Kesibukan Ayla seolah tak ada habisnya. Seharian itu, ia harus mengajar empat kelas berturut-turut di kampus. Meski lelah, ia terpaksa meminta izin pulang lebih awal karena agenda hari ini sangat padat: menjemput suami dan anak-anak, meluncur ke butik untuk fitting baju pengantin, lalu menutup akhir pekan di rumah orang tuanya. Sejak kemarin, Mama sudah berkali-kali menelpon, merengek meminta menantu dan cucu-cucunya segera datang.
Ayla memutuskan untuk menyambangi kantor Rio terlebih dahulu karena lokasinya yang searah dari kampus. Namun, ada yang aneh saat ia melangkah masuk. Begitu ia menyebutkan identitasnya kepada resepsionis, suasana di lobi mendadak berubah. Karyawan-karyawan yang berada di sekitar sana mulai saling berbisik. Ayla tak tahu apakah itu hanya perasaannya saja, tapi semua orang seolah menghindari tatapan matanya, persis seperti orang yang takut bertemu preman menakutkan.
“Mari saya antar ke ruangan Pak Rio, Bu,” sapa seorang karyawan pria dengan sopan, mencoba mencairkan suasana.
Sambil berjalan, pria itu berbisik pelan, seolah bisa membaca kebingungan di wajah Ayla. “Maafkan mereka, Bu. Mereka hanya segan melihat Ibu. Tolong jangan dimasukkan ke hati.”
Dahi Ayla mengernyit. “Ini pertama kalinya saya datang, tapi sudah langsung bisa membuat orang segan?” sahutnya heran.
Pria itu justru balik kebingungan. “Loh, Ibu bukannya Bu Maya?”
Sekitika, Ayla paham. Rupanya ada salah paham yang cukup besar. Ia pun membatin, sebenarnya apa yang sudah dilakukan Maya dulu sampai membuat orang-orang sekantor trauma seperti ini?
“Itu mantan istrinya. Kalau saya, istri barunya,” jelas Ayla, meski ada rasa tidak nyaman yang menyelinap di hatinya.
“Ooooh!” Karyawan itu manggut-manggut. Dari ekspresinya, Ayla yakin pria itu tengah merangkai gosip segar untuk disebarkan pada rekan-rekannya nanti. Tapi terserahlah, Ayla terlalu lelah untuk ambil pusing. Kepalanya mulai berdenyut nyut-nyutan; tubuhnya benar-benar terasa lemas karena terlalu diporsir.
Baru saja mereka mencapai lorong, pintu di depan mereka menjeblak terbuka. Rio muncul di ambang pintu, masih sibuk menelpon seseorang. Meski begitu, ia sempat menyunggingkan senyum dan melambaikan tangan, memberi isyarat agar Ayla mendekat. Setelah melihat Rio, karyawan pria tadi pun pamit yang dibalas dengan ucapan terima kasih dari Ayla.
Dalam hati, Ayla tak bisa menahan rasa kagum. Rio, dalam balutan kemeja yang pas di badan dan dasi khas eksekutif muda, benar-benar terlihat chef’s kiss. Tampan dan sangat menarik. Besok-besok, aku harus ingat untuk memesankannya kemeja satu nomor lebih besar! batinnya protektif.
“Ay, mau berangkat sekarang?” tanya Rio sambil mengantongi ponselnya.
Alih-alih menjawab, Ayla justru menyerahkan kotak bekal ke tangan Rio, lalu tanpa permisi duduk santai di kursi kerja suaminya. Ia menyandarkan punggung dengan nyaman, sesekali memutar kursi itu ke kiri dan ke kanan. Rio tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang kadang-kadang mirip Silva. Menggemaskan.
“Aku cemburu,” gumam Ayla tiba-tiba dengan bibir mengerucut. “Suamiku ganteng banget. Pasti banyak karyawan cewek di sini yang naksir.”
“Apa?” Rio tak kuasa menahan tawa. Namun di balik tawanya, ia merasa Ayla agak aneh akhir-akhir ini. Mood-nya sulit ditebak; kadang sabar, terkadang sangat manja, lalu tiba-tiba terlihat tak bersemangat. Rio bersedekap, menatap istrinya lekat-lekat. Situasi ini terasa sangat familiar baginya.
Jangan-jangan... Rio mulai menebak-nebak, mencoba mengingat kapan terakhir kali Ayla mendapatkan siklus bulanannya.
Namun, lamunannya terputus saat melihat Ayla batuk-batuk sambil mengibas-ngibaskan tangan. Rio terperanjat. Ia baru sadar rokoknya masih mengepul di atas meja. Dengan sigap, ia mematikan puntung rokok itu lalu menyembunyikan asbaknya ke pojok ruangan.
Bibir Ayla semakin cemberut. Ia kecewa karena Rio tak pernah merokok saat di rumah. Ingatannya melayang pada perkataan Maya sehari sebelum wanita itu kembali ke Vietnam.
“Maya pernah bilang, kamu selalu merokok tiap kali bertengkar dengannya. Apa sekarang kamu lagi ingat dia, makanya kamu merokok?”
“Nggak begitu, Ay,” jawab Rio cepat. “Kadang-kadang saja kalau lagi capek.”
Takut memperpanjang masalah, Rio segera membuang sebungkus rokok di sakunya ke tempat sampah. Jika firasatnya benar, ia harus menjaga Ayla lebih ekstra mulai sekarang. Ayla tidak boleh stres atau kelelahan. Membayangkan kemungkinan itu saja sudah membuat rasa syukurnya membubung tinggi. Nanti, ia harus ingat mampir ke apotek untuk membeli test pack. Harus!
“Nah, gitu dong.” Ayla tersenyum puas dan mendekat. Ia membuka kotak bekal yang dipegang Rio. “Kalau kamu lagi ingin merokok, kamu makan saja ini.”
Ayla menyuapkan potongan besar tahu goreng ke mulut Rio. “Enak, kan?”
Rio hanya bisa manggut-manggut dengan pipi menggelembung, mencoba tetap tersenyum di depan istrinya. Ayla pun terkekeh melihat pemandangan itu.