Until The Last Flower Blooms

Pwanchaa
Chapter #3

Cerita Tobi

Elaina melangkahkan kakinya di ubin-ubin kayu dengan ukiran bunga-bunga khas Everdelle. Bunga yang tumbuh dengan kelopaknya yang bertumpuk-tumpuk dan memiliki sihir magis. Warnanya berbeda-beda di setiap daerah dan dapat bersinar di malam hari. 

Mata Elaina lalu beralih pada goresan-goresan halus yang mengukir pegangan tangga, terasa sangat halus dan seperti sulur-sulur batang tanaman.

Cantik, pikirnya.

Akhirnya ia sudah melangkahkan kaki di lantai satu, banyak pajangan-pajangan foto di sepanjang dinding. Foto seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dengan kedua orang tuanya. 

Elaina melangkahkan kakinya masih tetap terfokus pada foto-foto itu, di sebelah foto pertama tadi ada seorang anak kecil berusia 10 tahun sedang memegang gagang sekop di kebunnya dengan wajah ceria dan kedua orangnya pun berada di sana dengan senyuman yang merekah.

Sedangkan di foto sebelahnya anak kecil itu kini sudah tumbuh menjadi remaja 13 tahun. Mungkin saja itu saat ia mulai masuk ke Akademi Perkebunan Everdelle. Ia tumbuh dengan senyum khas yang sama seperti saat ia kecil begitu pun dengan kedua orang tuanya yang masih sama namun sekarang sudah terlihat agak menua.

Mata Elaina lalu bergeser ke foto selanjutnya saat anak itu sepertinya sudah berusia 17 tahun. Ia mengenakan seragam sekolah dan memegang sebuah kertas kelulusan. Kedua orangnya membawakan sebuah buket bunga matahari yang cantik digenggamannya. Kemungkinan, itu adalah hadiah untuk pemuda itu.

Foto itu kemudian tidak berlanjut seolah perjalanan anak itu masih dalam proses atau sudah terhenti. Ia melirik ke arah Tobi yang sedang memegang sebuah panci dari tanah liat dengan sarung tangannya.

“Aww.. aww.. panas,” keluhnya sebelum akhirnya dia berhasil meletakkan panci itu di meja makan yang sudah sangat rapi.

Elaina menatap Tobi tanpa ekspresi, namun Tobi membalasnya dengan senyuman yang khas yang sama dengan pemuda di dalam foto itu.

“Kemarilah, mari kita makan bersama. Jangan malu-malu,” lambai Tobi.

Elina celingukan melihat ke kanan dan ke kiri ruangan, seolah Elaina sedang menunggu dua orang lainnya yang berada di foto tetapi sayangnya tidak ada siapa-siapa di sana kecuali dirinya.

“Apa tidak menunggu yang lain datang?” tanya Elaina. Tobi menaikkan alisnya, ia seperti mencoba memahami pertanyaan Elaina.

“Yang lain?”

“Mereka.” 

Lihat selengkapnya