Untuk Hidup yang Tidak Kita Jalani

T. Suraya
Chapter #12

Bab 12

Bab 12

Naya tidak membalas email itu.

Ia membiarkannya tetap berada di kotak masuk selama berhari-hari, tanpa dibuka kembali, tanpa dihapus, seolah keberadaan email itu sendiri sudah cukup untuk mengganggu ketenangan yang selama ini dibangunnya dengan susah payah. Setiap kali membuka laptop untuk bekerja, matanya selalu menangkap nama pengirim yang sama. Arei Aksara. Dan setiap kali itu pula, ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam dadanya. Bukan rasa rindu. Ia bahkan tidak yakin tahu seperti apa rupa rindu itu. Yang ia rasakan lebih menyerupai kegelisahan yang tidak memiliki bentuk.

Pikirannya masih berusaha mencerna percakapan dengan Farha beberapa hari sebelumnya.

Bahwa ia pernah tinggal di Jakarta.

Bahwa ia pernah bekerja sebagai analis di sebuah laboratorium besar.

Bahwa nama perusahaan yang tercetak di kartu nama Arei bukanlah kebetulan.

Bahwa laki-laki itu memang pernah hidup di dalam ruang yang sama dengannya.

Namun, alih-alih mendapatkan jawaban, pengakuan Farha justru membuka ruang kosong yang lebih besar. Karena setelah menceritakan tentang kepulangannya dari Jakarta dua tahun lalu, Farha berhenti. Sepupunya itu menundukkan kepala, menangis, lalu meminta waktu. Seolah ada sesuatu yang terlalu menyakitkan untuk diucapkan, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.

Dan kini, Naya terjebak di antara dua kenyataan yang sama-sama sulit diterima.

Ia tidak mengingat.

Tetapi tubuhnya tampak mengingat.

Beberapa hari terakhir, ia mulai menyadari hal-hal kecil yang tidak pernah dipikirkannya sebelumnya. Tangannya secara otomatis mencari mug kopi di rak paling atas, seolah ia telah melakukannya ribuan kali. Kakinya membawa dirinya ke sudut ruang tamu tertentu ketika sedang menelepon, lalu berjalan mondar-mandir dengan pola yang sama tanpa ia sadari. Bahkan, suatu malam ketika hujan turun deras dan angin membentur kaca jendela, ia mendapati dirinya duduk di lantai kamar sambil memeluk lutut, dengan perasaan takut yang tidak dapat dijelaskan.

Yang paling mengganggunya bukanlah kenangan yang muncul.

Melainkan sensasi yang datang bersamanya.

Suatu sore, ketika ia membuka file audit dan melihat nama sebuah laboratorium, telapak tangannya mendadak berkeringat. Dadanya sesak. Ada bayangan samar tentang lorong panjang dengan lampu putih terang, suara dengungan mesin yang tidak pernah berhenti, dan rasa lelah yang begitu dalam hingga ia merasa ingin menangis.

Ia tidak melihat wajah siapa pun.

Tidak ada peristiwa yang jelas.

Hanya kelelahan.

Kelelahan yang terasa begitu nyata hingga Naya harus menutup laptopnya dan memejamkan mata selama beberapa menit.

Malam berikutnya, ia terbangun dengan napas tersengal. Bukan karena mimpi buruk. Ia bahkan tidak mengingat apa yang dimimpikannya. Namun, pipinya basah oleh air mata. Dan di dalam dadanya, tertinggal sebuah perasaan yang begitu asing sekaligus akrab: kesepian.

Sejak nama Arei muncul kembali dalam hidupnya, Naya mulai mempertimbangkan kemungkinan yang selama ini berusaha ia hindari.

Barangkali yang hilang dari ingatannya bukan hanya seseorang.

Lihat selengkapnya