Untuk Hidup yang Tidak Kita Jalani

T. Suraya
Chapter #8

Bab 8

Bab 8

To: arei.aksara@

Naya kembali menghapus alamat email yang baru saja diketiknya.

Berulang kali Naya mengetik dan menghapus alamat email di kolom to: email pribadinya. Sementara itu tangan kirinya membolak balik kartu nama kusut yang kini warnanya sudah tidak lagi putih gading seperti beberapa hari lalu ketika pertama kali ia menerimanya. Gadis itu tengah memandang halaman tab emailnya dengan pandangan sayu. Sementara jemarinya bermain diatas tablet tipisnya yang menyala redup di tengah keheningan malam ini.

Dadanya tergelitik untuk segera menyelesaikan draft email yang sudah sejak setengah jam lalu ia mulai. Kepalanya yang berisik mendorongnya untuk memberanikan diri mengetikkan alamat email lelaki bernama Arei Aksara yang sempat menyapanya kemarin. Ada kecurigaan besar dalam diri Naya akan siapa sebenarnya lelaki itu.

Dari caranya ia menyapa Naya sejak pertama kali mereka bertatap mata, juga usahanya kembali lagi ke kafe yang sama hingga menitipkan kartu nama lewat barista benar-benar mengusik ketenangan batin Naya. Tidak mungkin orang ini hanya sekedar rekan kerja atau teman yang telah ia lupakan. Kalau memang benar, bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan isi memo yang terselip di sebuah buku lama yang ia miliki. Juga, kata-kata dr Winengku yang membuatnya terusik, bahwa rahasia terbesarnya bukanlah siapa laki-laki ini di hidupnya, tapi kenapa dia sampai melupakannya?

Naya sadar, sejak dua tahun terakhir ia menderita depresi dengan gejala penyerta dissosiative amnesia. Tapi, bagian besar hal yang ia lupakan tidak terungkap hingga hari ini. Farha, sebagai sosok care giver yang membantunya selama ini belum pernah membicarakan masa lalu yang ia lupakan dengan gamblang. Begitupun Naya yang merasa bahwa dirinya pun mungkin belum siap mengetahui kebenaran. Tapi, kemunculan laki-laki bernama Arei ini mengubah semua pemahamannya mengenai kondisi yang ia derita.

Rahasia besar apa yang tersimpan dalam bagian kosong hidupnya yang tak terungkap? Sedang Farha selalu mengelak mengatakan bahwa ia tak lebih tahu dari Naya sendiri.

Ia tahu tentang diagnosisnya. Sudah dua tahun ia hidup dengan kenyataan bahwa ada bagian dari hidupnya yang hilang. Selama ini, ia selalu membayangkan bagian yang hilang itu berupa kejadian-kejadian buruk. Sebuah kecelakaan. Rumah sakit. Rasa sakit. Hal-hal yang mungkin memang lebih baik dilupakan.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa yang hilang bisa berupa seseorang.

Atau lebih buruk lagi.

Seseorang yang pernah berarti.

Ia teringat ucapan dr. Winengku siang tadi.

"Yang mungkin lebih menakutkan bukanlah siapa yang kamu lupakan, tetapi alasan mengapa kamu harus melupakannya."

Pikirannya yang melayang membuat Naya tersentak. Ia kembali menekuri tabletnya yang kini gelap dan hanya memantulkan bayangan wajahnya dengan samar.

Hingga akhirnya, Naya mengetik alamat email itu dengan lengkap. Disusul sebuah subjek dengan kalimat ambigu. Dan badan email yang berisi kalimat singkat satu paragraf. Ada jeda panjang dan keragu-raguan sebelum ia mengeklik tombol kirim.

Naya memejamkan mata.

Ia membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang selama ini tidak pernah berani dipikirkannya. Mungkin Arei adalah seseorang yang pernah menyakitinya. Mungkin ia adalah seseorang yang sangat dicintainya. Atau mungkin, yang lebih buruk, ia adalah seseorang yang pernah sangat mencintainya, sementara dirinya sendiri kini bahkan tidak mampu mengingat wajah laki-laki itu tanpa harus membayangkannya dari kartu nama dan selembar memo kusut.

Ia membuka mata kembali.

Jam di pojok layar menunjukkan pukul 01.37.

Seluruh rumah sudah terlelap. Farha mungkin sudah tidur. Hujan di luar telah berubah menjadi rintik-rintik halus yang sesekali mengetuk kaca jendela. Di dalam kamar, hanya ada suara pendingin ruangan dan detak jantungnya sendiri yang terasa terlalu keras.

Naya mengangkat tablet itu sekali lagi. Ia membaca email tersebut untuk terakhir kalinya. Lalu, sebelum keberaniannya habis, ia menekan tombol Send.

*

Naya terbangun karena suara motor penjual sayur yang melintas di depan rumah.

Ia membuka mata dengan perasaan asing. Selama beberapa detik, ia tidak tahu hari apa, jam berapa, dan kenapa dadanya terasa berat. Baru ketika pandangannya jatuh pada tablet yang masih tergeletak di samping bantal, ingatannya kembali dengan cara yang tidak menyenangkan.

Email itu.

Ia menoleh cepat. Layar tablet telah mati. Tidak ada notifikasi. Tidak ada bunyi apa pun. Hanya benda tipis berwarna hitam yang semalam menjadi saksi keberaniannya yang paling besar sekaligus paling bodoh.

Naya meraih ponselnya.

07.12.

Tidak ada email masuk.

Tentu saja.

Ia meletakkan ponselnya kembali di kasur dan memandang langit-langit kamar. Cahaya pagi masuk melalui celah gorden, membentuk garis-garis tipis di dinding. Biasanya, pada jam seperti ini, ia sudah mandi, menyiapkan laptop, dan bersiap pergi ke kafe untuk bekerja. Namun pagi itu, tubuhnya terasa terlalu berat untuk digerakkan.

Ia menutup mata lagi. Hanya untuk menunda kenyataan bahwa ia telah mengirimkan sebuah email kepada seseorang yang mungkin pernah sangat berarti dalam hidupnya, tetapi kini bahkan tidak dapat ia bayangkan wajahnya tanpa bantuan ingatan orang lain.

Ketika akhirnya ia bangkit dari tempat tidur, rumah sudah sepi.

Farha pasti sudah pergi mengajar.

Naya berjalan keluar kamar dengan langkah pelan. Rambutnya masih berantakan. Kaus longgar yang dipakainya semalam belum sempat diganti. Di meja makan, sebuah piring tertutup tudung saji menunggunya.

Ada nasi goreng.

Dan secarik kertas.

Aku berangkat dulu.

Makan ya.

Jangan lupa minum obat.

— Fa

Naya menatap tulisan tangan itu beberapa detik.

Dadanya menegang.

Ia menarik kursi dan duduk. Memandang nasi goreng yang mulai dingin di hadapannya. Biasanya, ia akan memotret pesan Farha dan mengirimkan emoji kesal karena diperlakukan seperti anak kecil. Tetapi pagi itu, ia hanya duduk diam.

Ada dua orang dalam hidupnya yang mengingatkan agar ia makan.

Dan ia tidak mengingat salah satunya.

Ia akhirnya mengambil sendok dan mulai makan. Rasanya tidak buruk. Hanya saja, lidahnya seperti kehilangan kemampuan untuk membedakan lapar dan kenyang. Ia menghabiskan setengah piring, lalu menyerah.

Setelah menelan obat paginya, Naya membawa secangkir kopi ke ruang tengah.

Pagi semakin terang. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar di ruang keluarga dan membentuk persegi-persegi cahaya di lantai. Rumah itu terasa berbeda ketika hanya ada dirinya seorang. Dengung pendingin ruangan terdengar lebih jelas. Jam dinding berdetak lebih keras. Bahkan suara sendok yang beradu dengan cangkir kopinya sendiri terdengar terlalu nyaring.

Suara pagar depan yang dibuka pelan membuat Naya mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

Beberapa detik kemudian, pintu depan terbuka dan Mbak Aminah masuk sambil membawa tas kain bermotif bunga yang selalu dibawanya setiap kali datang. Perempuan paruh baya itu melepas sandal di teras, lalu menyapanya dengan senyum yang sudah sangat dikenalnya.

"Lho, Mbak Naya masih di rumah?"

Lihat selengkapnya