Bab 15
Mas Arei,
Saya hampir tidak jadi membalas email ini.
Sudah beberapa kali saya membuka laptop, membaca kembali email Anda, lalu menutupnya lagi. Saya pikir, mungkin lebih mudah jika saya berhenti bertanya. Mungkin lebih baik jika saya menerima bahwa ada bagian dari hidup saya yang tidak akan pernah saya pahami.
Tetapi ternyata saya tidak bisa.
Farha akhirnya bercerita kepada saya. Tidak semuanya. Saya bisa merasakan bahwa masih ada bagian-bagian yang belum sanggup ia katakan. Namun, setidaknya sekarang saya tahu bahwa Anda bukan sekadar seseorang yang pernah bekerja bersama saya. Saya tahu bahwa kita pernah menjalin hubungan.
Saya mengetik kalimat itu sambil menatapnya cukup lama sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melanjutkan email ini.
Entah mengapa, saya tidak terkejut.
Saya seharusnya terkejut. Saya seharusnya marah. Saya seharusnya merasa asing terhadap perempuan yang pernah menjadi saya saat itu. Tetapi yang saya rasakan justru sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan.
Saya merasa sedih.
Dan saya tidak tahu untuk siapa.
Untuk Anda. Untuk diri saya sendiri. Atau untuk sesuatu yang bahkan belum bisa saya ingat.
Farha mengatakan bahwa Anda sudah memiliki tunangan ketika itu. Saya tahu, jika saya mendengarnya sebagai orang lain, saya mungkin akan menghakimi perempuan itu. Saya mungkin akan bertanya mengapa ia tetap memilih mencintai seseorang yang tidak benar-benar bisa ia miliki.
Tetapi sejak mendengar cerita itu, saya justru tidak bisa berhenti memikirkan hal lain.
Mengapa saya melakukannya?
Apa yang saya lihat pada Anda hingga saya bersedia menjalani sesuatu yang pasti akan menyakiti saya? Dan mengapa, meskipun saya tidak lagi mengingat Anda, tubuh saya bereaksi seolah kehilangan itu masih terjadi sekarang?
Setelah berbicara dengan Farha tadi sore, saya mengalami sesuatu yang membuat saya takut. Saya tidak tahu apakah itu bisa disebut ingatan. Mungkin hanya perasaan. Mungkin hanya fragmen yang muncul dari tempat yang tidak saya pahami.
Saya merasa sedang berada di suatu tempat yang terang. Saya mencium bau kopi yang terlalu pahit. Saya mendengar hujan. Dan saya merasa ada seseorang yang menggenggam tangan saya.
Saya tidak bisa melihat wajahnya.
Tetapi saya merasa aman.
Lalu, bersamaan dengan rasa aman itu, datang sesuatu yang lain. Sesuatu yang begitu menyakitkan hingga saya tidak dapat menjelaskannya. Rasanya seperti kehilangan. Seperti rasa bersalah. Seperti ada sesuatu yang pernah saya hancurkan sendiri, tetapi saya tidak tahu apa.
Saya menangis setelah itu.
Bukan karena saya mengingat Anda. Melainkan karena untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa mungkin ada seseorang yang pernah sangat saya cintai, sampai-sampai tubuh saya masih mengingatnya ketika pikiran saya sudah melupakannya.
Saya tidak tahu apakah saya seharusnya menulis semua ini kepada Anda. Tetapi ada satu hal yang terus muncul di kepala saya sejak membaca email Anda.
Anda menulis bahwa saya tidak suka pulang sendirian ketika hari sudah terlalu malam.
Anda menulis bahwa kadang-kadang yang saya butuhkan hanyalah seseorang yang bersedia duduk diam di dekat saya. Dan saya tidak tahu mengapa, tetapi ketika membaca itu, saya merasa sangat ingin menangis.
Karena rasanya seperti saya sedang merindukan seseorang.
Dan saya bahkan tidak tahu apakah seseorang itu adalah Anda.
Naya
*
Naya,
Saya membaca email Anda pagi ini sebelum berangkat ke kantor. Setelah itu, saya menutup laptop, membuat kopi, lalu membiarkannya dingin di atas meja. Saya pikir, jika saya memberi diri saya waktu beberapa menit, saya akan tahu bagaimana membalasnya.
Ternyata saya salah.
Sepanjang perjalanan ke kantor cabang, saya terus memikirkan satu kalimat yang Anda tulis.
Saya tahu bahwa kita pernah menjalin hubungan.
Saya tidak tahu mengapa membaca kalimat itu membuat saya merasa begitu lega sekaligus begitu takut. Mungkin karena selama ini saya selalu membayangkan bahwa jika suatu hari Anda mengetahui tentang kita, saya yang harus menjelaskannya. Dan sejujurnya, saya tidak pernah berhasil menemukan cara yang tepat.
Anda bertanya mengapa Anda memilih menjalani hubungan itu. Saya berharap saya bisa memberikan jawaban yang sederhana. Saya berharap saya bisa mengatakan bahwa Anda melakukan kesalahan, atau bahwa saya memengaruhi Anda, atau bahwa semuanya terjadi begitu saja.
Tetapi saya rasa tidak sesederhana itu.
Yang saya ingat adalah kita berdua sama-sama tahu bahwa hubungan itu tidak akan mudah. Kita sama-sama tahu bahwa ada batas yang seharusnya tidak kita lewati. Dan saya rasa, justru karena kita mengetahui itu sejak awal, tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar siap ketika akhirnya perasaan itu tetap ada.