Bab 22
Di luar, langit Yogyakarta mulai berubah warna. Sisa cahaya sore menggantung di sela-sela awan tipis yang bergerak perlahan di atas Jalan Tamansiswa. Arus kendaraan pulang kerja mulai memenuhi jalan, lampu-lampunya menyala satu demi satu ketika matahari semakin rendah. Dari pengeras suara kafe mengalun lagu jazz lama yang nyaris tenggelam oleh bunyi mesin espresso dan percakapan para pengunjung.
Segalanya tampak berjalan seperti biasa.
Orang-orang datang, memesan minuman, tertawa, lalu kembali melanjutkan hidup mereka masing-masing.
"Aku pesenin teh hangat buat kamu," ujar Arei setelah cukup lama mereka membiarkan keheningan mengisi meja kecil itu. "Aku nggak tahu kamu masih suka atau nggak."
Pandangan Naya jatuh pada cangkir putih di depannya. Uap tipis mengepul dari permukaannya, membawa aroma melati yang samar. Tanpa disadarinya, kedua telapak tangannya bergerak mendekat, mengurung cangkir itu di antara jemari yang terasa dingin.
"Aku masih suka."
Tidak ada jawaban.
Ketika Naya mengangkat wajah, ia mendapati Arei sedang memejamkan mata sesaat sebelum kembali menatapnya. Laki-laki itu menarik napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi.
Naya tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Ia hanya menangkap kelelahan yang membuat wajah Arei tampak jauh lebih tua dibandingkan dua tahun lalu.
Ia menundukkan pandangan kembali ke cangkir di tangannya. Hangat keramiknya merambat perlahan ke kulit, tetapi tidak banyak membantu mengusir dingin yang sejak tadi mengendap di dalam dadanya.
"Aku sempat mikir aku nggak bakal datang," katanya.
Arei mengangguk.
"Aku juga."
Sudut bibir Naya terangkat tipis. Senyum itu muncul begitu saja, kecil dan canggung, lalu menghilang sebelum sempat benar-benar menjadi senyum. Arei membalasnya dengan anggukan pelan, dan sesudahnya keheningan kembali mengambil tempat di antara mereka.
Aneh, pikir Naya. Padahal selama berminggu-minggu mereka saling berkirim email yang begitu panjang. Ada begitu banyak hal yang berhasil mereka tuliskan. Namun ketika akhirnya duduk saling berhadapan seperti ini, kata-kata justru terasa jauh lebih sulit ditemukan.
Ia baru menyadari bahwa Arei sedang memandanginya.
Tatapan itu bertahan cukup lama hingga membuat Naya tanpa sadar membenarkan letak kardigan yang dikenakannya. Ia mengusap pelan ujung lengan bajunya, lalu mengangkat wajah lagi.
"Kamu kurusan," kata Arei.
Naya terkekeh pelan.
"Aku juga sering ngomong begitu ke diri sendiri."
Untuk sesaat, sudut bibir laki-laki itu ikut terangkat. Senyum yang sangat tipis. Hampir tak terlihat. Namun sesaat kemudian wajahnya kembali tenang, meninggalkan ruang di antara mereka yang sekali lagi dipenuhi suara hujan tipis di luar kaca dan denting cangkir dari balik meja bar.
Naya memandangi laki-laki di hadapannya dalam diam.
Begitu banyak yang berubah. Ada uban tipis yang mulai muncul di pelipisnya. Garis-garis halus di sekitar matanya terlihat lebih jelas daripada yang diingat Naya. Namun ada satu hal yang tetap sama. Cara Arei menundukkan kepala ketika sedang mencari kalimat. Cara jemarinya bertaut pelan di atas meja. Cara ia menghindari tatapan Naya setiap kali percakapan mulai menyentuh sesuatu yang lebih dalam.
Tubuh manusia rupanya menyimpan ingatan lebih lama daripada kepalanya.
Dan kesadaran itu membuat dada Naya kembali terasa sesak.
Untuk beberapa detik, Naya tidak lagi melihat meja kayu yang memisahkan mereka.
Yang hadir di hadapannya adalah hamparan rumput yang masih basah oleh hujan seminggu lalu. Pohon tabebuya yang menggugurkan kelopak-kelopak merah muda di atas tanah. Dua batu nisan yang berdampingan. Satu bertuliskan nama ibunya. Satu lagi begitu kecil hingga nyaris luput dari pandangan orang yang datang untuk pertama kali.
Di situlah semuanya kembali.
Suara Farha yang bergetar.
Tanah yang terasa berputar di bawah telapak kakinya.
Dan kenyataan bahwa selama ini ia bukan hanya kehilangan ingatan.
Ia pernah kehilangan seorang anak.
Pandangannya kembali jatuh pada laki-laki yang duduk di seberang meja.
Jemari Arei bertaut longgar di samping cangkir kopi yang sudah dingin. Ada gurat lelah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pelipisnya mulai dipenuhi uban halus. Waktu rupanya bekerja diam-diam pada mereka berdua.
Kalimat itu naik perlahan ke tenggorokannya.
Mas... kita pernah punya anak.
Begitu sederhana.
Ia hanya perlu mengucapkannya.
Lalu semuanya akan berubah.
Namun sebelum kata-kata itu sempat lepas, bayangan lain datang menyela.
Kinan.
Perempuan yang tidak pernah benar-benar dikenalnya, tetapi selalu hadir di setiap sudut kenangannya tentang Arei.
Naya menarik napas pelan. Ujung jemarinya menghangat karena terlalu lama menggenggam cangkir teh. Ia sadar, satu kalimat saja cukup untuk mengubah begitu banyak kehidupan. Bukan hanya hidupnya. Bukan hanya hidup Arei. Ada orang-orang lain yang akan ikut memikul beban dari sebuah masa lalu yang tak mungkin lagi diperbaiki.
"Aku minta maaf, Nay."
Suara Arei memutus pikirannya.
Naya mengangkat wajah.
Baru kali itu ia menyadari mata laki-laki itu memerah. Tatapannya tampak lelah, seolah seminggu terakhir tidak benar-benar memberinya kesempatan untuk beristirahat.
"Aku tahu aku nggak berhak minta maaf."
Sesudahnya terdengar tawa pendek yang nyaris tidak menyerupai tawa. Hanya hembusan napas yang dipaksakan keluar.
"Tapi aku nggak tahu lagi harus bilang apa."
Naya memandangnya cukup lama.
Dua tahun lalu, mungkin ia akan menangis mendengar kalimat itu. Ia akan bertanya mengapa semua ini harus terjadi kepada mereka. Mengapa laki-laki yang begitu ia cintai memilih jalan yang berbeda.
Kini air mata itu tidak datang.
Yang tinggal hanyalah kesedihan yang tenang. Kesedihan yang telah kehilangan amarahnya.
"Kamu nggak perlu minta maaf."
Arei menggeleng pelan.
"Perlu."
"Tidak."
"Naya..."
Cara laki-laki itu menyebut namanya membuat sebuah kenangan singkat melintas begitu saja. Malam ketika ia demam sepulang lembur. Arei menyelimutinya di sofa apartemen sambil berkali-kali memanggil namanya dengan nada yang sama, seakan nama itu sendiri dapat menurunkan suhu tubuhnya.
"Aku ninggalin kamu."
Kalimat itu jatuh begitu pelan.
Suara mesin kopi, denting sendok, bahkan percakapan dari meja sebelah seperti menjauh dari pendengarannya.
Naya kembali menatap wajah di hadapannya.
Wajah yang pernah menyaksikan setiap perubahan kecil pada tubuhnya, tetapi tidak pernah sempat mengetahui perubahan yang paling besar.
Wajah yang pernah mengecup keningnya sebelum pulang.
Wajah yang tidak pernah tahu bahwa beberapa minggu setelah itu, ia memegang hasil USG dengan kedua tangan yang gemetar. Bahwa ia pernah membayangkan seorang anak laki-laki berlari di halaman rumah. Bahwa ia pernah memilih sebuah buku cerita untuk dibacakan sebelum tidur.
Mas... kita pernah punya anak.
Kalimat itu kembali mengetuk pelan di dalam dirinya.
Ia memejamkan mata sekejap.
Ketika membukanya lagi, Arei masih duduk di tempat yang sama, menunggunya dengan sabar.
Dan justru pada saat itulah Naya memahami sesuatu.
Tidak semua kebenaran harus diucapkan agar menjadi nyata.
Ada kehilangan yang tetap hidup, meskipun hanya diketahui oleh satu orang.
"Nggak," katanya pelan.
Arei mengangkat wajah.
"Kamu nggak ninggalin aku."
Senyum tipis muncul di sudut bibir Naya.
Senyum yang lebih menyerupai penerimaan daripada kebahagiaan.
"Kita cuma datang pada waktu yang nggak pernah berpihak sama kita."
Sesudah itu, tidak ada lagi yang perlu mereka tambahkan.
Keheningan yang menyusul terasa lebih jujur daripada semua kalimat yang berhasil mereka ucapkan sore itu.
Gerimis yang sejak tadi menggantung di langit akhirnya turun. Rintik-rintiknya membias di permukaan kaca, menghapus pantulan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Seorang pelayan melintas membawa dua cangkir kopi, sementara dari sudut ruangan terdengar tawa beberapa mahasiswa yang sedang mengobrol. Tidak ada yang tampak berbeda di dalam kafe itu.
Naya memandang ke luar jendela sesaat. Ada sesuatu yang terasa ganjil ketika menyadari bahwa dunia tetap berjalan sebagaimana mestinya, sementara hidupnya seperti baru saja diputar kembali ke masa yang telah lama dikuburkan.
"Aku bohong."
Suara Arei menarik pandangannya kembali.
"Dua tahun ini aku terus bilang ke diri sendiri kalau aku marah sama kamu."
Naya tidak menyela. Ia membiarkan laki-laki di hadapannya melanjutkan.
"Aku bilang ke diri sendiri kalau kamu pergi karena kamu benci sama aku. Karena kamu nggak sanggup lihat aku nikah. Karena kamu pengin mulai hidup baru."
Arei berhenti. Jemarinya saling bertaut di atas meja, lalu terlepas lagi. Gerakan kecil itu begitu akrab bagi Naya. Dulu, ia sering melihat jemari itu bergerak seperti sekarang setiap kali mereka menghadapi hasil validasi yang tidak kunjung sesuai atau audit yang membuat semua orang pulang larut malam.
"Padahal..." Suara Arei mengecil. "Aku tahu itu bohong."
Di luar, hujan semakin rapat membentur kaca.
"Aku nggak pernah marah karena kamu pergi."
Kalimat berikutnya keluar setelah jeda yang cukup panjang.
"Aku marah karena aku ngebiarin kamu pergi."
Tanpa sadar, jemari Naya mengerat di sekeliling cangkir teh hangatnya.
"Aku pikir aku lagi melakukan hal yang benar." Arei menarik napas pelan. "Aku nikah karena aku pikir itu keputusan yang benar. Aku pikir kalau aku tetap menjalani hidup seperti yang seharusnya, semuanya bakal selesai."
Ia berhenti lagi.
"Aku pikir kamu bakal marah. Terus benci sama aku. Lama-lama lupa."
Naya menunggu.
"Aku berharap kamu benci sama aku."
Kalimat itu membuat dadanya mengencang.
"Karena kalau begitu..." Arei menunduk sebentar sebelum kembali mengangkat wajah. "Aku bisa percaya kalau semua ini memang harus terjadi."
Suara hujan memenuhi ruang di antara mereka.
"Tapi kamu malah hilang."