Rumah peninggalan ibunya itu berdiri di salah satu sudut Desa Wisata Tembi, Bantul—di antara deretan homestay baru yang tumbuh rapi dan seragam, seolah semuanya dibangun dari cetakan yang sama. Dinding-dinding putih bersih, kaca lebar, dan halaman yang ditata secukupnya untuk tampak ramah bagi siapa pun yang datang dan pergi tanpa benar-benar tinggal.
Rumah Naya tidak seperti itu.
Bangunannya lebih tua, dengan proporsi yang terasa berbeda sejak pandangan pertama. Dindingnya tebal, dilapisi plester yang mulai mengelupas di beberapa bagian, memperlihatkan lapisan semen yang lebih gelap di bawahnya. Warna putihnya tidak lagi terang, melainkan kusam dengan semburat kekuningan yang tidak pernah benar-benar hilang, bahkan setelah beberapa kali dicat ulang.
Pintu utamanya tinggi, lebih tinggi dari yang diperlukan, dengan daun pintu kayu jati yang berat dan sedikit melengkung di bagian bawah karena usia. Engselnya mengeluarkan bunyi panjang setiap kali dibuka, suara yang tidak pernah sepenuhnya bisa dihilangkan. Di atas pintu, terdapat ventilasi dengan kisi-kisi kayu yang tersusun rapat, membiarkan udara masuk tanpa benar-benar membuka pandangan ke dalam.
Jendela-jendelanya besar, berjajar simetris di kedua sisi rumah. Bingkainya kayu tua dengan lapisan cat yang retak halus, dan daun jendela yang bisa dibuka keluar. Sebagian masih berfungsi dengan baik, sebagian lain perlu sedikit tenaga untuk didorong, seolah menolak bergerak terlalu sering.
Langit-langit di dalam rumah tinggi, ditopang balok-balok kayu gelap yang masih kokoh, meski menyimpan jejak usia di setiap sudutnya. Udara di dalam selalu terasa sedikit lebih sejuk, bahkan tanpa pendingin, seolah rumah itu masih menyimpan cara lamanya sendiri untuk bertahan dari panas.
Lantainya menggunakan marmer batu lama yang menyimpan dingin, pola-pola geometris yang mulai pudar di beberapa bagian, terutama di area yang sering dilalui. Di sudut-sudut tertentu, warna aslinya masih terlihat lebih jelas—memberi petunjuk seperti apa rumah ini dulu, sebelum waktu berjalan terlalu jauh.
Halamannya luas, tapi tidak sepenuhnya terawat. Rumput tumbuh tidak merata, dengan beberapa bagian tanah yang dibiarkan terbuka. Pohon mangga tua berdiri di satu sisi, cabangnya menjulur ke arah atap, menjatuhkan daun-daun kering yang sering tersangkut di talang.
Di sekelilingnya, rumah-rumah baru terus bermunculan.
Lebih kecil, lebih praktis, lebih mudah dijual.
Beberapa orang pernah datang, menawarkan harga yang cukup untuk membuat rumah itu berubah menjadi sesuatu yang lain—homestay, bed and breakfast, atau sekadar properti yang lebih “menguntungkan”. Mereka berbicara tentang potensi, tentang lokasi, tentang bagaimana bangunan tua seperti ini bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih menarik bagi orang luar.
Naya tidak pernah benar-benar menolak.
Ia hanya tidak pernah menjawab dengan pasti.
*
Mungkin banyak yang akan bertanya mengapa Naya tinggal bersama Farha—sepupunya, yang usianya justru beberapa bulan lebih muda darinya.
Farha Adikara adalah anak lelaki tunggal dari adik ibunya, satu-satunya keluarga dari pihak ibu yang masih cukup dekat sejak ibunya wafat beberapa tahun silam. Tante Lisa dan Om Wijaya tinggal di Semarang. Mereka tidak sering bertemu, tapi masih menjaga kebiasaan bertukar kabar, cukup untuk memastikan satu sama lain tetap baik-baik saja.
Keputusan Farha untuk pindah ke Bantul datang lebih dulu.
Begitu ia diterima sebagai dosen di sebuah kampus seni, rumah lama milik ibu Naya—yang saat itu sudah kosong selama beberapa tahun—menjadi pilihan paling masuk akal. Tidak perlu mencari tempat baru, tidak perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang asing. Rumah itu sudah ada, dan kebetulan tidak dihuni.
Farha pindah ke sana empat tahun lalu.
Dua tahun setelahnya, Naya menyusul.
Tidak ada percakapan panjang tentang itu. Tidak ada kesepakatan yang benar-benar dirumuskan. Perpindahan itu terjadi seperti banyak hal lain dalam hidup mereka—tanpa banyak penjelasan, seolah memang sudah mengarah ke sana sejak awal.
Rumah itu sendiri berada di lokasi yang terlalu strategis untuk dibiarkan kosong terlalu lama. Tidak jauh dari kampus tempat Farha mengajar, berada di lingkungan yang masih menyisakan ruang hijau dan ketenangan yang semakin jarang ditemukan di Bantul. Jalanannya tidak terlalu ramai, cukup jauh dari pusat keramaian, tapi tidak benar-benar terisolasi.
Bagi Farha, itu lebih dari cukup.
Sebagai dosen muda, penghasilannya tidak buruk, tapi juga belum cukup untuk memberi ruang berlebih. Tinggal di rumah itu bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga soal bertahan dengan cara yang lebih masuk akal—memotong biaya sewa, menghindari kebutuhan yang tidak perlu, dan menjaga hidup tetap berjalan tanpa tekanan yang tidak harus ada.
Dan bagi Naya, rumah itu tidak pernah benar-benar terasa kosong. Hanya… terlalu luas untuk ditempati sendirian.
*
Farha meletakkan sepiring nasi goreng di depan Naya yang sejak tadi hanya mengudap potongan-potongan buah dari mangkuk kecil di hadapannya. Sesekali gadis itu mencelupkan potongan pir ke dalam yogurt cup yang sudah hampir habis, lalu mengunyahnya perlahan sambil memandangi halaman belakang rumah yang tampak gelap dari balik pintu kaca dapur. Aroma bawang putih dan kecap yang masih menguar dari wajan memenuhi ruangan. Suara spatula yang sesekali beradu dengan permukaan logam dan gemericik air keran menjadi latar yang begitu biasa bagi mereka berdua.
Sejak Naya tinggal di rumah itu hampir dua tahun lalu, dapur kecil milik Farha memang lebih sering hidup pada malam hari. Mereka jarang makan di luar kecuali sedang terlalu lelah untuk memasak. Selebihnya, salah satu dari mereka akan membuat sesuatu yang sederhana. Dan jika tiba giliran Farha, hampir dapat dipastikan nasi goreng yang akan muncul di meja makan.
“Telur?” tanya Farha sambil mengangsurkan piring berisi beberapa telur ceplok dengan pinggiran yang renyah kecokelatan.
Naya menggeleng. Ia masih sibuk mengunyah potongan pir yang ternyata lebih asam daripada yang ia perkirakan.
“Nggak. Kamu aja.”
Farha mengangkat bahu. Ia membawa wajan dan spatula ke wastafel, membuka keran, lalu mencuci peralatan masaknya dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa. Setelah selesai, ia mengeringkan tangannya dengan tisu dapur, mengambil sendok dan garpu, kemudian duduk di kursi di seberang Naya.
Untuk beberapa saat, hanya ada suara sendok yang beradu pelan dengan piring.
“Fa...”
Farha yang baru saja menyendok nasi goreng mengangkat wajahnya. “Hm?”
Naya menatap sendok di tangannya beberapa detik, seolah sedang memastikan apakah yang ingin ia ceritakan memang pantas diceritakan.
“Tadi sore ada orang nyapa aku di kafe.”
Farha memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. “Oh ya?”
“Iya.”
“Kenalan baru?”
Naya menggeleng pelan.
“Nggak. Justru itu aneh.” Ia mengerutkan dahi, berusaha mengingat kembali kejadian yang sejak tadi mengganggu pikirannya. “Dia manggil aku pakai nama lengkap.”