Bab 6
Pagi itu, Naya membuka mata tepat ketika adzan subuh berkumandang dari masjid dekat rumah. Ia memandang langit-langit kamarnya yang remang-remang karena hanya memakai lampu tidur kecil menyala di ujung kamar. Dia otomatis mengulurkan tangan ke arah nakas di samping tempat tidurnya, mencari kotak obat yang biasanya tersimpan disana. Mengambil obat untuk pagi itu dan menelannya dengen seteguk air mineral yang telah dia siapkan semalam.
Tidurnya tidak nyenyak.
Ia menatap sekeliling kamarnya dan menyadari betapa berantakan kamarnya pagi ini, akibat dari respon impulsifnya malam tadi. Baju-baju berserakan hampir menutupi seluruh lantai kamarnya, dan ia mengerang. Apa sih yang dipikirkannya semalam? Membongkar lemari-lemari yang harusnya rapih dan membuat kamarnya seperti kapal pecah seperti ini?
Ia segera mengetik pesan singkat pada Mbak Aminah, wanita paruh baya yang selama ini membantu ia dan Farha merawat rumah, dan memintanya datang pagi ini untuk membantu membereskan kekacauan kamarnya. Wanita itu seirng datang seminggu 2 hingga tiga kali untuk bersih-bersih dan beres-beres. Pekerjaan yang tak mungkin dilakukan oleh mereka berdua.
Naya menggeliat pelan di kasurnya, membuang kantuk yang mungkin masih tersimpan. Lalu mendadak, ia bangkit dari tempat tidurnya. Menghampiri lemari buku yang semalam tidak tersentuh. Tangannya dengan otomatis meraih sebuah buku tebal bersampul biru, karya salah satu pengarang indonesia masa lampau. Pramoedya Ananta Toer: Bumi Manusia.
Entah kenapa ia membuka novel yang sudah lama ia tamatkan tersebut, membolak-balik isinya. Menysuri kata-demi kata yang tersusun dalam novel tebal tersebut. Tangannya tanpa sadar membuka di halaman tertentu dan disanalah ia menemukan selembar kertas tipis yang mungkin dulu ia gunakan untuk pembatas buku. Sebuah kertas yang tampaknya di sobek dari halaman buku memo seseorang. Ia membalik kertas itu dan menemukan pesan pendek yang membuat perutnya menegang seketika
Naya,
Aku titipin kunci apartemenmu di resepsionis.
Tolong jangan lupa makan malam. Dan berhenti tidur di sofa kalau nanti lembur.
— Arei
Nama itu, Arei. Benar-benar ada jejaknya dalam kehidupannya. Ia yakin sekarang bahwa laki-laki yang beberapa hari bertemu dengan tidak sengaja di kafe itu memang mengenalnya.
Naya menatap tulisan tangan itu sampai huruf-hurufnya mulai tampak kabur.
Laki-laki di kafe itu. Tatapan bingungnya sendiri. Cara laki-laki itu memanggil namanya. Cara ia bertanya, “Aku Arei... kamu ingat?”
Naya merasakan sesuatu yang lebih menakutkan daripada kehilangan sesuatu. Kemungkinan bahwa laki-laki itu mengatakan yang sebenarnya. Bahwa pernah ada masa ketika seseorang bernama Arei bukanlah orang asing dalam hidupnya.
*
Naya melepaskan earphone dari kedua telinganya dan membiarkannya tergeletak di samping laptop. Ia baru saja menyelesaikan sesi audit jarak jauh dengan sebuah laboratorium pengujian di Kalimantan. Hampir empat jam ia duduk di posisi yang sama, berpindah dari satu dokumen ke dokumen lain, menjelaskan temuan, mendengarkan pembelaan, lalu kembali memeriksa klausul dan prosedur yang seharusnya sudah dipahami semua orang di ruangan virtual itu.
Telinganya terasa panas.
Ia memijat pangkal hidungnya pelan sambil memejamkan mata beberapa detik. Dari luar ruang kerja kafe, suara mesin kopi berdesis. Seseorang tertawa. Sebuah kursi digeser. Siang di Taman Siswa berjalan seperti biasa.
Tidak dengan kepalanya.
Sepanjang audit tadi, pikirannya berkali-kali melayang pada selembar kertas yang kini tersimpan di dalam dompetnya. Kertas tipis yang ditemukan di sela-sela halaman Bumi Manusia pagi tadi. Kertas dengan tulisan tangan yang sejak siang tidak berhasil ia singkirkan dari kepalanya.
Di layar laptop, seorang auditor sedang menjelaskan ketidaksesuaian minor pada prosedur pengendalian mutu. Naya mendengarkan, mencatat, lalu sesekali memberikan tanggapan seperlunya. Namun, di sela-sela percakapan yang berlangsung hampir empat jam itu, pikirannya kembali pada kalimat-kalimat pendek yang ditulis seseorang bernama Arei.
Tolong jangan lupa makan malam.
Kalimat itu begitu sederhana.
Justru karena kesederhanaannya, Naya tidak mampu mengabaikannya.
Ia baru menyadari bahwa perutnya kosong ketika suara terakhir dari rapat daring itu menghilang dan layar laptop kembali menampilkan pantulan wajahnya sendiri. Perutnya berkeruyuk pelan, seolah baru mengingat bahwa ia telah melewatkan jam makan siang beberapa jam lalu.
Naya melepaskan earphone dari kedua telinganya. Bagian belakang telinganya terasa panas setelah terlalu lama tertutup. Ia menyandarkan tubuh ke kursi, memejamkan mata beberapa saat, lalu mengembuskan napas panjang.
Kafe siang itu lebih ramai daripada biasanya.
Beberapa meja di dekat jendela dipenuhi mahasiswa yang baru selesai kuliah. Di sudut ruangan, seorang laki-laki paruh baya sedang berbicara melalui telepon sambil sesekali melihat layar tabletnya. Musik instrumental yang mengalun pelan bercampur dengan suara mesin espresso dan denting gelas dari balik konter.
Naya meraih ponselnya dari dalam tas.
Ia seharusnya makan.
Atau setidaknya memasukkan sesuatu ke perutnya sebelum migrainnya kambuh karena telat makan.
Ia berdiri. Meregangkan bahu dan punggung yang terasa kaku setelah berjam-jam duduk di posisi yang sama. Lalu melangkah menuju konter.
Dan seperti kebanyakan hari lainnya, Dava sedang berjaga.
“Hai, Kak Naya.”
Laki-laki itu mengangkat wajah begitu melihatnya mendekat. Senyumnya masih sama seperti biasanya. Ringan dan ramah.
“Mau pesan makan siang?”
Naya menggeleng pelan sambil menunduk melihat etalase pastry di samping konter. “Enggak deh. Ada apple pie nggak?”
Dava ikut menoleh.”Hmm...” Ia mengerutkan dahi. “Habis, Kak.”
Naya mendesah kecil. “Ya udah. Waffle aja deh. Pakai topping cokelat.”
“Oke.” Jemari Dava mulai bergerak di layar kasir. “Ada tambahan lagi?”
Naya terkekeh pelan.
Kebiasaan Dava menawarkan tambahan pesanan sudah menjadi ritual kecil yang hampir selalu terjadi setiap kali ia datang.
“Enggak. Itu aja.”
“Yakin?”
“Iya.”
Dava ikut tertawa.
Naya membuka aplikasi pembayaran di ponselnya, lalu memindai kode QR yang ditampilkan di layar EDC. Bunyi notifikasi pembayaran berhasil terdengar beberapa detik kemudian.
“Thank you, Kak.”