Untuk Hidup yang Tidak Kita Jalani

T. Suraya
Chapter #9

Bab 9

Bab 9

Arei tidak langsung membuka email itu.

Awalnya, ia bahkan mengira dirinya salah membaca.

Malam di Jakarta baru saja selesai diguyur hujan. Sisa air masih menempel di kaca jendela apartemen, memantulkan cahaya lampu gedung-gedung di seberang jalan menjadi garis-garis yang kabur. Dari lantai dua puluh satu, kota tampak seperti sesuatu yang jauh dan tidak benar-benar nyata. Kinan sudah tidur hampir satu jam yang lalu. Sebelum masuk kamar, istrinya sempat mengingatkan agar ia tidak terlalu lama bekerja. Seperti biasanya, Arei mengangguk dan berjanji akan segera menyusul.

Ia tidak pernah pandai menepati janji itu.

Laptop kantornya masih terbuka di meja makan. Beberapa file validasi metode uji yang harus ditinjau besok pagi belum selesai dibaca. Dengan setengah mengantuk, ia membuka kotak masuk email kantor dan pribadi, berniat memastikan tidak ada pekerjaan yang terlewat sebelum akhirnya menyerah pada rasa lelah.

Saat itulah ia melihat nama itu.

Naya Abindra.

Arei tidak segera bernapas. Atau mungkin ia masih bernapas, tetapi tubuhnya lupa bagaimana caranya.

Ia menatap layar laptop cukup lama hingga layar itu meredup dengan sendirinya. Pantulan wajahnya muncul samar di atas nama yang selama dua tahun terakhir hanya hidup dalam ingatan dan pencarian yang tidak pernah benar-benar selesai.

Naya Abindra.

Ia menggerakkan kursor. Lalu menghentikannya. Membaca nama itu sekali lagi.

Kemudian sekali lagi.

Selama dua tahun, ia mencari nama itu dengan berbagai cara yang pada akhirnya terasa semakin memalukan untuk diingat. Ia pernah menghubungi mantan rekan kerja Naya satu per satu. Pernah mengirim email ke alamat yang sudah lama tidak aktif. Pernah berjam-jam menelusuri media sosial orang-orang yang mungkin mengenalnya. Bahkan pernah, dalam satu masa yang sekarang terasa seperti kehidupan orang lain, membayar seseorang untuk mencari jejak administrasi yang mungkin tertinggal.

Tidak ada.

Naya seperti menghilang.

Bukan sekedar pergi. Atau menjauh.

Tetapi menghilang.

Dan sekarang, di malam yang seharusnya biasa saja, namanya muncul begitu saja di layar laptop Arei. Bukan dari orang lain. Bukan dari laporan. Bukan dari pencarian.

Melainkan dari Naya sendiri.

Arei berdiri.

Ia baru menyadari bahwa dirinya berdiri ketika kursi makan di belakangnya bergeser dan menimbulkan bunyi gesekan yang nyaring. Ia berjalan menuju dapur. Membuka kulkas. Menatap botol air mineral di rak tengah tanpa benar-benar melihatnya. Menutup kembali pintu kulkas. Mengambil gelas. Meletakkannya lagi.

Ada saraf-saraf yang kacau di dalam tubuhnya.

Seolah-olah setelah dua tahun belajar hidup tanpa Naya, tubuhnya tidak lagi mengingat bagaimana cara hidup ketika Naya kembali muncul.

Ketika akhirnya ia kembali ke meja makan, email itu masih ada.

Belum berubah. Belum hilang. Belum berubah menjadi sesuatu yang bisa dijelaskan sebagai mimpi.

Tangannya sedikit gemetar ketika menggerakkan touchpad.

Ia membuka email itu.

Mas Arei,

Saya tidak tahu bagaimana harus memulai email ini.

Mungkin email ini terdengar aneh.

Nama saya Naya Abindra. Saya rasa kita pernah saling mengenal. Namun, saya harus jujur bahwa saya tidak mengingat Anda.

Saya menemukan memo dengan nama Anda. Saya juga menerima kartu nama yang Anda titipkan di kafe.

Jika Anda bersedia, saya ingin mengetahui siapa Anda dalam hidup saya.

Hormat saya,

Naya.

Lihat selengkapnya