Hari-hari terus berlanjut seperti aliran sungai yang perlahan menemukan jalannya di antara bebatuan.
Tak terasa, Rio dan Ayla telah menginjak usia tiga bulan pernikahan. Ada kesibukan baru yang melanda mereka: persiapan menghelat resepsi pernikahan yang sempat tertunda. Sudah beberapa minggu terakhir, jadwal mereka padat dengan survei tempat, mencicipi menu katering, hingga berdebat kecil tentang desain suvenir. Karena Rio jarang memiliki waktu luang, Ayla sering kali ditemani oleh mama dan ibu mertuanya—dua wanita yang tampak lebih bersemangat daripada sang pengantin sendiri.
Suatu malam, jarum jam sudah melewati angka sepuluh. Rio pulang kerja dengan langkah terhuyung-huyung. Bahunya merosot, dasinya sudah terlepas dan tersampir berantakan di saku jasnya. Sudah beberapa hari ini dia terjebak lembur di kantor demi mengejar target sebelum cuti resepsi.
Melihat Ayla sedang duduk tenang membaca buku di sofa ruang keluarga, Rio tidak mengucapkan salam dengan suara lantang. Tanpa pikir panjang, ia naik ke sofa dan langsung membaringkan kepalanya di pangkuan istrinya. Sebuah desah panjang terdengar, seakan beban seberat berton-ton baru saja diangkat dari dadanya.
Ayla menutup bukunya perlahan. Ia menatap wajah lelah suaminya yang kini terpejam rapat. "Capek, ya?" tanya Ayla, berbisik lembut.
"Banget..." jawab Rio singkat. Suaranya serak, namun ia bisa merasakan jemari Ayla mulai bergerak pelan, membelai rambut gelombangnya, memijat lembut pelipisnya. Dalam hitungan detik, lelaki itu sudah tertidur pulas.
Di sudut ruangan, Navya dan Nahya yang sedang mengerjakan PR matematika di meja makan, melongo menyaksikan pemandangan itu. Keheningan itu membawa ingatan si kembar terbang ke masa beberapa tahun silam, ke sebuah malam yang suasananya sangat berbeda.
Kilasan Masa Lalu...
Malam itu, Papa juga pulang dengan wajah selelah ini. Namun, tak ada pangkuan yang menyambutnya. Mama sedang sibuk di depan cermin besar, merapikan gaun pesta dan tas bermereknya.
"Ma, kamu mau pergi lagi?" suara Papa terdengar parau dari ambang pintu.
"Cuma arisan sama teman-teman SMA, Pa. Terus lanjut hang out sebentar, ada pembukaan lounge baru punya temanku," jawab Mama tanpa menoleh, sibuk memulas gincu merah menyala.
"Bisa nggak, sekali ini saja kamu kurangi waktu arisan dan main di luar? Anak-anak nungguin kamu. Kita butuh family time, Ma. Nggak perlu mewah, sekadar makan nasi goreng di depan komplek bareng-bareng pun aku sudah senang," pinta Papa, nadanya memohon.