Until The End

Vina Marlina
Chapter #23

A Tale of Two Doors

Sekembalinya Maya ke Vietnam, si kembar seolah kehilangan nyawa. Mereka lebih banyak diam dan mengurung diri. Meski ibunya menjanjikan akan kembali beberapa bulan lagi—bahkan berencana menetap di Bandung—janji itu terasa hambar, menguap begitu saja tanpa memberikan pengaruh nyata pada keceriaan mereka.

Ayla menyadari bahwa mendekati si kembar membutuhkan dua pintu yang berbeda. Jika Nahya bisa didekati melalui aroma dapur, maka Navya adalah benteng tinggi yang hanya bisa ditembus melalui gelombang Hallyu.

Begitu tahu Navya adalah seorang K-Popers berat, Ayla mendadak rajin browsing. Ia mencatat istilah-istilah asing seperti bias, comeback, hingga lightstick di buku catatannya, layaknya sedang membedah teori biologi yang rumit. Ia bahkan menghafal beberapa gerakan tarian yang sedang trending.

Sore itu, suasana rumah cukup tenang. Nahya dan Navya duduk di meja makan, tenggelam dalam tumpukan tugas sekolah. Ayla melihat ini sebagai kesempatan emas. Ia melirik Silva yang asyik bermain boneka di karpet, lalu mengedipkan mata sembari melambai pelan. Silva yang selalu siap untuk bersenang-senang, langsung mendekat dengan antusias.

Bismillah... Ya Allah, lancarkan niat pedekate-ku ini...

Ayla menyalakan lagu Dynamite milik BTS. Dentum musiknya memenuhi ruangan melalui speaker kecil.

“Ayo, Dek! Kita tunjukin dance terbaik kita!” seru Ayla riang.

Perlahan, Ayla mulai menggerakkan badan, mencoba menirukan gerakan yang sudah ia tonton berulang kali di ponselnya. Namun, teorinya tak sejalan dengan praktiknya. Gerakannya kaku, sering kali terlambat satu ketukan, dan terlihat sangat lucu. Di sampingnya, Silva melompat-lompat asal dengan penuh semangat. Tawa riang bocah itu membahana di ruangan.

Mendengar kegaduhan itu, Nahya dan Navya serentak mendongak.

Nahya tertegun melihat ibu sambungnya berjoget seheboh itu. Matanya membulat, lalu bibirnya bergetar menahan tawa yang hampir meledak melihat gerakan canggung Ayla saat mencoba melakukan body roll. Gadis berambut ikal itu buru-buru menundukkan kepala, pura-pura fokus pada buku tugasnya, meski bahunya berguncang hebat menahan tawa.

Berbeda dengan kembarannya, Navya justru menatap adegan itu dengan tatapan datar dan dingin. Sama sekali tidak tersentuh. Ia melengos sambil memutar bola mata jengah. Detik berikutnya, ia menutup buku tugasnya dengan kasar, berdiri, lalu berjalan tergesa menuju kamarnya.

BRAAAK!

Dentuman pintu itu seketika mematikan suasana. Refleks, Ayla menekan tombol pause. Navya yang kaget di kamarnya seolah mengirimkan gelombang penolakan yang nyata. Silva tersentak, tawa riangnya langsung lenyap. "Yaaaah...." keluhnya kecewa.

Ayla terpaku, masih menggenggam ponselnya erat. Senyum di wajahnya memudar, digantikan raut kekecewaan dan rasa bersalah yang menyesakkan.

Rio yang baru keluar dari kamar mandi sempat menyaksikan sisa-sisa adegan itu. Ia melihat pintu kamar Navya yang tertutup rapat, lalu beralih pada Ayla yang berdiri lunglai. Tanpa membuang waktu, Rio menghampiri istrinya, menarik pundak Ayla ke dalam pelukan hangat, dan mengusap punggungnya lembut.

"Nggak apa-apa, Ay. Aku tahu kamu sudah berusaha," bisik Rio, mencoba menyalurkan kekuatan.

Ayla menghela napas panjang, menyembunyikan wajahnya di dada Rio demi menahan air mata. "Aku cuma mau dia tahu kalau aku juga mau belajar hal yang dia suka. Tapi kayaknya aku malah bikin dia makin benci."

"Tembok setinggi itu nggak akan runtuh dalam satu sore, Ay. Butuh waktu," hibur Rio pelan. Ia melepaskan pelukannya dan tersenyum. "Lagian, dance kamu tadi... lumayan menghibur, kok. Nahya saja sampai terpesona. Iya, kan, Nahya?"

Lihat selengkapnya