Untuk Hidup yang Tidak Kita Jalani

T. Suraya
Chapter #14

Bab 14

Bab 14

Mas Arei,

Saya membaca email Anda beberapa kali sebelum akhirnya memberanikan diri membalas.

Terima kasih karena menjawab pertanyaan saya dengan jujur. Saya tidak tahu mengapa, tetapi membaca bahwa saya suka kopi pahit, lupa makan siang, dan menggigit bagian dalam pipi ketika sedang berpikir justru membuat saya lebih takut daripada lega.

Bukan karena saya tidak percaya pada Anda.

Justru karena saya percaya.

Ketika membaca email Anda, saya mencoba melakukan hal-hal kecil yang Anda ceritakan. Saya menyeduh kopi tanpa gula. Rasanya terlalu pahit, tetapi entah mengapa saya tetap menghabiskannya. Saya juga baru menyadari bahwa beberapa kali terakhir, saya memang menggigit bagian dalam pipi saya ketika sedang cemas.

Saya tidak tahu apakah itu berarti sesuatu.

Akhir-akhir ini, saya mulai mengalami hal-hal yang sulit saya jelaskan. Kadang saya merasa sangat sedih tanpa alasan yang jelas. Kadang saya merasa takut pada sesuatu yang bahkan tidak dapat saya ingat. Semalam, setelah membaca email Anda yang sebelumnya, saya mengalami sesuatu yang membuat saya sangat ketakutan.

Saya merasa seperti sedang mengingat sesuatu.

Atau mungkin tubuh saya yang mengingat.

Saya tidak melihat wajah siapa pun. Saya tidak mengingat tempatnya dengan jelas. Tetapi saya merasakan ketakutan yang sangat besar, seolah saya sedang berusaha melindungi sesuatu yang tidak boleh hilang.

Dan yang paling membuat saya takut adalah, saya tidak tahu apa yang sedang saya lindungi.

Saya membaca bagian ketika Anda menulis bahwa saya terlalu sering menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang bukan kesalahan saya.

Apakah saya memang seperti itu?

Apakah saya pernah melakukan sesuatu yang sangat buruk?

Saya minta maaf jika pertanyaan ini terdengar aneh. Saya hanya merasa bahwa semakin banyak yang saya ketahui, semakin saya takut pada diri saya sendiri.

Dan ada satu pertanyaan lain yang sejak beberapa hari terakhir terus muncul di kepala saya. Jika memang saya pernah memutuskan untuk pergi, atau menghilang dari hidup Anda, apakah saya melakukannya karena saya membenci Anda?

Atau karena saya membenci diri saya sendiri?

Hormat saya,

Naya

*

Naya,

Saya membaca email Anda beberapa kali sebelum memutuskan untuk membalasnya. Bukan karena saya tidak tahu harus menjawab apa, tetapi karena saya takut menjawab dengan keyakinan yang tidak saya miliki.

Anda bertanya apakah Anda memang seseorang yang sering menyalahkan diri sendiri.

Jawaban yang paling jujur yang bisa saya berikan adalah: ya.

Tetapi saya tidak yakin Anda menyadarinya. Anda adalah orang yang sangat keras terhadap diri sendiri. Jauh lebih keras daripada kepada orang lain. Anda dapat memaafkan kesalahan siapa pun, tetapi hampir tidak pernah memaafkan kesalahan Anda sendiri. Bahkan untuk hal-hal yang tidak berada dalam kendali Anda.

Saya tidak tahu mengapa.

Dan mungkin, seharusnya saya mencoba mencari tahu.

Anda juga bertanya apakah Anda pernah melakukan sesuatu yang sangat buruk. Naya, saya tidak tahu apa yang Anda ingat atau tidak ingat saat ini. Namun, dari semua hal yang saya ketahui tentang Anda, saya tidak pernah berpikir bahwa Anda adalah orang yang buruk.

Saya mengenal seseorang yang bekerja terlalu keras, terlalu sedikit tidur, dan terlalu sering memikul masalahnya sendiri. Saya mengenal seseorang yang lebih mudah bertanya apakah orang lain sudah makan daripada mengakui bahwa dirinya sendiri lapar.

Dan saya mengenal seseorang yang, menurut saya, terlalu sering meminta maaf atas hal-hal yang bukan kesalahannya.

Karena itu, saya tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Anda yang terakhir. Apakah Anda pergi karena membenci saya? Saya tidak pernah benar-benar tahu.

Selama dua tahun terakhir, saya memilih percaya bahwa Anda meninggalkan saya karena itu lebih mudah daripada menerima kemungkinan lain. Namun, setelah bertemu Anda kembali di Yogyakarta, saya mulai menyadari bahwa mungkin saya salah.

Mungkin ada sesuatu yang terjadi dalam hidup Anda yang tidak saya ketahui.

Dan jika itu benar, maka ada kemungkinan saya telah marah kepada Anda selama dua tahun untuk sesuatu yang bahkan bukan pilihan Anda. Saya ingin jujur kepada Anda tentang satu hal.

Ketika Anda menghilang, saya marah. Saya marah karena nomor telepon Anda tidak aktif. Saya marah karena email saya tidak pernah dibalas. Saya marah karena saya tidak dapat menemukan Anda di mana pun.

Tetapi sekarang, membaca email Anda, saya justru bertanya-tanya apakah selama ini saya seharusnya lebih khawatir daripada marah.

Anda menulis bahwa Anda merasa takut pada diri Anda sendiri. Saya tidak tahu apakah saya berhak mengatakan ini. Tetapi jika Anda bertanya kepada saya, saya rasa hal yang paling mungkin terjadi adalah bukan karena Anda membenci saya.

Saya justru khawatir bahwa Anda terlalu lama berusaha menanggung sesuatu sendirian. Dan jika suatu saat Anda mengingat sesuatu yang menyakitkan, saya berharap Anda mengingat satu hal lain. Anda tidak harus menghadapinya sendirian.

Ada satu pertanyaan dalam email Anda yang belum saya jawab.

Anda bertanya apakah Anda terlihat bahagia. Saya tidak tahu. Tetapi saya ingat bahwa ada masa ketika Anda terlihat sangat lelah. Dan entah mengapa, sampai hari ini, itu masih menjadi salah satu hal yang paling saya sesali.

Arei

*

Mas Arei,

Saya membaca email Anda tadi sore. Lalu saya menutup laptop dan mencoba melakukan hal lain. Saya menyiram tanaman. Saya membantu Mbak Aminah memotong buah. Saya bahkan mencoba menyelesaikan laporan audit yang sudah tertunda dua hari.

Tetapi pada akhirnya, saya tetap kembali membuka email Anda.

Terima kasih karena jujur kepada saya.

Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana rasanya membaca bahwa saya adalah seseorang yang terlihat sangat lelah. Entah mengapa, kalimat itu justru lebih mengganggu daripada semua hal lain yang Anda ceritakan.

Karena saya tidak merasa lelah sekarang.

Atau mungkin saya sudah terlalu lama hidup dengan perasaan itu hingga tidak lagi menyadarinya.

Saya juga tidak tahu mengapa membaca bahwa Anda pernah marah kepada saya membuat saya merasa sedih. Padahal, jika saya memang menghilang begitu saja, mungkin kemarahan Anda adalah sesuatu yang wajar.

Ada satu hal yang terus saya pikirkan sejak membaca email Anda.

Anda mengatakan bahwa saya sering datang paling pagi dan pulang paling malam. Bahwa saya sering lupa makan siang. Bahwa saya terlihat sangat lelah.

Kalau begitu, kenapa saya tidak berhenti?

Saya mencoba membayangkan diri saya yang dulu. Saya membayangkan seorang perempuan yang bekerja terlalu keras, terlalu sedikit tidur, dan tidak meminta bantuan kepada siapa pun. Anehnya, saya merasa mengenali perempuan itu, meskipun saya tidak mengingatnya.

Saya ingin bertanya sesuatu lagi, jika Anda tidak keberatan.

Apa yang biasanya saya lakukan ketika sedang sedih?

Apakah saya pernah bercerita kepada Anda?

Atau saya benar-benar menyimpan semuanya sendirian?

Maaf jika saya terlalu banyak bertanya.

Saya tidak tahu apakah saya sedang mencari ingatan saya, atau sedang mencoba memahami orang seperti apa diri saya sebelum saya melupakannya.

Hormat saya,

Naya

*

Naya,

Saya membaca email Anda beberapa kali sebelum memutuskan untuk membalasnya. Bukan karena saya tidak tahu harus menjawab apa, melainkan karena saya takut menjawab terlalu banyak.

Anda bertanya apa yang biasanya Anda lakukan ketika sedang sedih. Sejujurnya, saya tidak yakin saya pernah benar-benar mengetahui kapan Anda sedang sedih. Itu mungkin salah satu hal yang paling saya sesali ketika mengingat Anda sekarang.

Anda bukan orang yang mudah meminta bantuan. Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda, Anda justru akan bekerja lebih lama. Ada masa ketika Anda hampir selalu datang paling pagi dan pulang paling akhir. Saya ingat beberapa kali melewati laboratorium setelah jam kerja selesai dan mendapati Anda masih duduk di depan komputer, dengan secangkir kopi yang sudah dingin di samping keyboard dan daftar pekerjaan yang masih terbuka di layar.

Jika saya bertanya apakah Anda baik-baik saja, jawaban Anda hampir selalu sama.

"Aku cuma capek."

Dan saya selalu mempercayainya.

Belakangan, saya sering bertanya-tanya apakah seharusnya saya tidak mempercayainya begitu saja.

Ada satu kebiasaan Anda yang masih saya ingat dengan sangat jelas. Jika sedang banyak pikiran, Anda akan pergi ke pantry sekitar pukul delapan atau sembilan malam. Anda akan membuat kopi yang terlalu pahit, kemudian berdiri di dekat jendela kecil di ujung ruangan. Sering kali, kopi itu bahkan tidak habis Anda minum.

Kadang kami berbicara.

Kadang tidak.

Lihat selengkapnya