Epilog
Pohon tabebuya itu sedang berbunga ketika Naya datang.
Kelopak-kelopak merah muda jatuh perlahan dari dahan-dahan yang tinggi, berputar sesaat sebelum akhirnya beristirahat di atas rumput yang masih menyimpan embun semalam. Hujan turun cukup lama tadi malam, dan pagi di Gunungkidul selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat dunia tampak terlalu tenang bagi seseorang yang pernah kehilangan begitu banyak hal.
Naya berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang sudah dihafalnya di luar kepala. Ia tidak lagi membawa bunga.
Pada tahun pertama, ia selalu datang dengan bunga. Mawar putih. Lily. Kadang-kadang krisan. Ia pernah percaya bahwa ada jenis bunga tertentu yang mampu menjelaskan kesedihan seorang ibu kepada anak yang tidak pernah sempat membuka mata. Namun lama-kelamaan, ia menyadari bahwa tidak ada bunga yang cukup besar untuk menampung kehilangan seperti itu. Yang tersisa akhirnya hanya dirinya sendiri. Dan sebuah buku cerita.
Buku itu berada di pelukannya sekarang.
Sampulnya sudah mulai kusam. Sudut-sudut halamannya sedikit melengkung karena terlalu sering dibuka. Naya membeli buku itu hampir dua setengah tahun lalu, ketika usia kandungannya memasuki enam bulan dan dokter kandungannya memutar layar USG ke arahnya sambil tersenyum.
"Laki-laki."
Ia masih mengingat bagaimana tangannya bergetar saat menerima lembar hasil pemeriksaan itu. Masih mengingat bagaimana ia pulang sambil menangis sendirian di dalam mobil. Bukan karena sedih. Justru karena terlalu bahagia. Karena akhirnya kini dalam hidupnya, ia merasa ada seseorang yang akan mencintainya tanpa syarat.
Dalam perjalanan pulang hari itu, ia sempat berhenti di sebuah toko buku. Ia berdiri hampir satu jam di depan rak buku anak-anak, membolak-balik puluhan buku cerita sambil membayangkan suara kecil yang suatu hari akan meminta dibacakan cerita sebelum tidur. Pada akhirnya, ia memilih buku ini. Buku tentang seekor beruang kecil yang tersesat dan belajar menemukan jalan pulangnya.
Naya berhenti di depan dua makam yang berdampingan.
Yang satu adalah makam ibunya. Yang satu lagi terlalu kecil untuk disebut sebagai makam seorang manusia. Ia berjongkok perlahan. Angin pagi bergerak lembut, membawa aroma tanah basah dan kelopak tabebuya yang mulai layu di atas rumput.
"Halo, Nak."
Suara itu keluar begitu saja. Lembut. Akrab. Seolah ia baru pulang dari perjalanan yang sangat panjang. Untuk beberapa saat, Naya hanya memandangi batu nisan kecil di hadapannya. Tidak ada nama yang terukir di sana.
Karena ia tidak pernah sempat memberinya nama.
Padahal dulu ada begitu banyak nama yang disimpannya diam-diam. Nama yang ia tulis di aplikasi catatan ponselnya. Nama yang ia bisikkan sebelum tidur. Nama yang ia bayangkan akan dipanggil seseorang dari ruang tamu, dari halaman sekolah, atau dari balik pintu kamar.
Namun ketika semuanya berakhir, ia tidak sanggup memilih satu pun. Karena memberi nama berarti mengakui bahwa seseorang itu benar-benar pernah ada. Dan dulu, Naya tidak sanggup hidup dengan kenyataan itu.
Jemarinya bergerak pelan mengusap rumput yang tumbuh rapi di atas makam kecil itu.
Dulu, ia datang ke tempat ini untuk meminta maaf. Meminta maaf karena melupakan. Meminta maaf karena gagal melindungi. Meminta maaf karena setelah kehilangan anaknya, hal pertama yang ia inginkan bukanlah bertahan hidup.
Melainkan mengakhirinya.
Ia masih mengingat malam itu dengan terlalu jelas.
Masih mengingat bagaimana jemarinya mencengkeram kemudi hingga ruas-ruasnya memutih. Bagaimana lampu-lampu jalan berubah menjadi garis-garis cahaya yang kabur karena air mata. Dan bagaimana, ia berharap bahwa jika ia melepaskan kendali barang sedetik saja, semua rasa sakit itu akan berhenti.
Ia tidak pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun.
Tidak kepada Farha.