Bab 13
Mas Arei,
Terima kasih karena tetap membalas email saya, meskipun saya sendiri membutuhkan waktu cukup lama untuk membalas email Anda.
Sejujurnya, saya belum tahu bagaimana harus menanggapi semua ini. Sebagian dari diri saya ingin berhenti bertanya dan kembali menjalani hidup seperti sebelum kita bertemu di kafe hari itu. Namun, sebagian yang lain justru semakin sulit mengabaikan kenyataan bahwa ada bagian dari hidup saya yang benar-benar hilang.
Sepupu saya—Farha, akhirnya mengakui bahwa saya memang pernah bekerja di perusahaan yang sama dengan Anda. Itu berarti saya tidak salah menduga bahwa kita memang pernah saling mengenal.
Tetapi saya masih tidak mengingat Anda.
Saya tidak tahu apakah kalimat itu terdengar kejam. Saya berharap tidak.
Beberapa hari terakhir, saya mulai mengalami hal-hal yang sulit saya jelaskan. Bukan ingatan yang utuh, melainkan perasaan-perasaan yang muncul begitu saja. Kadang saya merasa takut tanpa tahu apa yang saya takutkan. Kadang saya merasa sedih pada sesuatu yang tidak dapat saya sebutkan namanya.
Karena itu, saya ingin bertanya sesuatu.
Saya hanya ingin tahu, seperti apa saya waktu bekerja di sana?
Apakah saya terlihat bahagia?
Hormat saya,
Naya
Arei membaca email itu hingga kalimat terakhir.
Lalu kembali ke awal.
Tangannya tetap berada di atas touchpad laptop, tetapi tidak bergerak. Di luar jendela ruang kerja kecil yang mereka ubah dari kamar tamu, malam Jakarta bergelayut di antara lampu-lampu apartemen yang berjajar di kejauhan. Pendingin ruangan berdengung pelan. Dari ruang tengah, televisi masih menyala dengan volume yang dikecilkan.
Naya telah membalas. Bukan hanya membalas. Ia bertanya.
Dan entah mengapa, dari semua kemungkinan yang dibayangkannya sejak mengirim email terakhir, pertanyaan Naya justru menjadi hal yang paling tidak siap ia hadapi.
Apakah saya terlihat bahagia?
Arei memejamkan mata. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya. Justru karena ia tahu. Terlalu tahu.
Naya dua tahun lalu bukanlah perempuan yang selalu tampak bahagia. Ia adalah seseorang yang tertawa terlalu keras ketika sedang lelah, yang membeli kopi kedua padahal kopi pertama belum habis, yang berkata "aku baik-baik saja" dengan nada yang begitu meyakinkan hingga orang lain memilih mempercayainya.
Tetapi ada juga hari-hari lain.
Hari-hari ketika Naya tertidur di sofa ruang staf laboratorium setelah lembur berhari-hari. Hari-hari ketika ia mengirim pesan larut malam hanya untuk memastikan Arei sudah makan. Hari-hari ketika mereka berdiri terlalu lama di pantry sambil memegang kopi yang sudah dingin, seolah waktu dapat ditunda hanya dengan tidak bergerak.
Apakah ia bahagia? Arei tidak tahu. Dan mungkin itulah yang paling menyakitkan.
Ia begitu yakin pernah mencintai Naya, tetapi ternyata tidak pernah benar-benar tahu apakah perempuan itu bahagia bersamanya.
Sebuah lengan melingkar di lehernya dengan lembut.
Arei tersentak.
Refleks, ia sedikit menurunkan layar laptop. Gerakannya tidak tergesa, bahkan nyaris tidak kentara. Namun, cukup cepat untuk membuatnya menyadari bahwa tubuhnya telah mengambil keputusan lebih dulu daripada pikirannya.
"Astaga, Mas." Suara Kinan terdengar pelan, diiringi tawa kecil. "Kaget banget."
Arei menoleh.
Kinan berdiri di belakang kursinya dengan rambut yang masih setengah basah setelah mandi malam. Ia mengenakan piyama katun berwarna krem dengan motif bunga kecil-kecil yang mulai pudar karena terlalu sering dicuci. Aroma sampo dan pelembap tubuhnya yang lembut memenuhi ruang kerja itu.
"Belum tidur?" tanya Arei.
Kinan menggeleng. "Aku malah mau nanya itu. Jam segini masih kerja?"
Arei mengikuti arah pandangan istrinya yang jatuh ke laptop.
Untuk sepersekian detik, dadanya kembali menegang.
Namun Kinan hanya menarik kursi di sebelahnya dan duduk seperti biasa. Sudah hampir setahun terakhir, kebiasaan kecil seperti ini semakin sering dilakukan Kinan sejak ia memutuskan berhenti bekerja.
Padahal sebelumnya, Kinan adalah orang yang nyaris tidak pernah pulang sebelum matahari tenggelam. Sebagai QC Manager di sebuah perusahaan kosmetik lokal, hidupnya diatur oleh jadwal audit, validasi, dan rapat-rapat yang tak ada habisnya. Arei masih ingat bagaimana Kinan dulu sering datang ke rumah mereka sambil mengeluh tentang batch yang gagal atau hasil stabilitas produk yang tidak sesuai spesifikasi.
Lalu dokter mengatakan bahwa tubuhnya membutuhkan istirahat.
Bahwa jika mereka ingin memiliki anak, seseorang harus mengalah. Dan Kinan mengalah. Ia mengajukan resign enam bulan kemudian.
Sejak saat itu, apartemen mereka perlahan berubah. Ada vitamin kesuburan di laci dapur. Kalender ovulasi di aplikasi ponsel. Janji temu dokter kandungan yang rutin. Dan harapan yang terus dipelihara dengan sabar, meskipun setiap bulan berakhir dengan kekecewaan yang sama.
Sudah hampir setahun mereka menunggu.
"Ada masalah di kantor?" tanya Kinan.