Bab 7
Farha menarik selimut hingga menutupi kedua kakinya. Entah sejak kapan kamar itu terasa lebih dingin dari biasanya. Ia mengira pendingin ruangan belum sempat disesuaikan sebelum tidur. Atau mungkin tubuhnya sendiri yang sedang tidak baik-baik saja.
Ia menggeliat pelan. Tenggorokannya kering.
Dengan enggan, ia membuka mata dan menatap langit-langit kamar yang gelap. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu teras yang masuk melalui celah gorden, membentuk bayangan samar di dinding. Ia meraba ponselnya di atas nakas.
01.13.
Besok ia harus mengajar kelas di jam siang. Setidaknya ia masih bisa tidur sampai nanti jam 9 pagi. Maka Farha mencoba memejamkan mata. Baru sedetik ia mencoba terlelap ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk dengan tergesa.
Naya.
Kantuk di mata Farha hilang seketika. Ia bahkan hampir melompat ketika bangun dari tempat tidurnya. Membuka pintu kamar, dan menemukan sepupunya itu berdiri di depan kamarnya dengan tangan mendekap buku bersampul biru. Wajah Naya kusut. Jelas gadis itu belum tidur sejak tadi. Gaun tidurnya melorot sedikit di bagian bahu kiri, menampakkan bahunya yang kurus dan pucat.
“Ada apa Nay?”
Naya tidak menjawab, ia justru menyorongkan buku ke hadapannya.
Farha kebingungan dengan apa yang dilakukan sepupunya itu. Ia mengernyit, mencoba memahami maksudnya. Gadis itu kembali merebut buku Bumi Manusia yang dipegang Farha. Membuka beberapa halamannya dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah menguning di ujung-ujungnya.
Naya menyerahkan kertas itu dengan tatapan mata nanar.
“Aku nemuin ini. Di buku itu. Dan aku nggak ingat sama sekali.”
Farha menerima kertas kusut berwarna kekuningan itu dan membaca pesan yang dituliskan dengan pena yang sediit memudar. Ia terbelalak.
“Naya…ini…”
“Terus, tadi sore Dava ngasih aku ini. Ada orang yang menitipkannya di kafe buat aku.” Naya mengeluarkan kartu nama yang sedari tadi ada dalam genggamannya.
Farha menundukkan kepala. Tentu saja. Laki-laki itu tidak berhenti mencari.
“Dia datang lagi ke kafe, Fa” Naya menatap Farha tanpa berkedip. “Dia nyari aku.” Bukan pertanyaan. Sebuah kesimpulan.
“Nggak mungkin orang asing nitip kartu nama ke barista.” Suaranya mulai pecah. “Nggak mungkin orang asing tahu aku suka tidur di sofa kalau lembur.”
Farha menggenggam kartu nama itu lebih erat. Ia ingin mengatakan sesuatu. Apa saja. Namun, semua kalimat yang selama ini disusunnya di dalam kepala mendadak terasa tidak berguna.
“Aku kenal dia, ya?”
Pertanyaan itu melayang di antara mereka.
Rumah itu begitu sunyi hingga Farha dapat mendengar dengung pendingin ruangan dari kamar sebelah.
Ia memandang Naya.
Perempuan yang dua tahun lalu membuka mata di sebuah kamar rumah sakit dan tidak mengenali dirinya sendiri. Perempuan yang selama dua tahun terakhir telah berusaha membangun hidup baru di atas reruntuhan yang bahkan tidak diingatnya.
“Aku kenal dia, ya, Fa?”
Kali ini Naya tidak terdengar marah. Ia terdengar takut. Karena itulah, Farha tidak sanggup lagi memandangnya. Ia menundukkan kepala. Lalu, hampir seperti seseorang yang sedang memohon agar waktu berhenti bergerak, ia bertanya pelan,
“Naya...”
Farha mengangkat wajah. Entah sejak kapan tengkuknya terasa begitu berat.
“Kalau aku jawab, kamu yakin mau tahu?”
Naya menatapnya. Matanya yang sejak tadi tampak kering kini mulai berkilat oleh sesuatu yang ditahannya mati-matian.
“Aku harus tahu, Fa.”
Suaranya pelan. Namun, justru karena itu, Farha tahu bahwa ia tidak sedang meminta.
Ia sedang bertahan.
“Aku harus tahu siapa orang ini.” Naya mengangkat kartu nama dan memo yang sedari tadi digenggamnya terlalu erat. Kertas itu sedikit kusut di ujung-ujungnya. “Aku nggak bisa tidur sejak tadi. Aku udah minum dua dosis, tapi aku tetap nggak bisa tidur. Aku...” Napasnya tersendat. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan. “Aku nggak tahu apa yang terjadi sama aku.”
Farha tidak menjawab.
Ia hanya memandang sepupunya.
Perempuan yang selama dua tahun terakhir selalu berusaha tampak baik-baik saja. Yang belajar tersenyum lagi. Belajar bekerja lagi. Belajar membangun hidup baru dari sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar ia pahami.
Dan sekarang, di depan pintu kamarnya, pada pukul satu dini hari, semua ketenangan yang dibangun dengan susah payah itu tampak retak.
“Kepalaku rasanya mau pecah, Fa.”
Suara Naya mengecil.
“Aku takut.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa pertahanan.
Tanpa usaha untuk terdengar kuat.
Dan malam itu, Farha melihat getaran kecil yang sejak tadi menjalari tubuh Naya. Bukan karena dingin. Bukan pula karena kurang tidur.
Melainkan karena ia sedang berdiri di tepi sesuatu yang tidak dikenalnya.
Naya memejamkan mata.
Satu tarikan napas.
Dua.
Lalu, seolah ada sesuatu yang akhirnya runtuh di dalam dirinya, air mata mulai mengalir dari sudut matanya.
Pelan.
Hampir tidak terdengar.
Namun, begitu air mata pertama jatuh, yang lain mengikuti.
“Aku nggak ngerti...” Suaranya pecah. “Aku nggak ngerti kenapa aku nggak ingat siapa dia.”
Farha merasakan sesuatu yang tajam menghantam dadanya.
Naya jarang menangis.
Bahkan ketika pertama kali pulang dari rumah sakit. Bahkan ketika harus menerima bahwa ada bagian dari hidupnya yang tidak akan pernah bisa ia ceritakan sendiri. Bahkan ketika malam-malam panjang itu datang dan ia terbangun sambil bertanya kenapa dadanya terasa sakit padahal tidak ada yang terjadi.
Tetapi malam ini, ia menangis.
Dan Farha tahu, bukan karena ia menemukan nama seseorang.
Melainkan karena Naya menyadari bahwa ada bagian dari dirinya yang benar-benar hilang.
“Nay...” Suara Farha nyaris tidak keluar.
Naya menggeleng cepat.
“Aku takut, Fa.” Ia menunduk, menggenggam memo dan kartu nama itu sampai jemarinya memutih. “Kalau dia benar-benar mengenal aku, berarti ada kehidupan yang pernah aku jalani dan aku sama sekali nggak ingat. Gimana kalau ternyata aku...” Ia berhenti. Napasnya bergetar. “Gimana kalau ternyata aku pernah jadi orang yang sama sekali nggak aku kenal sekarang?”
Kalimat itu menghantam Farha lebih keras daripada yang ingin diakuinya.
Karena ia tahu jawabannya.
Ia tahu persis perempuan seperti apa Naya sebelum semua itu terjadi.
Ia tahu siapa yang menemani Naya pulang ketika lembur. Siapa yang memaksanya makan ketika ia lupa. Siapa yang mengetahui bahwa Naya lebih sering tertidur di sofa daripada di tempat tidurnya sendiri.
Sebelum sempat berpikir lebih jauh, Farha melangkah maju.
Ia mengambil kartu nama dan memo dari tangan Naya yang gemetar, meletakkannya di meja kecil dekat pintu, lalu menarik sepupunya ke dalam pelukannya.
Tubuh Naya dingin.