Until The Last Flower Blooms

Pwanchaa
Chapter #4

Sebuah Harapan

Suara keriuhan para pengembara yang sedang melakukan tawar menawar terdengar dari tempat Elaina berjalan, musik-musik instrumental khas Everdelle juga terdengar menyambut kedatangannya. 

Ia masih berada di jalan turunan perbukitan yang luas sehingga dapat langsung melihat bagaimana ibu kota Westheaven; Bellavere, begitu padat dari atas sana. Beberapa penyihir terbang melewati atasnya dan beberapa naga yang sudah bertransformasi menjadi wujud manusia, hanya saja ia masih menggunakan sayapnya yang besar pun melewatinya. 

Ah, tak lupa peri-peri kecil yang meloncat dari satu kelopak bunga ke kelopak bunga lainnya. Elaina jarang bertemu dengan para peri karena mereka lebih suka tinggal berkelompok. Peri dan Elf dasarnya masih satu keturunan yang sama, namun leluhur para Elf memiliki ukuran normal seperti manusia sementara leluhur para peri memiliki tubuh yang sangat kecil. Mereka juga sudah memiliki sayap sejak lahir, berbeda dengan para elf.

“Sangat ramai,” celetuk Elaina sembari menengadahkan kepalanya setiap ada pengembara yang melintas. 


Kriyuuuuukk


Perut Elaina berbunyi tanda ia belum makan siang, sebenarnya masih ada sih camilan yang Tobi berikan kepadanya tadi tapi dia sangat ingin makanan berat. Dengan bermodalkan rasa lapar, sihir-sihir magis Elaina mengelilingi tubuhnya mulai membentuk sayap untuk dirinya lepas landas.



***


“Nona silahkan dipilih; ada ubi manis bakar madu, jagung asam manis pedas, dan juga ini adalah makanan khas Bellavere roti roll lapis gandum dengan daging babi asap. Nona dijamin pasti menyukainya,” ujar salah satu pedagang yang sedang menawari seorang Nona Naga di depannya.

Elaina melirik ke kedai itu tapi ia sangat ingin memakan makanan yang berkuah dan terasa gurih di lidah. Ia juga membayangkan kuahnya yang sangat kental dan ada potongan daging sapi khas dalam di atasnya lalu jangan lupa juga taburan daun bawang yang menambah aromatiknya.

“Ahhhh… pasti enak sekali. Dimana aku bisa menemukan kedai mie ya?” celetuk Elaina yang sudah meneteskan air liurnya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri namun hampir semuanya hanya menyajikan babi panggang, ayam goreng madu, atau bistik daging sapi. 

Elaina mulai menyusuri setiap gang di pasar itu, berharap ia dapat menemukan mie berkuah yang sesuai dengan imajinasinya.


“Maling! Maling!”

Lihat selengkapnya