Untuk Hidup yang Tidak Kita Jalani

T. Suraya
Chapter #4

Bab 4

Arei merasa bodoh.

Tidak, mungkin lebih tepatnya memalukan.

Sejak pagi tadi, setelah menyelesaikan rapat evaluasi dengan direktur cabang laboratorium di Yogyakarta, ia sudah berulang kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa apa yang akan dilakukannya setelah ini adalah tindakan yang tidak masuk akal. Ia bahkan menolak ajakan dua orang rekan kerjanya untuk makan malam bersama di Malioboro dengan alasan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di hotel. Padahal, sejak rapat berakhir, pikirannya hanya menuju satu tempat.

Kafe di kawasan Taman Siswa. Kafe tempat ia bertemu Naya kemarin.

Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ingin ia cari. Penjelasan? Kepastian? Atau sekadar kesempatan untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya kemarin bukanlah hasil dari kelelahan dan ingatan yang terlalu lama tidak disentuh.

Yang ia tahu hanyalah bahwa sejak meninggalkan kafe itu kemarin sore, ada sesuatu dalam dirinya yang menolak berhenti bertanya.

Begitu mendorong pintu kaca dan menginjakkan kaki ke dalam ruangan, Arei langsung mengedarkan pandangannya. Matanya bergerak cepat, hampir refleks, menyusuri setiap meja yang terisi. Sekelompok mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas. Dua orang perempuan yang sibuk mengobrol sambil sesekali tertawa. Seorang laki-laki paruh baya yang tampaknya sedang menghadiri rapat daring. Beberapa orang lain yang duduk sendiri dengan laptop dan headphone masing-masing.

Tidak ada.

Ia mencoba lagi.

Meja dekat jendela. Area semi outdoor. Sudut ruangan yang kemarin ditempati Naya.

Tetap tidak ada.

Perasaan kecewa yang muncul membuatnya merasa semakin bodoh.

Apa yang sebenarnya ia harapkan? Bahwa seorang perempuan yang telah hilang dari hidupnya selama dua setengah tahun akan muncul lagi di tempat yang sama, pada jam yang sama, hanya agar ia mendapat kesempatan kedua untuk mengajukan pertanyaan yang kemarin tidak sempat ia tanyakan?

Arei mengembuskan napas pelan dan memaksa dirinya berjalan menuju konter.

Barista yang berjaga kali ini bukan orang yang kemarin melayani pesanannya. Seorang laki-laki muda dengan apron cokelat dan senyum profesional menyapanya.

“Mau pesan apa, Kak?”

“Ice americano. Sama sourdough cream cheese.”

“Untuk dine in?”

Arei mengangguk.

Ia menempelkan kartu kreditnya pada mesin EDC. Bunyi bip singkat terdengar sebelum transaksi dinyatakan berhasil. Setelah menerima nomor meja, ia berdiri beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.

Ini kesempatanmu.

Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalanya.

Tanyakan saja.

Apakah ada pelanggan bernama Naya yang sering datang ke sini?

Kalimat itu sudah hampir mencapai ujung lidahnya. Namun, saat membayangkan bagaimana dirinya akan terdengar di telinga orang lain, ia langsung mengurungkan niat.

Seorang laki-laki berusia tiga puluh tujuh tahun yang datang sendirian ke sebuah kafe dan bertanya tentang seorang perempuan yang tidak dikenalnya secara resmi selama lebih dari dua tahun.

Ya Tuhan.

Ia benar-benar terdengar seperti penguntit.

“Terima kasih,” ujarnya singkat sambil mengambil nomor meja.

Barista itu tersenyum sopan.

“Sama-sama.”

Arei berjalan menuju bagian dalam kafe. Memilih sebuah kursi di sudut ruangan yang cukup tersembunyi, tetapi masih memberinya pandangan leluasa ke sebagian besar area. Kebiasaan lama yang bahkan tidak ia sadari. Dalam pekerjaannya, ia terbiasa memilih posisi yang memungkinkannya mengamati seluruh ruangan saat rapat atau audit.

Ia meletakkan tas laptop di samping kursi, membuka kancing manset yang terasa terlalu ketat, lalu menyandarkan tubuhnya.

Suasana kafe mulai ramai.

Suara mesin espresso sesekali mendesis. Percakapan-percakapan kecil bercampur dengan bunyi keyboard dan denting sendok yang beradu dengan cangkir. Musik jazz pelan mengalun dari speaker tersembunyi di langit-langit ruangan.

Arei mengeluarkan laptopnya.

Jika ia memang harus terlihat seperti seseorang yang sengaja datang ke kafe untuk bekerja, setidaknya ia memang benar-benar memiliki pekerjaan.

Layar laptop menyala, menampilkan belasan tab yang tidak pernah benar-benar ia tutup. Spreadsheet validasi metode. Laporan verifikasi instrumen. Hasil uji profisiensi. Draft prosedur operasional standar yang menunggu persetujuannya.

Sebagai manajer research and development di sebuah laboratorium pengujian kimia di Jakarta, pekerjaannya memang tidak pernah benar-benar selesai. Ada ratusan parameter uji yang harus diawasi. Ratusan metode yang harus dipastikan tetap valid, tetap relevan, dan tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ia membuka sebuah laporan verifikasi metode untuk analisis logam berat menggunakan ICP-MS. Matanya membaca. Pikirannya tidak. Setelah lima menit, ia menyadari bahwa dirinya telah membaca paragraf yang sama sebanyak tiga kali tanpa memahami satu kalimat pun.

Tanpa sadar, pandangannya kembali terangkat.

Menyusuri pintu masuk.

Menunggu.

Ia menatap dirinya sendiri yang terpantul samar di layar laptop yang gelap sebagian. Arei mengakui sesuatu yang sejak tadi berusaha ia bantah. Ia tidak datang ke kafe itu untuk mencari jawaban. Ia datang karena berharap Naya akan muncul. Sayangnya, sampai jam 8 malam ketiak Arei masih berkutat dengan pekerjaannya, gadis yang diharapkannya tidak muncul sama sekali.

Ia menelan rasa kecewanya bulat-bulat. Tetapi tenggorokannya tersumbat.

*

Ingatan itu datang begitu saja.

Mungkin karena musik instrumental yang mengalun pelan di sudut kafe. Mungkin karena aroma kopi yang terlalu mirip dengan kopi yang biasa diminumnya di kantor bertahun-tahun lalu. Atau mungkin karena selama dua hari terakhir, Arei terlalu keras memaksa dirinya untuk tidak mengingat. Dan seperti banyak hal lain dalam hidupnya, justru hal-hal yang berusaha dilupakan itulah yang paling mudah kembali.

Waktu itu Naya masih pegawai baru.

Sudah hampir enam tahun berlalu, tetapi Arei masih dapat mengingat pagi itu dengan jelas. Jakarta baru saja diguyur hujan sejak subuh. Jalanan macet lebih buruk dari biasanya dan ia terlambat hampir setengah jam untuk menghadiri sesi orientasi pegawai baru yang diwajibkan untuk seluruh supervisor. Ia masih ingat bagaimana dirinya masuk ke ruang rapat di lantai delapan dengan kemeja yang sedikit lembap di bagian lengan, laptop di satu tangan, dan gelas kopi yang sudah kehilangan panasnya di tangan lain.

Ruangan itu hampir penuh. Belasan pegawai baru duduk berjajar dengan ekspresi yang serupa: gugup, berusaha tenang, atau terlalu berusaha terlihat tenang. Presentasi HR sedang berlangsung. Slide berisi visi perusahaan terpampang di layar besar. Seseorang di pojok ruangan sibuk mencatat. Yang lain mengangguk-angguk seolah memahami seluruh isi presentasi.

Lihat selengkapnya