Until The End

Vina Marlina
Chapter #26

POV MAYA: Echoes Of The Past

Lampu apartemen itu hanya menyala separuh, membiarkan sudut-sudut ruangan tenggelam dalam remang. Maya duduk di lantai, punggungnya bersandar pada sofa abu-abu yang kini terasa terlalu besar untuk ditempati satu orang. Di balik jendela kaca besar, kota Saigon tetap berdenyut—kerlip lampu neon, deru klakson yang samar, dan siluet gedung-gedung tinggi yang seolah tak pernah memejamkan mata.

Namun, di dalam ruangan ini, sunyi terasa begitu padat, menjelma menjadi dinding yang mengimpitnya pelan.

Ponselnya tergeletak di samping kaki. Layarnya masih menyala, memajang sebuah foto yang baru saja dikirimkan oleh Nahya beberapa menit lalu. Di sana, Navya tampak manis dengan rambut yang dikuncir rapi. Di sebelahnya, Nahya menyeringai lebar, memamerkan deretan giginya yang jenaka. Dan tepat di belakang mereka, Ayla berdiri dengan senyum kecil yang teduh.

Maya memperbesar gambar itu dengan dua jari. Fokusnya tertuju pada satu titik: kunciran rambut Navya.

Dulu, hanya jemarinya yang boleh menyentuh helaian itu. Hanya ia yang hafal bagian mana yang paling mudah kusut. Hanya ia yang tahu kapan Navya akan meringis jika sisirnya ditarik terlalu keras. Maya menghela napas panjang, sebuah embusan yang terasa berat di dada.

“Cantik,” gumamnya lirih. Entah pujian itu ia tujukan untuk rambut putrinya, atau untuk harmoni yang tertangkap dalam potret tersebut.

Ponsel itu kembali bergetar. Bukan dari Rio, melainkan sebuah pesan singkat dari Navya.

Navya: “Ma, aku mau kasih tahu kabar bahagia. Bunda hamil. Aku bakal punya adik lagi. Doakan Bunda dan Adek di perut sehat ya, Ma.”

Jari Maya membeku di atas layar. Ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatinya. Bukan kemarahan, bukan pula keterkejutan yang meledak-ledak. Rasanya lebih seperti sebuah ruang kosong yang tiba-tiba diisi oleh gema yang panjang.

Melihat Navya sendiri yang mengabarkan hal itu—dengan menyebut Ayla sebagai 'Bunda' dan meminta doa untuknya—adalah hantaman realitas yang paling nyata. Anak-anaknya sudah menemukan kedamaian mereka di tempat lain.

Lihat selengkapnya