Until The End

Vina Marlina
Chapter #17

A Sorrowful Reunion

Maya beranjak mendekati mobil. Setiap langkahnya mengguratkan rasa percaya diri. Punggung yang tegak itu menandakan dirinya sudah terbiasa memerintah. Sementara garis wajahnya yang ceria, persis seperti sekuntum bunga yang merekah. Mengundang siapapun untuk menyukainya.

Ayla meneguk ludah. Ia pasti akan percaya kalau ada yang mengatakan wanita ini adalah seorang CEO. Auranya begitu gagah, tidak seperti dirinya.

Rio sudah lebih dulu membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Mengetahui Silva sudah tertidur dalam buaian Ayla, ia pun membukakan pintu untuk istrinya. Ia bisa melihat Maya berhenti melangkah di dekat pagar. Mimik mukanya tetap tenang. Sama sekali tidak kelihatan terganggu mendapati mantan suaminya datang bersama wanita lain.

“Maya, kapan kamu datang?” tanya Rio, membuka pintu pagar.

“Barusan,“ jawab Maya, tersenyum lebar. Gigi gingsulnya terlihat.

Ayla mungkin saja menganggap senyum itu sangat menawan, tapi Rio tidak bisa ditipu. Ia sudah sangat mengetahui kepiawaian Maya dalam bersosialisasi. Senyuman itu tak lebih dari ‘business smile’.

“Langsung dari bandara?” tanya Rio.

“Yup! Aku kangen kalian, makanya langsung kemari,“ jawab Maya.

Rio tidak merespon apa-apa. Tetapi wajahnya jelas-jelas menunjukkan keengganan. Tangannya lalu merangkul Ayla tanpa ragu, mengajaknya memasuki pekarangan.

Perbuatannya ini membuat Maya berpaling pada Ayla. Sedikit keterkejutan membayang di sorot matanya. Mungkin tidak menyangka Rio akan bersikap seintim itu.

 “Tunangan Rio?” tebak Maya. “Aku dengar dari anak-anak, katanya kalian baru tunangan kemarin. Selamat, ya.“

Baru sebentar berinteraksi, Ayla beranggapan Maya ini sangat aneh. Sudah setahun tak bertemu buah hati, bukannya langsung memburu Silva, malah sempat-sempatnya berbasa-basi. Keningnya sempat berkerut, tapi buru-buru ia samarkan dengan cara menunduk. Lagipula, tak baik langsung men-judge seseorang.

“Ini Ayla, istri aku. “ Rio menjawab tegas.

Kali ini, siapapun bisa melihat ketenangan Maya menghilang. Mata bulatnya terbelalak. Sorot matanya begitu sarat ketidakpercayaan. Nampaknya ia sangat terguncang.

Hati Ayla mencelos. Apalagi saat dilihatnya Maya mengerling Rio tajam.

Apa-apaan ini. Kenapa kelakuannya kayak mantan belum move on! batin Ayla mulai resah.

Perhatian Maya beralih ke sosok gadis cilik dalam dekapan Ayla. “Ini Silva, kan? Ini Mama, Nak,“ bisiknya, mendekati Ayla supaya bisa melihat wajah si bungsu lebih jelas. “Cantik. Makin lama, dia makin mirip papanya.”

“Boleh aku gendong dia?” tanya Maya, membuka lengannya lebar-lebar.

Ayla menurut. Amat berhati-hati supaya Silva tidak terbangun, ia memindahkan Silva ke dalam gendongan mamanya. Maya tidak berkata apa-apa lagi. Ia membalikkan tubuhnya dan membawa Silva menuju rumah, meninggalkan Rio dan Ayla mematung di tempatnya. Tanpa ucapan permisi. Tanpa minta ijin.

           Saat itu, perasaan Ayla tercabik-cabik. Sebenarnya, ia marah karena Maya bertingkah seolah-olah masih menjadi nyonya rumah di tempat itu. Tapi apa pantas ia mengeluh, mengingat Maya adalah ibu kandung anak-anak. Secara hukum, Maya pasti masih memiliki hak menjenguk buah hatinya di rumah.

Di sebelah Ayla, Rio mengusap wajahnya kasar. Helaan napas berat terdengar. “Maafin aku, Ay…Maaf kamu jadi menyaksikan semua ini. Maaf karena dia sudah seenaknya.“

Ayla menggeleng pelan. “Kamu nggak perlu minta maaf.”

Dia tak suka mendengar Rio mewakili wanita itu meminta maaf. Terlebih, Rio tidak bersalah.

“Selamat datang di rumah,” kata Rio, mengeratkan rangkulannya. 

Ayla berusaha tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Ia amat menghargai usaha Rio menghiburnya. Padahal, Rio pasti tak kalah terguncang. Terlihat dari eskpresinya yang menyiratkan kelelahan. Lelaki itu seolah bertambah usia sepuluh tahun dalam waktu singkat.

“Yuk, kita masuk,“ ajak Rio, ganti menggamit tangan Ayla, membimbingnya masuk ke dalam rumah.

           Semakin mendekati kediaman berukuran tipe 45 itu, debaran jantung Ayla meningkat. Mengetahui seseorang dari masa lalu Rio sedang berada di salah satu ruangannya, perasaannya jadi sangat rumit. 

           “Kamu mau istirahat di kamar, apa ke dapur? Kita kenalan sama bi Yani, pengurus rumah tangga di sini,“ kata Rio, menangkap gestur Ayla yang kelihatan tidak nyaman.

           “Ke dapur aja!” Segera, Ayla menjawab.

          Beristirahat di kamar Rio yang pastinya pernah ditempati Maya, bisa-bisa ia malah gila duluan. Merasa tersiksa oleh bayangan-bayangan liar ciptaaannya sendiri, karena Rio dan Maya pasti pernah menorehkan kenangan berdua mereka di sana. Ah, tidak, tidak. Setelah melihat ibu kandung anak-anak ada di sini, ia bahkan tidak yakin akan sanggup pergi ke kamar Rio.

           Astagfirullahaladziiim…Kepala Ayla terasa berat. Namun, dicobanya sekuat hati supaya tetap tegar. Meski, hatinya tak karuan.

           “Mana Bi Yani. Bi! Bibi!”

           Rio memanggil-manggil. Celingukan mencari-cari sosok beliau di seluruh penjuru dapur. “Kemana perginya…” gumamnya, bingung.

           “Bibi pergi keluar sebentar. Aku minta tolong beliin bakso di depan pertigaan komplek,” celetuk Maya, muncul di ambang pintu dapur. Senyum ‘sosialnya’ sudah menghilang tanpa jejak.

Tanpa tersenyum, wajah Maya jadi berubah seratus delapan puluh derajat, seakan-akan berubah menjadi orang yang berbeda. Jutek. Dingin. Cuek. Lagi-lagi, Ayla tertegun menatapnya. Sungguh wanita yang penuh kejutan!

           Rio mengerling Maya sepintas. Lalu, mendengus kesal sembari memijiti pucuk hidungnya sendiri. Sepertinya ia butuh asupan obat anti sakit kepala.

           “Aku mau bicara empat mata sama kamu. Bisa?” Maya menatap Rio lurus-lurus. Tak peduli sama sekali pada sosok wanita di sampingnya.

           “Kita bicara di teras. Kamu bisa kesana duluan,“ ucap Rio.

           Sebagai tanggapan, Maya berbalik dan pergi.

           Sekarang, Ayla mengerti kenapa Rio mengatakan pernikahan terdahulunya terlanjur toxic. Dilihat dari segi manapun, aura permusuhan menguar jelas dari kedua belah pihak.

Kasihan anak-anak…

           “Ay…” Rio menghadap Ayla, berusaha menjelaskan. Tetapi, Ayla keburu menyela duluan.

“Aku ngerti kalian punya sesuatu yang perlu dibicarain. Aku akan tunggu di sini, “ katanya, berusaha bersikap biasa-biasa saja.

Rio menggumamkan sesuatu seperti ‘terimakasih’. Tapi entahlah, Ayla tak bisa mendengarnya dengan jelas. Sepeninggal Rio, Ayla terduduk lemas di kursi, menyandarkan kepalanya di atas papan setrika.

Rasanya ia ingin menangis.

***

           “Gimana kabar anak-anak?”

           Maya memulai, ketika Rio sudah menduduki satu-satunya kursi yang tersisa. Diantara mereka, terdapat meja berukuran mini yang memisahkan.

Lihat selengkapnya