Bab 17
Jakarta, 3.5 Tahun lalu
Naya mengucek matanya yang mulai terasa panas.
Ini sudah hari kedua ia pulang paling akhir dari laboratorium. Sejak awal pekan, seluruh tim validasi metode praktis hampir tinggal di kantor. Perluasan ruang lingkup pengujian yang harus selesai sebelum surveilans kedua assessor datang membuat semua orang kehilangan kemampuan membedakan hari kerja dan waktu istirahat.
Ia menggeser posisi duduknya. Punggungnya terasa kaku setelah hampir tiga jam terakhir membungkuk di depan layar komputer. Di atas meja, tiga lembar chromatogram masih terbuka, ditemani secangkir kopi yang sudah kehilangan uapnya sejak satu jam lalu.
Ruangan laboratorium yang biasanya riuh kini mulai lengang. Hanya tersisa beberapa orang yang masih bertahan. Cahaya lampu fluoresens yang putih membuat wajah siapa pun tampak lebih pucat dan lebih lelah dari seharusnya.
Naya melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidung.
"Masih belum selesai?"
Suara itu membuatnya mengangkat kepala.
Arei berdiri di depan mejanya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Kemeja biru mudanya sedikit kusut. Dasinya entah sejak kapan sudah dilepas. Di tangan kirinya, ada dua gelas kopi kertas.
Naya menghela napas panjang.
"Kalau selesai, aku udah pulang dari tiga jam yang lalu."
Arei tersenyum kecil. Senyum yang akhir-akhir ini terlalu sering membuat Naya lupa bahwa ia seharusnya menjaga jarak.
"Aku tahu."
Ia meletakkan salah satu gelas kopi di meja Naya.
"Aku juga belum selesai."
Naya melirik jam di pojok layar komputernya.
22.47.
"Aku pikir Mas udah pulang."
Arei menarik kursi kosong di sebelahnya dan duduk.
"Aku mau pulang."
"Lalu?"
"Lalu aku lihat lampu ruanganmu masih nyala."
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa, Naya tidak sanggup langsung membalasnya.
Di luar jendela laboratorium, Jakarta terlihat seperti lautan cahaya yang tidak pernah benar-benar tidur. Di dalam ruangan itu, hanya terdengar dengung pendingin ruangan dan bunyi sesekali keyboard dari meja lain.
"Kamu udah makan?" tanya Arei.
Naya menggeleng.
"Lupa."
"Aku tahu."
Jawaban itu membuat Naya tertawa kecil.
"Kok tahu?"
"Karena kalau lagi stres, kamu selalu lupa makan."
Naya memandang laki-laki itu lebih lama dari yang seharusnya.
Ia tidak ingat kapan tepatnya Arei mulai mengetahui kebiasaan-kebiasaannya. Kapan laki-laki itu mulai menyadari bahwa ia menggigit bagian dalam pipinya saat cemas. Kapan ia tahu bahwa Naya lebih suka duduk di pojok pantry daripada makan di kantin. Kapan ia mulai mengingat hal-hal kecil yang bahkan tidak diingat Naya tentang dirinya sendiri.
"Aku capek, Mas."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Bukan keluhan.
Lebih seperti pengakuan.
Arei menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berdiri.
"Ayo pulang."
Naya tertawa pelan.
"Data ini belum selesai."
"Besok."