Naya berjongkok di depan lemari pakaiannya dengan kedua lutut menempel pada lantai marmer yang dingin. Laci paling bawah sudah ia tarik sampai hampir terlepas dari relnya. Tumpukan kaus, celana, dan sweater yang biasanya tersusun rapi kini berserakan di sekelilingnya. Beberapa hanger terjatuh dari gantungannya dan menggelinding hingga ke bawah tempat tidur. Ia bahkan sudah membuka kotak-kotak penyimpanan sepatu yang selama ini disimpan di bagian paling bawah lemari, membongkar isinya satu per satu, lalu membiarkannya tetap terbuka ketika tak menemukan apa yang dicari.
Masalahnya, ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia cari.
Sesekali tangannya meraba dasar laci, menyentuh permukaan kayu yang dingin, seolah berharap ada sesuatu yang terselip di sudut yang tak terlihat. Sesuatu yang mungkin pernah ia simpan dengan sengaja. Sesuatu yang entah mengapa sejak sore tadi terasa pernah ia miliki.
Kamar Naya berantakan.
Pintu-pintu lemari terbuka lebar. Laci meja kerja tertarik keluar. Sebuah kotak kayu kecil berisi aksesori terbalik di atas kasur. Buku-buku catatan yang biasanya berjajar rapi di rak kini bertumpuk sembarangan di lantai. Bahkan tas-tas lama yang sudah bertahun-tahun tak digunakan telah ia kosongkan, berharap menemukan sesuatu yang tidak dapat ia beri nama.
Ia berhenti sejenak. Duduk di lantai sambil memandangi kekacauan yang diciptakannya sendiri.
Sore tadi seharusnya menyenangkan.
Farha mengajaknya pergi ke sebuah museum seni independen di kawasan Kaliurang. Katanya, ia membutuhkan teman untuk survei proyek instalasi yang sedang ia rancang sekaligus mencari inspirasi untuk materi perkuliahan semester depan. Naya tidak terlalu memikirkan ajakan itu. Lagipula, sesekali tidak pergi bekerja di kafe bukanlah masalah besar.
Mereka menghabiskan hampir tiga jam di sana.
Naya sebenarnya tidak terlalu memahami seni rupa kontemporer. Banyak instalasi yang menurutnya terlalu abstrak untuk dipahami. Namun, ada satu ruang pamer yang membuatnya berhenti lebih lama dari yang ia sadari.
Ruangan itu gelap.
Hanya ada lampu-lampu kecil yang menggantung dari langit-langit, menerangi ratusan foto hitam putih yang dibiarkan melayang menggunakan benang-benang tipis. Wajah-wajah asing memenuhi ruangan. Ada anak-anak, orang tua, pasangan, orang-orang yang tersenyum, orang-orang yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
Saat itu, entah bagaimana, Naya merasa pernah berada di tempat seperti itu.
Bahwa ia pernah berdiri di suatu tempat bersama seseorang. Berjalan pelan. Berhenti di depan sebuah karya. Mendengarkan seseorang berbicara di sampingnya.
Seorang laki-laki.
Ia tidak dapat melihat wajahnya.
Tidak dapat mendengar suaranya dengan jelas.
Perasaan itu terus mengikutinya hingga mereka pulang. Menempel seperti bau hujan yang tertinggal di pakaian. Semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin ia merasa ada sesuatu yang seharusnya ia ingat.
Sesuatu yang hilang.
Sesuatu yang pernah menjadi miliknya.
Dan entah mengapa, ia yakin benda itu ada di rumah ini.
Maka sejak satu jam lalu, ia membongkar semuanya.
“Nay?”
Suara Farha membuatnya menoleh.
Lelaki itu berdiri di ambang pintu kamar dengan segelas air di tangan. Rambutnya masih sedikit basah. Kaus hitam yang dikenakannya kusut di bagian dada, seolah ia baru saja bangkit dari sofa ruang tengah. Namun, ekspresi yang muncul di wajahnya segera berubah ketika melihat keadaan kamar.
Ia memandang tumpukan pakaian di lantai. Laci-laci yang terbuka. Buku-buku yang berhamburan.
“Naya,” katanya pelan. “Kamu lagi ngapain?”
Naya menatap kamar yang berantakan itu seolah baru menyadarinya.
“Aku lagi nyari sesuatu.”
Farha masuk beberapa langkah. Gelas yang dibawanya diletakkan di atas meja kerja yang nyaris tidak menyisakan ruang kosong.
“Cari apa?”
Naya membuka mulut.
Pertanyaan itu seharusnya mudah dijawab.
Namun, ia benar-benar tidak tahu.
Ia menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri yang masih berdebu karena mengaduk isi lemari.
“Aku nggak tahu.”
Farha tidak langsung menjawab.
“Apa maksudnya nggak tahu?”
Naya menarik napas panjang. Ia mengangkat wajah dan menatap sepupunya.