Bab 16
"Kita mau ke mana?"
Untuk kedua kalinya Naya mengajukan pertanyaan yang sama. Sejak mereka meninggalkan Sewon hampir satu jam yang lalu, Farha tidak banyak bicara. Lelaki itu hanya fokus menyetir, sesekali menggeser posisi tangannya pada kemudi ketika kendaraan di depan mendadak mengerem. Jalanan menuju arah timur cukup padat untuk ukuran Sabtu sore. Mobil-mobil pribadi berpelat luar kota bercampur dengan sepeda motor yang berusaha mencari celah di antara kemacetan.
"Menengok Bude," jawab Farha akhirnya.
"Oh."
Naya tidak bertanya lagi.
Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi makam ibunya. Dua tahun, mungkin lebih. Ia bahkan tidak yakin. Setelah ibunya meninggal, hidupnya seolah terpotong menjadi dua bagian yang tidak pernah benar-benar saling menyambung. Ada kehidupan sebelum pemakaman itu, dan ada kehidupan setelahnya, yang hingga kini masih terasa seperti milik orang lain.
Ia memalingkan wajah ke arah jendela.
Kota perlahan ditinggalkan. Deretan ruko, bengkel, dan minimarket berganti menjadi hamparan sawah yang mulai menguning. Pohon-pohon jati berdiri berjajar di tepi jalan, daunnya yang kering sesekali beterbangan tertiup angin. Naya mengingat sesuatu yang pernah dikatakan ibunya bertahun-tahun lalu.
"Kalau Ibu mati, Ibu nggak mau dimakamkan di tempat yang seram. Ibu maunya di taman. Biar kalau kalian datang, rasanya kayak lagi berkunjung, bukan kehilangan."
Dulu ia menganggap itu hanya salah satu keanehan ibunya.
Kini, kenangan itu justru membuat dadanya terasa berat.
Mereka tiba menjelang sore. Matahari sudah mulai turun, meninggalkan cahaya keemasan yang menimpa hamparan rumput dan pepohonan di kompleks pemakaman itu. Tempat itu memang lebih menyerupai taman daripada kuburan. Tidak ada tanah merah yang menggunung. Tidak ada nisan yang berdempetan. Hanya jalan setapak dari batu, pohon-pohon peneduh, dan petak-petak hijau yang tertata rapi.
Farha membeli bunga putih di dekat gerbang. Naya berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara.
Ia masih mengenali letak makam ibunya.
Makam ibunya masih berada di tempat yang sama.
Di bawah pohon tabebuya yang kini tumbuh lebih rindang daripada yang diingat Naya. Cabang-cabangnya menjulur lebar, menaungi petak rumput yang tertata rapi di bawahnya. Matahari sore menyelinap melalui sela dedaunan, menjatuhkan bayangan-bayangan bergerak di atas batu nisan yang selama ini hanya hidup sebagai sebuah fakta dalam ingatannya: bahwa ibunya telah tiada.
Langkah Naya melambat.
Ia mengenali nama itu bahkan sebelum cukup dekat untuk membacanya.
Nama ibunya.
Tanggal lahir.
Tanggal kematian.
Semuanya masih sama.
Seolah waktu memang memilih berhenti di tempat ini.
Naya berjongkok perlahan. Telapak tangannya menyentuh permukaan batu nisan yang hangat oleh matahari.
"Assalamualaikum, Bu."
Suara itu keluar begitu saja. Pelan. Nyaris seperti bisikan. Untuk sesaat, ia merasa asing mendengar suaranya sendiri.
Farha berdiri beberapa langkah di belakangnya. Lelaki itu meletakkan bunga yang dibawanya tanpa berkata apa-apa. Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan, membawa aroma rumput yang baru dipangkas dan tanah yang masih menyimpan sisa hujan beberapa hari lalu.
Naya memandangi nama ibunya cukup lama. Ada banyak hal yang seharusnya ingin ia katakan. Tentang rumah yang kini terasa terlalu besar. Tentang Farha yang masih setia menjaganya. Tentang seorang laki-laki bernama Arei yang muncul kembali dari sebuah masa lalu yang tidak lagi ia kenali.
Namun sebelum satu pun kalimat itu sempat terbentuk, pandangannya bergeser.
Di sebelah makam ibunya, ada sebuah nisan lain.
Kecil.
Terlalu kecil.
Naya mengerutkan kening.
Ia tidak mengingatnya.
Atau mungkin, ia memang tidak pernah benar-benar melihatnya.
"Fa."
Farha tidak menjawab.
Naya berdiri perlahan. Ada sesuatu dalam diam sepupunya yang membuat udara di sekeliling mereka mendadak terasa lebih berat.
"Itu makam siapa?"
Angin kembali bertiup. Daun-daun tabebuya bergesekan pelan di atas kepala mereka.
Farha tetap diam.