Bab 18
Mas Arei,
Maaf karena saya membutuhkan waktu cukup lama untuk membalas email Anda.
Bukan karena saya tidak ingin membalasnya. Justru karena setelah membaca email Anda yang terakhir, saya menyadari bahwa saya tidak lagi sedang mencari seseorang yang hilang dari hidup saya. Saya sedang berusaha menghadapi seseorang yang ternyata pernah menjadi diri saya sendiri.
Selama seminggu terakhir, saya hampir tidak melakukan apa-apa selain mengingat.
Atau mungkin, lebih tepatnya, membiarkan diri saya diingat oleh hal-hal yang selama ini saya kira telah hilang.
Saya mengingat hujan.
Saya mengingat bagaimana lampu-lampu Jakarta selalu terlihat lebih kabur ketika dilihat dari balik kaca mobil yang basah. Saya mengingat perjalanan-perjalanan pulang yang terlalu larut, ketika jalanan sudah mulai lengang dan kita sama-sama berpura-pura bahwa kita sedang membicarakan pekerjaan, padahal yang sebenarnya kita lakukan adalah menunda waktu berpisah beberapa menit lebih lama.
Saya mengingat pantry lantai tujuh.
Saya mengingat suara mesin kopi yang selalu terlalu berisik di malam hari. Saya mengingat bagaimana Anda berdiri di dekat jendela kecil itu sambil memegang cangkir kopi yang terlalu pahit, dan saya berpura-pura datang ke sana karena haus, padahal saya hanya ingin memastikan bahwa Anda tidak sendirian.
Saya mengingat bagaimana Anda selalu mengatakan bahwa kebetulan arah pulang kita sama. Dan saya mengingat betapa bahagianya saya ketika memercayai kebohongan kecil itu.
Saya juga mengingat malam-malam ketika kita pulang terlalu larut dan sama-sama berpura-pura bahwa apa yang sedang tumbuh di antara kita masih bisa dijelaskan dengan logika. Seolah-olah jika kita cukup berhati-hati, cukup dewasa, dan cukup rasional, kita bisa menghentikan sesuatu yang sebenarnya sudah lama terjadi.
Tetapi dari semua hal yang kembali saya ingat, yang paling sulit ternyata bukanlah mengingat Anda.
Yang paling sulit adalah mengingat diri saya sendiri.
Selama ini saya selalu berpikir bahwa yang hilang dari hidup saya adalah seseorang. Ternyata yang benar-benar hilang adalah perempuan yang pernah menjalani semua itu. Perempuan yang pernah tertawa terlalu keras ketika Anda membawakan kopi yang salah. Perempuan yang bisa menghabiskan satu malam penuh di laboratorium hanya karena tidak ingin pulang lebih dulu dari Anda. Perempuan yang ternyata sanggup mencintai seseorang dengan cara yang bahkan sekarang masih sulit saya pahami.
Saya membutuhkan waktu beberapa hari untuk menerima kenyataan itu.
Awalnya saya marah pada perempuan itu.
Saya menghakiminya.
Saya bertanya mengapa ia memilih bertahan dalam hubungan yang sejak awal tidak menjanjikan apa pun selain kehilangan. Saya bertanya mengapa ia memilih mencintai seseorang yang tidak benar-benar bisa ia miliki.
Lalu saya mulai mengingat hal-hal yang lebih kecil.
Cara Anda memandang saya ketika saya terlalu lelah untuk berpura-pura baik-baik saja. Cara Anda mengetahui bahwa saya lupa makan bahkan sebelum saya sendiri menyadarinya. Cara Anda selalu menunggu sampai saya masuk ke apartemen sebelum akhirnya pulang. Cara Anda diam-diam membawakan obat sakit kepala karena tahu saya akan memaksakan diri bekerja sampai larut malam.
Dan saya berhenti bertanya.
Karena tiba-tiba saya mengenali perempuan itu.
Saya mengenali alasan-alasannya. Saya mengenali kebahagiaannya. Dan yang paling menyakitkan, saya menyadari bahwa saya adalah perempuan itu.
Mas, saya membaca berkali-kali bagian ketika Anda menulis bahwa Anda merasa bersalah karena menikah. Saya juga membaca bagian ketika Anda bertanya-tanya apakah selama ini Anda marah kepada seseorang yang sebenarnya sedang terluka.
Karena itu, ada satu hal yang ingin saya katakan kepada Anda.
Tidak.
Anda bukan alasan saya pergi.
Saya ingin Anda percaya pada kalimat itu.
Saya tidak pergi karena membenci Anda. Saya tidak pergi karena marah. Dan saya tidak pernah berharap Anda membawa rasa bersalah itu selama dua tahun terakhir.
Jika saya menghilang, itu adalah keputusan saya.
Pada waktu itu, saya percaya bahwa itu adalah satu-satunya keputusan yang mampu saya ambil. Saya percaya bahwa jika ada seseorang yang harus pergi, maka orang itu adalah saya.
Apakah keputusan itu benar?
Saya tidak tahu.
Sejujurnya, saya tidak yakin ada satu pun keputusan yang benar pada masa itu.
Yang saya tahu hanyalah bahwa kita pernah berusaha mencintai satu sama lain dengan cara yang salah, tetapi perasaan yang kita miliki saat itu tidak pernah terasa palsu.
Dan meskipun saya berharap saya bisa membenci semua kenangan itu, ternyata saya tidak bisa.
Karena di antara semua hal yang akhirnya kembali saya ingat, ada satu hal yang tetap tidak berubah.
Saya pernah bahagia.
Benar-benar bahagia.
Dan saya tidak ingin membohongi diri saya sendiri tentang itu.
Anda pernah bertanya mana yang lebih sulit diterima: kehilangan saya, atau kemungkinan bahwa Anda adalah salah satu alasan saya pergi.
Saya rasa, selama seminggu terakhir, saya juga terus mengajukan pertanyaan yang hampir sama kepada diri saya sendiri.
Mana yang lebih sulit diterima: bahwa saya pernah kehilangan Anda, atau bahwa saya pernah menjadi seseorang yang begitu mencintai Anda hingga akhirnya kehilangan dirinya sendiri.
Saya masih belum menemukan jawabannya.
Mungkin saya memang tidak akan pernah menemukannya.
Tetapi ada satu hal yang akhirnya saya pahami.
Selama ini, kita berdua terlalu sibuk mencari siapa yang harus disalahkan atas apa yang terjadi pada kita.
Padahal mungkin tidak ada.
Mungkin yang terjadi hanyalah dua orang yang bertemu pada waktu yang salah, saling mencintai lebih dalam daripada yang seharusnya, lalu menghabiskan sisa hidupnya untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya kehilangan mereka.
Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah email ini.
Saya tidak tahu apakah kita masih perlu saling mengingat.