Bab 19
Naya duduk sendirian di hadapan dr. Winengku.
Pagi itu, ruang praktik psikiater di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari pukul sembilan menembus tirai vertikal berwarna krem, jatuh dalam garis-garis panjang di lantai parket. Di sudut ruangan, aroma lavender dari diffuser elektrik bercampur dengan aroma kertas dan kopi yang samar. Tidak ada suara selain dengung pelan pendingin ruangan dan sesekali bunyi kendaraan yang melintas jauh di luar jendela.
Sudah hampir tiga menit berlalu sejak dr. Winengku mempersilahkannya duduk.
Namun Naya belum mengucapkan sepatah kata pun.
Ia duduk tegak di kursi empuk berwarna abu-abu, kedua telapak tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Jemarinya dingin. Ia memperhatikan pola serat kayu di meja dokter itu karena rasanya lebih mudah memandang sesuatu yang mati daripada harus memandang seseorang yang mungkin mengetahui terlalu banyak tentang dirinya.
Dr. Winengku tidak mendesaknya berbicara.
Laki-laki berusia lima puluhan itu hanya duduk di seberang meja dengan tenang, membiarkan keheningan mengambil bentuknya sendiri. Sudah dua tahun Naya mengenalnya. Sudah dua tahun pula dokter itu menyaksikan seseorang yang berusaha hidup tanpa mengetahui alasan mengapa ia pernah ingin mati.
"Naya."
Suara dr. Winengku lembut. Hampir seperti seseorang yang sedang berbicara kepada anak kecil yang ketakutan.
"Kamu datang sendirian hari ini."
Naya mengangguk.
"Iya."
"Farha tahu kamu ke sini?"
"Iya."
Jawaban itu keluar otomatis.
Setelah itu, sunyi kembali turun.
Naya menundukkan pandangan. Sejak memasuki ruangan itu, ia menyadari bahwa dirinya sedang memegang sesuatu dengan terlalu erat. Kuku-kukunya menekan kulit telapak tangannya sendiri hingga terasa nyeri.
"Apa yang terjadi minggu ini?" tanya dr. Winengku pelan.
Pertanyaan itu seharusnya sederhana.
Namun Naya merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya.
Ia mengangkat wajah.
Lalu, tanpa peringatan, matanya mulai terasa panas.
"Saya ingat."
Hanya dua kata.