Untuk Hidup yang Tidak Kita Jalani

T. Suraya
Chapter #10

Bab 10

Bab 10

Getaran ponsel yang diletakkan di samping tabletnya membuat Arei tersentak.

Ia mengangkat kepala dari layar laptop. Untuk sesaat, ia bahkan lupa di mana dirinya berada. Baru ketika pandangannya jatuh pada dinding kaca ruangan manajer yang masih gelap karena matahari belum sepenuhnya naik, ia sadar bahwa dirinya telah berada di kantor sejak subuh.

Ruangan itu masih lengang.

Sudah empat tahun ia menempati ruang kerja ini. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, dengan meja kerja yang menghadap jendela dan satu set sofa tamu di sudut ruangan untuk menerima konsultasi atau rapat kecil. Pada jam-jam seperti ini, biasanya seluruh lantai masih kosong. Bahkan suara pendingin udara sentral yang berdengung pelan terdengar lebih jelas daripada biasanya.

Arei melirik jam di pergelangan tangan kirinya.

06.11.

Masih terlalu pagi.

Ketika tiba tadi, ia hanya berpapasan dengan satpam pagi yang sedang berjaga di lobby. Lelaki itu sempat mengangguk ramah, mungkin mengira atasannya datang lebih awal karena ada pekerjaan mendesak yang harus diselesaikan.

Andai sesederhana itu.

Arei mengalihkan pandangannya ke layar laptop yang masih menampilkan satu email yang sama sejak beberapa jam lalu. Ia datang ke kantor bukan karena pekerjaan. Ia datang karena tidak sanggup duduk lebih lama lagi di apartemen yang dibangunnya bersama Kinan, sementara di dalam kepalanya hanya ada satu nama yang terus berulang tanpa bisa dihentikan.

Naya.

Membawa nama itu ke dalam rumahnya sendiri terasa seperti sebuah pengkhianatan.

Getaran ponsel kembali terdengar.

Kali ini, ia meraihnya.

Ada tiga pesan WhatsApp dari Kinan.

Kinan

Mas?

Kok aku bangun udah nggak ada?

Berangkat pagi banget? Ada kerjaan dadakan?

Arei mengembuskan napas pelan.

Di luar jendela, langit Jakarta masih berwarna abu-abu pucat. Gedung-gedung di kejauhan tampak seperti bayangan yang belum selesai digambar. Ia menundukkan kepala, lalu mulai mengetik.

Arei

Maaf, Sayang. Ada yang harus aku selesaikan pagi-pagi. Nggak tega bangunin kamu. Tadi tidurnya nyenyak banget.

Pesan itu terkirim.

Sebelum sempat meletakkan ponselnya, pandangannya kembali melayang ke layar laptop.

Email itu masih terbuka.

Ia sadar betul jam pengirimannya.

01.37.

Naya tidak tidur malam itu.

Pikiran itu datang begitu saja.

Apakah ia juga duduk sendirian ketika menulis email tersebut? Apakah ia mengetik dan menghapus kalimat berkali-kali sebelum akhirnya menekan tombol kirim? Apakah ia takut?

Arei menutup mata sejenak.

Ia tidak berhak memikirkan hal-hal seperti itu.

Ponselnya bergetar lagi.

Kinan

Syukurlah kalau cuma karena kerjaan.

Aku tadi panik. Kirain kamu kenapa-kenapa.

Ada sesuatu yang mengencang di dadanya.

Ia mengetik:

Arei

Maaf.

Balasan Kinan datang hampir seketika.

Kinan

Ya sudah. Jangan lupa sarapan ya, Mas. Atau setidaknya beli sesuatu.

Love you. Have a nice day, Sayang.

Arei memandangi pesan itu cukup lama.

Lalu membalas.

Arei

I love you too, Sayang.

Setelah pesan itu terkirim, ia membalikkan ponselnya hingga layarnya menghadap meja.

Ruangan kembali sunyi.

Hanya ada dengung pendingin udara, suara kendaraan yang mulai ramai di jalan raya jauh di bawah sana, dan sebuah email yang masih terbuka di layar laptopnya.

Arei menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Betapapun kacau perasaannya pagi itu, Kinan selalu menjadi hal yang mengembalikannya pada kenyataan. Jangkar yang membuat hidupnya tetap bergerak selama hampir tiga tahun terakhir. Dan mungkin justru karena itulah, rasa bersalah yang memenuhi dadanya terasa semakin sulit ditanggung.

Arei keluar dari ruang kerjanya ketika akhirnya menyadari bahwa ia belum minum apa pun sejak meninggalkan apartemen sebelum subuh. Lorong kantor masih lengang. Lampu-lampu otomatis baru saja menyala sepenuhnya, memantulkan cahaya putih yang dingin pada lantai keramik. Dari kejauhan, ia mendengar suara vacuum cleaner dari lantai bawah. Mungkin petugas kebersihan masih menyelesaikan pekerjaannya sebelum para pegawai mulai berdatangan.

Pantry kecil di sebelah lift masih kosong.

Arei mendorong pintunya pelan. Aroma kopi yang samar dan sisa pewangi ruangan menyambutnya. Ruangan itu tidak banyak berubah sejak pertama kali ia bekerja di gedung ini. Sebuah meja panjang, lemari gantung berwarna putih, dispenser air panas, dan mesin kopi kapsul yang sudah beberapa kali berganti model tetapi tetap menghasilkan suara dengung yang sama.

Ia mengambil cangkir kecil dari rak. Jemarinya bergerak otomatis, seolah tubuhnya masih mengingat ritual pagi yang telah dilakukan bertahun-tahun. Kapsul espresso dimasukkan ke dalam mesin. Tombol ditekan. Suara dengung pelan memenuhi ruangan yang sunyi.

Dan entah bagaimana, justru suara itulah yang membawanya kembali.

Dulu, sekitar pukul delapan pagi, pantry ini hampir selalu menjadi tempat mereka bertemu.

Bukan karena janjian.

Bukan pula karena sengaja.

Setidaknya, itulah yang mereka yakini pada awalnya.

Naya selalu datang dengan langkah cepat, sambil membawa tablet atau beberapa lembar dokumen yang diselipkan di bawah lengan. Rambutnya sering kali masih sedikit basah karena terburu-buru berangkat. Ia akan mengangguk singkat ketika melihat Arei, lalu berjalan ke arah mesin kopi.

"Pagi, Mas."

"Pagi."

Percakapan mereka hampir selalu dimulai seperti itu.

Lalu berkembang menjadi hal-hal yang seharusnya tidak penting.

Tentang kemacetan Jakarta pagi itu. Tentang mesin GC-MS yang kembali bermasalah. Tentang auditor yang terlalu cerewet. Tentang kopi pantry yang rasanya semakin lama semakin buruk.

"Kalau suatu hari aku resign, alasannya pasti karena kopi kantor," kata Naya suatu pagi sambil meringis setelah menyesap americano buatannya.

Arei tertawa.

Lihat selengkapnya