Di kehidupan yang tak pernah bertahan lama, Elaina hanya menatap lurus ke cakrawala. Langit yang berwarna kejinggaan dengan awan-awan bermotif garis-garis lurus.
Ia mendengar desiran ombak-ombak dari bawah tebing yang ia duduki.
“Aku dengar manusia hanya memiliki rentang umur kurang dari 100 tahun. Bagaimana mereka bisa menikmati keindahan hidup seperti ini jika hanya sibuk bekerja?”
Gumaman-gumaman itu mengganggu pikirannya tentang bagaimana para manusia tetap bisa bahagia dengan usianya yang hanya seumur jagung bagi seorang elf seperti Elaina.
Umumnya Elf bisa hidup hingga 1000 tahun bahkan lebih, menikmati perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi manusia tidak seperti demikian. Mereka terkadang hanya menetap di satu tempat tanpa berpindah, bahkan hingga mereka meninggal masih di tempat yang sama.
Elaina, elf dengan usia hampir 100 tahun, masih tergolong sangat muda alias remaja untuk ras elf. Ia masih bingung tentang manusia. Dalam hati kecilnya sebenarnya ia sangat penasaran, tetapi ia tidak berani mendekati mereka apalagi berteman. Mereka sangat rapuh, bisa-bisa mereka mati hanya karena terkena sentuhan tangannya.
Elaina berhenti melamun, ia harus melanjutkan perjalanannya. Ia melihat tangannya yang sangat lembut membuat sebuah pola di sana. Dengan sedikit dorongan tenaga, ia bisa memuncul sebuah cipratan cahaya yang terbuat dari kekuatan sihir yang ia miliki.
Cipratan cahaya itu mengelilingi tubuhnya, membentuk sebuah sayap yang sangat cantik. Ia melangkahkan kakinya, berlari menuju ujung tebing, membiarkan tubuhnya terjatuh dan melayang di angkasa lepas dengan sayap sihirnya.
Sayap-sayap itu berkibas dengan lembut, membuat cahaya-cahaya kecil terpercik dan menambah indah pemandangan di senja yang hampir kehilangan cahayanya.
Di tepian pantai seorang bocah lima tahun, menunjuk ke arah cahaya-cahaya yang terpecik itu, “Ibu… ada peri yang terbang di sana!” teriaknya dengan suara yang sangat ceria, ia lalu melambaikan tangannya ke arah Elaina yang terbang melintasi samudra yang panjang.
Ah! Seorang manusia, pikir Elaina.