Bab 21
Arei datang jauh lebih awal daripada waktu yang mereka sepakati.
Ketika pelayan mengantarkan segelas americano ke mejanya, jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul tiga. Ia mengangguk pelan, mengucapkan terima kasih, lalu membiarkan cangkir itu mengepulkan uap tanpa disentuh.
Ia memilih meja di sudut kafe yang langsung menghadap pintu masuk.
Dari sana, setiap orang yang datang akan lebih dulu tertangkap oleh pandangannya.
Sudah dua kali pelayan yang sama menghampiri dan menanyakan apakah ia ingin menambah pesanan. Setiap kali itu pula Arei hanya menggeleng. Kopinya perlahan kehilangan panas, meninggalkan lingkar tipis di dinding cangkir. Ia tetap tidak meminumnya.
Tangannya berkali-kali bergerak sendiri. Sesaat memeriksa jam tangan, lalu meraih ponsel, membuka layar, menatap beberapa detik tanpa benar-benar membaca apa pun, kemudian menguncinya kembali. Beberapa menit kemudian, gerakan yang sama terulang, seolah tubuhnya sedang mencari sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh waktu.
Di luar, langit Yogyakarta diselimuti awan kelabu. Cahaya sore meredup lebih cepat, memantul kusam di kaca-kaca pertokoan sepanjang Jalan Tamansiswa. Sesekali angin menggeser daun-daun yang mengering di trotoar, membawa pertanda hujan yang belum juga turun.
Arei mencoba menarik napas panjang.
Tidak banyak berubah.
Dadanya tetap terasa sempit.
Selama dua tahun terakhir, ia hidup bersama kenangan tentang Naya. Kenangan memang kejam, tetapi kenangan tidak pernah membalas tatapan. Kenangan tidak pernah bertanya mengapa ia memilih menikah. Kenangan juga tidak pernah menunjukkan kepadanya wajah seorang perempuan yang harus menanggung hidup setelah ia tinggalkan.
Sore ini, yang akan datang bukan lagi kenangan.
Pintu kaca bergeser pelan.
Suara lonceng kecil di atas kusennya berdenting singkat.
Arei mengangkat kepala.
Naya berdiri di ambang pintu.
Ia mengenakan gaun berwarna gading yang sederhana, dipadukan dengan kardigan rajut tipis yang menggantung longgar di bahunya. Rambutnya terurai melewati bahu, sedikit bergelombang di bagian ujung. Riasan tipis hanya membuat wajahnya tampak lebih pucat.
Namun bukan itu yang membuat Arei terpaku.
Tatapan Naya.
Beberapa minggu lalu, tatapan itu dipenuhi kebingungan. Perempuan itu memandangnya seperti seseorang yang sedang berusaha mengenali wajah dari mimpi yang nyaris terlupakan.
Kini kebingungan itu tidak ada lagi.
Yang tersisa adalah ketenangan yang terasa begitu asing.
Sejenak Arei lupa menarik napas.
Ia tidak tahu apa saja yang telah berhasil diingat Naya.
Ia hanya tahu, apa pun yang kembali kepada perempuan itu, bukanlah sesuatu yang ringan.
Dan sejak menerima email terakhir Naya, ia benar-benar berharap waktu dapat bergerak mundur.