Suasana ruang bersalin RSIA itu tadinya begitu khidmat. Suara mesin pemantau jantung bayi berdetak stabil, mengisi keheningan di antara napas-napas panjang Ayla. Sudah tiga jam Ayla berjuang, mencoba menjaga ritme pernapasannya dengan zikir yang tak putus dalam hati setiap kali gelombang kontraksi itu datang menyapa.
Mama Ayla sesekali mengusap rambut putrinya dengan lembut, mengirimkan doa melalui sentuhan. Sementara itu Rio, dengan wajah suami siaga yang mati-matian berusaha tampak tegar, berjaga di sisi ranjang. Namun, ketenangan Rio mulai goyah saat rintihan Ayla berubah menjadi lenguhan tertahan. Dengan gerakan panik, ia memencet tombol penghubung perawat. Sepertinya, momen yang ditunggu telah tiba.
Tiga perawat berseragam putih segera menyerbu masuk, melakukan pengecekan cepat. "Clear!" seru salah satu dari mereka. Pembukaan sudah lengkap.
Bersamaan dengan itu, Ayla mulai mengejan dengan sisa tenaga yang ada. "Saya nggak kuat lagi, Sus...!" keluhnya payah.
“Ayo, Bu Ayla… dorong lagi. Pintar!” seru Bidan Siti menyemangati.
Rio mendekatkan wajahnya, mencoba memberikan dukungan puitis di waktu yang sangat tidak tepat. “Tarik napas, Ay. Pegang tangan aku saja, salurkan semua sakitnya ke sini.”
Tanpa aba-aba, Ayla langsung menyambar lengan suaminya. Namun, alih-alih meremasnya dengan lembut seperti adegan film romantis, Ayla justru memiting lengan Rio dengan kuncian maut—seolah-olah ia sedang melumpuhkan jambret yang tertangkap basah.
“Aduh! Ay! Tangan aku sakit, Ay!” pekik Rio. Wajahnya yang dipasangi masker, mendadak merah padam hingga ke telinga, menahan perih yang luar biasa.
Kontraksi berikutnya datang menghantam seperti badai. Ayla tanpa sadar menarik lengan Rio begitu kuat hingga pria itu nyaris terjungkal dari kursinya. Suara Ayla yang biasanya selembut sutra, kini pecah menjadi nada yang sangat emosional.
“Kamu!” raung Ayla di sela napasnya yang memburu. “Semua ini gara-gara kamu, Rio! Berani-beraninya kamu sok pahlawan begitu!”
“Iya… iya… salah aku… semua salah aku… tapi lepasin dulu sedikit, Ay, ini sendi aku mau pindah tempat!” Rio meringis pasrah, setengah berlutut di samping ranjang agar lengannya tidak patah.
Bidan Siti dan asistennya berusaha keras menahan tawa hingga bahu mereka berguncang. Mama Ayla yang berdiri di sisi lain hanya bisa mengelus dada, antara merasa prihatin pada menantunya sekaligus ingin tertawa melihat putrinya mendadak berubah jadi atlet gulat.
“Satu dorongan panjang, Bu! Sedikit lagi!”
Lalu— Tangisan nyaring memecah ketegangan udara. “Oeeek! Oeeeek!”