Untuk Hidup yang Tidak Kita Jalani

T. Suraya
Chapter #1

Bab 1

Tidak ada yang salah dengan hidup Naya Abindra. Tidak satu hal pun. Setidaknya, tidak ada bukti yang bisa meyakinkan orang lain bahwa hidupnya sedang bermasalah.

Setiap pagi, saat sepasang matanya terbuka dari tidur panjang yang nyaris selalu tanpa mimpi, langit-langit kamar adalah hal pertama yang menyambutnya. Pandangannya akan mengikuti alur retakan tipis dan bercak bekas rembesan air yang sudah bertahun-tahun menetap di sana. Setiap hari pula ia membatin harus membersihkannya jika ada waktu luang—sebuah rencana yang tak pernah mewujud sejak ia menempati rumah ini dua tahun lalu.

Ketika melirik jam weker di atas nakas, jarum jam selalu menunjukkan angka yang sama: kurang tiga belas menit sebelum alarm pukul lima subuh berdering. Tubuhnya entah bagaimana selalu bekerja lebih presisi ketimbang mesin jam tersebut.

Naya menyibak selimut, duduk di tepi ranjang, dan membiarkan matanya beradaptasi dengan semburat cahaya pucat yang menyusup lewat celah gorden. Di samping jam weker, segelas air putih berpenutup plastik dan sebuah kotak obat plastik sudah menunggu. Tanpa perlu berpikir, jemarinya bergerak tangkas mengambil dua tablet putih dan satu kapsul merah-hati. Ia menenggaknya dalam sekali gerakan yang sudah menjadi refleks, membilas rasa pahit di pangkal lidah dengan air hingga tuntas.

Sambil mengikat rambut sebahunya yang kusut, Naya meraih ponsel di balik bantal, memeriksa rentetan notifikasi sekilas, lalu beranjak ke kamar mandi. Saat membasuh muka dengan air dingin dan mendongak menatap cermin, ia mendapati dirinya termangu.

Ia berhadapan dengan pantulan wajahnya sendiri. Atau setidaknya, wajah yang tertulis di kartu identitasnya.

Ada rasa asing yang ganjil setiap kali ia menatap cermin. Perempuan di balik kaca itu tampak terlalu rupawan untuk seseorang yang ia kenal seumur hidup; garis wajahnya lembut, kulitnya putih pucat, dengan sepasang mata yang menyiratkan kedalaman yang tak ia pahami. Seolah-olah kecantikan itu adalah topeng pinjaman yang kebetulan melekat sempurna di tubuhnya.

*

Beberapa jam kemudian, Naya sudah tenggelam dalam ritme kerjanya.

Aroma kopi dan ketukan jemari pada kibor menjadi ritme konstan hidup Naya beberapa tahun terakhir. Sebagai auditor laboratorium lepas untuk sebuah lembaga sertifikasi yang berbasis di Singapura, rumah keduanya adalah kafe-kafe tenang yang luput dari radar anak muda. Pagi ini, ia memilih menyudut di kafe langganannya di kawasan Taman Siswa, mengabaikan sea salt butterscotch latte yang mulai mendingin demi memeriksa lembar-lembar dokumen digital di layar laptop.

Lihat selengkapnya