Untuk Hidup yang Tidak Kita Jalani

T. Suraya
Chapter #20

Bab 20

Bab 20

Farha sudah berdiri di ambang pintu kamar Naya selama beberapa menit sebelum ia menyadari bahwa sedari tadi ia hanya memandangi sepupunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kamar itu dipenuhi cahaya sore yang mulai menguning. Matahari yang bergerak turun di balik pohon mangga halaman belakang memantulkan semburat keemasan pada dinding krem dan permukaan meja rias. Naya duduk membelakanginya, menghadap cermin bundar yang telah bertahun-tahun menempati sudut kamar itu. Rambut sebahunya yang hitam disisir perlahan, lalu dibiarkan jatuh begitu saja di atas kardigan rumah yang dikenakannya.

Di atas tempat tidur, beberapa potong pakaian berserakan dalam keadaan terbuka. Sebuah gaun hitam sederhana. Blus putih berbahan katun. Kardigan rajut berwarna krem. Pemandangan yang seharusnya biasa itu justru membuat dada Farha terasa sesak.

Karena Naya tidak pernah seperti ini.

Biasanya, sepupunya itu hanya akan membuka lemari, mengambil pakaian pertama yang dirasa nyaman, lalu mengenakannya tanpa berpikir panjang. Tetapi sore ini, Naya tampak seperti seseorang yang sedang bersiap menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pergi keluar rumah.

Dan Farha tahu, sejak pagi tadi, ada sesuatu yang telah berubah.

Pagi itu, Naya pergi menemui dr. Winengku sendirian. Ia menolak ketika Farha menawarkan untuk mengantar. Menolak ketika Farha bertanya untuk kesekian kalinya apakah ia yakin baik-baik saja. Sebelum keluar rumah, Naya hanya menoleh sebentar dan tersenyum tipis.

Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan, Fa.

Kalimat itu terdengar sederhana ketika diucapkan.

Namun semakin sore bergerak menuju petang, semakin besar pula ketakutan yang tumbuh di dalam diri Farha.

"Mau ke mana, Nay?"

Suara itu akhirnya keluar juga.

Naya tidak langsung menjawab. Ia meletakkan sisir di meja rias, lalu berdiri dan mengambil sebuah gaun selutut berpotongan sederhana berwarna gading dari atas tempat tidur. Gaun itu diangkatnya di depan tubuh, seolah sedang meminta persetujuan dari bayangannya sendiri yang terpantul di cermin.

Setelah beberapa saat, ia mengangguk pelan.

Barulah ia menoleh.

"Aku harus menemui seseorang."

Seketika itu juga, jantung Farha seperti berhenti berdetak.

Ia tahu.

Bahkan sebelum nama itu diucapkan, ia sudah tahu.

"Jangan bilang..."

Naya menundukkan pandangan sesaat. Ketika ia kembali mengangkat wajahnya, ada ketenangan yang justru membuat Farha semakin takut.

"Aku harus ketemu Mas Arei."

Kalimat itu diucapkan dengan suara pelan. Tidak ada keraguan di sana. Tidak ada kemarahan. Tidak ada air mata.

Dan justru karena itulah sesuatu di dalam diri Farha akhirnya pecah.

"Jangan."

Kata itu keluar lebih keras daripada yang ia maksudkan.

Naya terdiam.

"Aku harus, Fa."

"Nggak."

"Aku harus."

"Nggak."

Lihat selengkapnya