Untuk Hidup yang Tidak Kita Jalani

T. Suraya
Chapter #2

Bab 2

Arei tertegun mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Kopi ditangannya yang menetesken embun membuatnya beringsut mencari tissue dari balik kemasan take away yang tadi dibawanya. Semenjak keluar dari kafe di kawasan tamsis kepalanya mendadak terasa kosong. Hatinya masih ragu dengan keputusannya untuk tidak melanjutkan tanya pada gadis yang ia yakini adalah Naya Abindra. Seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya tiga hingga empat tahun yang lalu. Keraguannya pantas mendapat tempat di pojok kepalanya, ketika nama yang ia gunakan benar melekat pada gadis familiar yang asing itu. Terbukti ketiga dirinya memanggil, gadis itu sadar namanya adalah Naya.

Apakah mungkin hanya sebuah kebetulan akan adanya orang lain dengan nama dan wajah serupa? Tidak. Itu mustahil.

Ia menyandarkan kepala pada kursi penumpang seat belakang taksi yang kini mengantarkannya ke hotel tempatnya akan menginap malam nanti. Tidak terlalu memperhatikan jalan-jalan yang bergeser di luar mobil dan lalu lintas padat di kawasan Tugu Jogja yang lewat disekitarnya. Bahkan, ia sama sekali lupa dengan pesan istrinya yang memintanya untuk mampir membeli bakpia di kawasan tersebut. Pikirannya benar-benar kacau.

Ketika taksi berbelok ke dalam pelataran hotel dan berhenti di depan Lobby, barulah ia sadar dirinya harus bergegas turun. Mengemasi tas kerjanya yang berisi laptop dan berbagai gawai, ia mencangklongkannya di bahu kiri sambil menyambar gelas take away kopi yang dibelinya barusan. Membiarkan driver menurunkan kopernya dari bagasi, Arei masih tertegun sebelum akhirnya turun dari pintu kanan mobil dan menyeret kopernya menuju lobby. Ia bahkan lupa mengucapkan terima kasih pada driver taksi online yang membawanya.

Aroma parfum ruangan mahal menyambutnya ketika kakinya menyentuh lantai utama lobby hotel itu. Deretan vas bunga dan ornamen-ornamen menghiasi hotel dengan detail yang membuatnya tampak seperti berasal dari zona waktu yang berbeda. Sofa-sofa nyaman ditata apik mengelilingi sitting area dengan kandelir-kandelir rendah yang menambahkan kesan homey pada ruang luas tersebut.

Seorang resepsionis menyambutnya dari balik meja tinggi. Ia menyebutkan namanya. Dan pikirannya kembali mengembara. Saat pegawai hotel itu menyerahkan kunci kamar dan menjelaskan ketentuan-ketentuan inapnya, Arei hanya mengangguk tanpa memahami satu kata pun.

“Selamat beristirahat, bapak!”

“Terima kasih!”

Ia segera menyeret kopernya di atas lantai berkarpet tebal yang menghampar di seluruh lobby. Matanya mencari lift dan melangkahkan kakinya ke pojok tersebut. Menekan tombol lift dan menunggu denting tanda, ia menatap layar digital yang bergerak di atas pintu utama lift. Tak sabar menunggu. Tangannya memainkan gelas yang semakin basah, sesekali ia menyeruput es kopinya dengan malas. Semenit kemudian, pintu lift di depannya membuka lebar. Menampakkan ruang kosong. Kakinya melangkah masuk sambil menyeret koper kecilnya kedalam. Ujung jarinya menekan lantai tujuan, membiarkan pintu menutup dan lift bergerak perlahan.

Arei menyandarkan tubuhnya di dinding lift. Satu tangan memegang kopi. Sedang tangan lainnya mengusap wajah dengan lelah. Ribuan pikiran kini berkecamuk dalam kepalanya dan ia merasa ingin segera menemukan jawab. Siapa gadis itu??

Bunyi ding pelan menandakan lift telah sampai di lantai yang ia tuju. Buru-buru Arei menarik barang bawaannya menuju pintu kamar yang akan ia tempati. Mengesekkan kartu kamarnya pelan dan mendorong pintunya. Menemukan kamar luas nyaman yang bernuansa modern. Ia tak sempat melihat-lihat kamarnya, karena begitu menutup pintu, dirinya segera menghenyakkan badan di kursi kerja yang ada di samping tempat tidur. Buru-buru mencari tabletnya, dan membuka sistem kantornya. Ia mencari data pegawai dan mengetikkan nama disana.

Naya Abindra.

Informasi segera keluar bahwa pegawai tersebut telah resign sekitar 2.5 tahun lalu. Ia menyadari betul status ini. Sebab dirinya lah yang dulu menjadi supervisor gadis itu. Matanya mencari detail informasi kontak pribadi yang tercantum di sana.

Alamat domsili yamg tertulis adalah alamat Naya ketika tinggal di Jakarta. Tak ada satu informasipun yang menunjukkan gadis itu memiliki domisili tambahan di Jogja. Kini ia berpindah menyusuri kontak email dan nomer telepon. Sementara matanya fokus melihat data-data itu, tangan kirinya sibuk mencari telepon genggam yang ada dalam saku celananya. Mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan nomer yang tercantum disana. Kontak lama Naya muncul tapi ia bergumam kesal sebab ia tahu kontak telepon itu telah lama mati dan tak bisa digunakan.

Sekilas, muncul ide liar dalam kepalanya untuk kembali ke kafe tadi dan memaksa gadis itu menjawab puluhan tanya darinya. Tapi, ia menahan diri dan berakhir dengan menyandarkan kepala di atas tangannya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara apa pun selain dengung pendingin ruangan.

Arei memejamkan mata. Jemarinya masih menggenggam telepon genggam, sementara layar tablet di hadapannya tetap menampilkan nama yang sejak sore tadi mengusik seluruh isi kepalanya.

Naya Abindra.

Dua tahun enam bulan.

Ia tahu persis angka itu.

Bukan karena ia sengaja mengingatnya, melainkan karena selama berbulan-bulan setelah Naya menghilang, ia berkali-kali membuka data yang sama. Mencari sesuatu yang mungkin terlewat. Sebuah petunjuk kecil. Alasan. Apa pun. Status yang tertulis di sana tetap sama.

Resigned.

Sesederhana itu.

 

Arei mengingat minggu ketika Naya tiba-tiba tidak masuk kerja. Hari pertama, ia mengira gadis itu sakit. Hari kedua, ia mulai merasa aneh karena pesan yang dikirimnya hanya centang satu. Hari ketiga, HR menghubunginya dan memberitahukan bahwa Naya telah mengajukan pengunduran diri.

Bukan kepadanya.

Bukan kepada tim.

Bahkan bukan melalui percakapan.

Lihat selengkapnya