak cewek semua di rumah kalo nggak dipaksa main boneka, ya main salon-salonan. Saya malah pernah jadi korban make up si kembar, Om. Mana ada pak RT tiba-tiba datang bertamu. Kebayang nggak, malunya kayak gimana.”

“Pffft,“ Ayla mencoba menahan tawa, bahunya sampai berguncang-guncang.

Rio menoleh melihatnya. “Kenapa kamu, Ay? Hati-hati atuh, nanti keselek,“ katanya, tersenyum. Ditepuknya pelan bahu Ayla beberapa kali.

Ayla ikut menoleh, masih ada sisa tawa di bibirnya. Merasa malu, ia pura-pura melanjutkan sarapan. Padahal, ia tak tahu apakah makanannya masuk ke mulut apa ke hidung, saking tak bisa berkonsentrasi.

Seisi meja makan kompakan berseloroh mendapati pemandangan manis itu.

Om Beni menyodok lengan isterinya. “Coba lihat…Memang beda ya, auranya kalau pengantin baru. Matanya kayak sparkling-sparkling gitu.”

“Bikin ngiri memang, jadi kepingin muda lagi, “ Mama Ayla ikut-ikutan.

“Aduh, maafin ya Rio, Ayla…, nggak enaknya jadi penganten baru tuh gitu, sampai sebulan ke depan siap-siap aja diledekin orang-orang.” Kata bibi, menyusut sudut matanya gara-gara tertawa, “Eh, tapi kok kita nggak lihat kalian mandi tadi. Hati-hati lho, kelupaan.”

Semua tergelak.

Ayla sampai menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Meski begitu, bibirnya mengulum senyuman.

Kalaupun ada satu orang di ruangan itu yang tidak ikut tertawa sedari tadi. Itu papa Ayla.

Beliau diam saja, memerhatikan tindak tanduk puterinya. Belenggu di hatinya melonggar, setelah matanya menyaksikan sendiri kebahagiaan Ayla.

“Oh iya, rencana kalian apa hari ini? Mumpung masih weekend.” Tanya Om.

Rio dan Ayla berpikir-pikir. Sebenarnya tidak ada agenda khusus, kecuali menjemput si kembar di rumah neneknya.

“Mungkin siang nanti kami pamit mau ke rumah orangtua saya dulu, sekalian jemput anak-anak. Habis itu…” Rio melirik Ayla, ingin tahu apakah istrinya punya rencana lain.

“Sore ini, aku akan pindah ke rumah Rio, “ jawab Ayla mantap, membubuhkan sedikit keterkejutan di wajah keluarganya. “Anak-anak besok harus sekolah. Aku dan Rio juga nggak bisa cuti dadakan.”

Suka atau tidak, pernyataan Ayla itu masuk akal, sehingga tidak ada yang mendebat. Walau dalam hati, orangtua Ayla merasa sedih harus melepas puterinya secepat itu.

“Mainlah sering-sering kemari,“ kata mama Ayla, mewanti-wanti Rio dan Ayla. Belum apa-apa, beliau sudah merasa kehilangan. “Bawa juga anak-anak…”

“Insya Allah, Mah,“ jawab Rio, disertai anggukan Ayla.

Saat itu, Rio tidak tahu. Ponselnya yang ditaruh di meja belajar Ayla terus-menerus berbunyi. Tertulis panggilan tak terjawab 13 kali. Layar itu menampilkan satu nama.

Maya.

***

Rio menautkan alis membaca banyak panggilan tak terjawab di ponselnya.

“Apa ada urusan penting?” gumamnya, men-scroll ponsel mengecek inbox whattsap. Barangkali mantan istrinya itu mengiriminya pesan.

Tapi, ternyata tak ada.

“Kantor ngehubungi?” tanya Ayla, tahu-tahu sudah ada di belakang Rio, membuatnya agak terperanjat.

Lihat selengkapnya