Untuk Hidup yang Tidak Kita Jalani

T. Suraya
Chapter #11

Bab 11

Bab 11

Farha menemukan Naya terpekur di depan laptopnya begitu ia melangkahkan kakinya memasuki ruang makan. Gadis itu tengah menatap laptopnya dengan pandangan kosong yang nanar. Botol air mineral kosong tergeletak mengenaskan di hadapan sepupnya itu. Sedangkan botol lain yang berisi air, hanya terisi tinggal sepertiganya. Beberapa helai kulit jeruk mandarin berwarna orange cerah nampak terkumpul di sebuah mangkuk kecil. Dan potongan buah warna warni dalam thinwall sedang nampak menjadi kudapan Naya siang itu.

“Aku pulang…” Farha mencoba mencantum perhatian sepupunya saat ia mengambil gelas dari kitchen storage yang ada di atas wastafel. Mengisi gelasnya penuh dengan air dari container air di chiller, dan membawa gelas penuhnya ke depan Naya.

Gadis berambut panjang sepundak yang kini diikat asal dengan cepol diatas kepalanya itu sama sekali bergeming. Tidak menyadari kehadirian Farha sama sekali. Ia masih menatap laptopnya dengan pandangan jauh. Seakan, padangannya menembus dimensi lain.

Kali ini, Naya memakai gaun rumahan selutut tanpa lengan berwarna hitam dengan aksen renda minimalis di bagian ujung gaun. Leher gaun yang berpotongan rendah menampakkan tulang selangka Naya dengan cekungan yang dalam.

“Naya!” Kali ini Farha memanggilnya sambil mengetuk meja. Barulah Naya tergagap, mengangkat wajahnya dan menemukan Farha yang baru saja pulang mengajar siang itu.

“Oh hai. Kamu udah balik?”

“Sekitar sejak 5 menit yang lalu. Dan melihat kamu lagi ngelamun di dimensi lain.”

Naya tertawa getir. Tetapi matanya yang sendu itu membuat Farha memfokuskan pandangan.

“Jadi, apa yang sedang kamu lamunkan?”

Naya tidak segera menjawab. Ia menimbang dalam hati.

“Aku tahu aku mengalami semua ini, tapi, rasanya masih tetap surreal ketika ternyata dugaan dan ketakutanku menjadi nyata, Fa.”

“Maksud kamu?”

“Arei. Laki-laki itu benar-benar orang yang pernah ada di hidupku. Kamu juga tahu kan?” sebuah pertanyaan yang membuat Farha terhenyak. Sepertinya ia tak bisa lagi menghindar dari kenyataan yang harus ia sampaikan pada si empunya hidup.

“Aku yakin kamu tahu… kalo mengingat semua reaksimu itu. Hanya saja, aku tidak tahu kenapa sejak awal kamu tidak jujur dan bilang saja apa adanya ketika pertama kali aku nanya soal orang ini.”

“Nay…”

“Aku tahu mungkin kamu punya alasanmu sendiri Fa, tapi semua itu jadi menyusahkanku. Kau tahu?” Naya menyodorkan layar laptopnya yang masih menyala redup ke hadapan Farha. “Bisakah kamu sekarang bilang kalo kamu nggak tahu apa-apa?” Layar itu membuka pada bagian inbox email balasan dari Arei yang diterima Naya pagi tadi dan baru ia baca ketika hatinya sudah tak lagi jatuh hingga ujung bumi.

Farha tidak segera melihat layar laptop itu.

Ia justru memandang wajah Naya terlebih dahulu.

Ada sesuatu yang berbeda pada sepupunya siang itu. Bukan karena lingkar hitam di bawah matanya yang semakin jelas akibat kurang tidur selama beberapa hari terakhir. Bukan pula karena tubuhnya tampak semakin kurus di balik gaun hitam longgar yang dikenakannya. Melainkan karena sejak nama Arei muncul kembali dalam hidup mereka, Naya tidak tampak bingung.

Ia tampak terluka.

Perlahan, Farha mengalihkan pandangan ke layar laptop yang didorongkan Naya ke arahnya. Beberapa paragraf email terbuka di sana. Nama pengirimnya terpampang jelas di bagian atas.

Arei Aksara.

Farha mengembuskan napas yang entah sejak kapan ditahannya.

"Aku baca email ini mungkin dua puluh kali sejak pagi," kata Naya pelan. Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Dan semakin aku baca, semakin aku yakin kalau dia nggak sedang berbohong."

Farha menarik kursi di sebelah Naya dan duduk perlahan. Gelas air yang tadi dibawanya diletakkan di atas meja tanpa disentuh.

"Aku nggak bilang dia bohong, Nay."

"Tapi kamu juga nggak bilang yang sebenarnya."

Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka.

Tidak keras.

Tidak marah.

Justru karena itu, Farha merasa dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat.

Naya menutup layar laptopnya pelan. Bunyi klik kecil itu terdengar nyaring di ruang makan yang mendadak terasa terlalu sunyi.

"Aku tahu ada sesuatu yang hilang dari hidupku." Ia menunduk, memandangi jemarinya sendiri yang saling menggenggam terlalu erat. "Dua tahun ini aku berusaha menerima bahwa mungkin ada bagian hidup yang memang nggak akan pernah aku ingat lagi. Aku baik-baik saja dengan itu, Fa. Aku benar-benar berusaha baik-baik saja."

Ia berhenti sejenak.

"Tapi sekarang aku tahu kalau ternyata ada seseorang yang mengenalku. Sangat mengenalku. Dan kamu juga mengenalnya."

Farha membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

Karena ia tidak tahu mana yang lebih kejam: mengatakan yang sebenarnya, atau terus menyembunyikannya.

"Aku nggak minta kamu cerita semuanya hari ini," lanjut Naya. Kali ini ia mengangkat wajahnya. Matanya merah, tetapi tidak ada air mata di sana. "Aku cuma mau tahu satu hal."

Farha merasakan jantungnya berdetak lebih keras.

"Kamu tahu siapa Arei, kan?"

Dengung kulkas dari dapur terdengar samar. Dari luar rumah, suara sepeda motor melintas, lalu menghilang di kejauhan. Siang di Sewon tetap berjalan seperti biasa, seolah tidak ada sesuatu yang sedang runtuh di dalam rumah itu.

Farha menundukkan pandangan.

Ia teringat seorang perempuan yang dua tahun lalu terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus di kedua tangannya. Perempuan yang membuka mata setelah tiga hari koma dan bertanya dengan suara serak, "Aku kenapa ada di sini?"

Ia teringat dirinya sendiri yang memilih berbohong.

Memilih percaya bahwa melupakan adalah bentuk keselamatan. Dan sekarang, duduk di hadapannya, perempuan yang sama sedang meminta sesuatu yang selama ini tidak pernah berani ia berikan.

Kebenaran.

"Iya," jawab Farha akhirnya.

Satu kata.

Lihat selengkapnya