Untukmu,kakak.

Saya seani
Chapter #1

Chapter 1

Namaku Ghali Reemar—putra kedua dari pasangan Dio Dominic Reemar dan Tara Reemar. Di atas kertas, hidupku tampak sempurna. Aku memiliki seorang kakak, Yuta Reemar, yang terpaut usia delapan tahun dariku. Jarak itu justru membuatnya menjelma menjadi sosok yang lebih dari sekadar saudara. Ia adalah pelindung, tempatku bersandar, bahkan pahlawan di dunia kecilku.

Kami hidup dalam kemewahan. Ayah adalah pemilik perusahaan elektronik ternama yang kini tengah melebarkan sayapnya hingga ke Malaysia. Sementara ibu, Tara Reemar, adalah desainer terkenal yang namanya sering menghiasi berbagai majalah. Banyak orang mungkin iri pada kehidupanku—rumah besar, fasilitas lengkap, dan nama keluarga yang terpandang.

Namun, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang tersembunyi di balik semua itu.

Rumah kami terlalu luas untuk dihuni hanya oleh kesepian. Dinding-dindingnya terasa dingin, lorong-lorongnya sunyi, dan setiap sudutnya seakan menyimpan gema rindu yang tak pernah terjawab. Ayah dan ibu hampir tidak pernah pulang. Waktu mereka habis untuk pekerjaan, rapat, dan perjalanan bisnis yang tiada akhir.

Kami hanya bisa berkumpul... Satu kali dalam setahun.

Itu pun tak pernah lebih dari satu jam.

Satu jam yang seharusnya hangat—diisi dengan makan bersama atau sekadar menonton televisi—selalu berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan. Suara tawa yang kuharapkan tak pernah benar-benar ada. Yang terdengar justru nada tinggi, kata-kata tajam, dan pertengkaran yang seolah tak ada ujungnya.

Anehnya, di tengah semua itu... Aku selalu menjadi pusat kesalahan.

Tatapan mereka berubah dingin. Kata-kata yang keluar terasa seperti tuduhan. Seolah kehadiranku adalah beban, bukan alasan untuk mereka pulang.

Aku sering bertanya dalam diam—apa aku yang salah?

Di saat anak-anak lain memeluk orang tua mereka sebelum tidur, aku hanya bisa memeluk bayanganku sendiri. Di saat mereka merasakan hangatnya keluarga, aku belajar memahami arti sepi sejak terlalu dini.

Dan di tengah semua itu, hanya Yuta yang tetap berdiri di sisiku.

Namun bahkan seorang pahlawan pun... Tidak selalu bisa menyelamatkan segalanya.

Mungkin, di usiaku yang baru menginjak lima tahun, aku belum benar-benar mengerti apa arti dari semua ini. Mengapa ayah dan ibu selalu bertengkar… Mengapa rumah yang besar ini justru terasa begitu sempit dan menyesakkan.

Yang aku tahu, setiap kali suara mereka meninggi, hatiku ikut bergetar.

Malam itu, aku melihat ibu duduk sendiri di sudut ruangan. Bahunya bergetar pelan. Air mata mengalir tanpa suara, seolah ia berusaha menyembunyikan luka yang terlalu dalam untuk diucapkan.

Aku mendekat perlahan, langkah kakiku terasa ragu.

“Ibu… Kenapa ibu menangis?” tanyaku lirih, hampir tak terdengar.

Ibu terkejut. Matanya yang sebelumnya dipenuhi amarah kini beralih padaku. Ada sesuatu di sana—campuran antara lelah, sakit, dan penyesalan. Dengan cepat ia menyeka air matanya, seakan tak ingin aku melihatnya rapuh.

Namun sudah terlambat.

Ia menarikku ke dalam pelukannya, begitu erat… Seolah aku adalah satu-satunya hal yang tersisa untuknya.

“Maafkan ibu, Nak…” Bisiknya pelan, suaranya bergetar di telingaku.

Aku tidak mengerti apa yang harus dimaafkan.

Aku hanya diam dalam pelukannya, mendengarkan detak jantungnya yang tak tenang. Untuk pertama kalinya, aku merasa… Ibu yang selama ini terlihat kuat, ternyata juga bisa hancur.

Dan anehnya, di usia sekecil itu, aku mulai belajar satu hal—

Bahwa tangisan orang dewasa… Jauh lebih menyakitkan daripada tangisanku sendiri.

Keesokan harinya, suasana rumah terasa berbeda. Ada semangat yang tak biasa terpancar dari wajah ibu. Pagi itu, ia mengajak kedua putranya untuk pergi ke pusat ibu kota—tempat di mana hasil karyanya dipamerkan untuk pertama kalinya.

“Ayo, kita berangkat lebih pagi,” ucap ibu dengan mata berbinar, seolah menyimpan kebahagiaan yang sudah lama ia pendam.

Kak Yuta yang saat itu berusia 13 tahun dan duduk di bangku kelas 2 SMP, menjadi yang paling antusias. Ia berlari ke sana kemari, menyiapkan diri dengan tergesa-gesa. Saking bersemangatnya, ia bahkan tidak sadar kemeja yang dikenakannya terbalik.

Aku yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil, sementara ibu tak mampu menahan tawa.

“Yuta… Yuta…” Ujar ibu sambil tertawa pelan.

“Kamu ini, kalau semangat suka lupa segalanya.”

Dengan penuh kasih, ibu meraih bahu Yuta, lalu membalikkan kemejanya dengan lembut. Jemarinya merapikan kerah yang sedikit kusut, seolah ingin memastikan putranya tampil sempurna di hari yang begitu berarti.

Di balik tawa dan kehangatan itu, tersimpan sesuatu yang lebih dalam.

Hari ini bukan sekadar perjalanan biasa.

Ini adalah hari di mana kerja keras ibu akhirnya diakui. Hari di mana ayah—yang selama ini selalu sibuk dan jarang hadir—memilih untuk cuti demi mereka.

Sebuah keputusan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Permintaan ibu yang sederhana… Akhirnya dikabulkan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keluarga kecil itu akan pergi bersama—bukan sebagai orang-orang yang terpisah oleh kesibukan, tetapi sebagai satu kesatuan yang utuh.

Aku menatap mereka diam-diam.

Di tengah tawa itu, entah kenapa hatiku terasa hangat… Sekaligus sedikit asing.

Saat kami sudah bersiap di depan rumah, koper kecil telah dimasukkan ke dalam mobil, dan mesin mulai menyala pelan… Suasana yang semula hangat perlahan berubah menjadi tegang.

Ibu tiba-tiba menghentikan langkahku.

“Ghali… Di rumah saja, ya,” ucapnya pelan, namun tegas.

Aku terdiam.

Belum sempat aku bertanya, ibu langsung menoleh ke arah ayah.

“Mas, ayo. Kita berangkat sekarang. Yuta, cepat naik ke mobil.”

Perkataan itu seperti memotong udara di sekitarku.

Kak Yuta yang sudah membuka pintu mobil langsung menoleh dengan wajah tak percaya.

“Apa? Kenapa Ghali nggak ikut?” suaranya meninggi.

Ayah hanya diam sejenak, seolah ragu, tapi tetap berdiri di dekat mobil.

“Sudah, Yuta. Ikuti kata ibu,” jawabnya singkat, berusaha terdengar tegas.

“Enggak!” Yuta menutup pintu mobil dengan keras. “Kalau Ghali nggak ikut, aku juga nggak mau ikut!”

Aku hanya berdiri membeku di tempat. Dadaku terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menahan napasku.

“Ayah, ini nggak adil!” lanjut Yuta, suaranya mulai bergetar. “Kita pergi bareng, ya harus bareng!”

Ibu menghela napas panjang, kesabarannya mulai terkikis.

“Yuta, jangan keras kepala! Ini bukan urusanmu.”

“Justru ini urusanku, Bu! Ghali itu adikku!”

Suasana memanas dalam sekejap.

Ayah akhirnya melangkah mendekat, wajahnya mulai berubah serius.

“Cukup, Yuta!” bentaknya. “Jangan melawan orang tua!”

“Tapi Ayah—”

“Sudah!” potong ibu dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya. “Ghali tidak ikut. Titik.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Hening.

Tak ada yang berani berbicara selama beberapa detik.

Aku menunduk, menggenggam ujung bajuku erat-erat. Rasanya seperti… Aku memang tidak diinginkan di sana.

Namun Yuta kembali melangkah, berdiri di depanku.

“Kalau Ghali nggak ikut… Aku juga nggak akan pergi,” ucapnya pelan, tapi penuh tekad.

Ayah dan ibu saling pandang.

Dan seperti percikan api yang tersulut bensin, pertengkaran di antara mereka pun tak terhindarkan.

“Ini semua karena kamu terlalu memanjakan mereka!” suara ayah mulai meninggi.

“Memanjakan?” balas ibu tajam. “Aku hanya ingin yang terbaik!”

“Terbaik? Dengan memisahkan mereka seperti ini?!”

“Mas tidak mengerti!”

“Justru kamu yang tidak pernah mau menjelaskan!”

Suara mereka saling bertabrakan, semakin keras, semakin tak terkendali.

Akhirnya, ibu mau tak mau menuruti permintaan Yuta untuk mengajak Ghali ikut bersama mereka.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa janggal. Ayah tak henti menatap layar ponselnya, jarinya bergerak cepat seolah dunia di luar sana lebih penting daripada yang ada di dalam mobil ini. Sementara itu, ibu sibuk merapikan penampilannya sendiri dan Yuta, memastikan tak ada satu helai rambut pun yang terlihat berantakan.

Aku? Aku hanya diam di kursi belakang, tenggelam dalam duniaku sendiri. Mobil-mobilan kecil di tanganku menjadi satu-satunya hiburan, ditemani bibi yang sesekali tersenyum lembut ke arahku.

Perjalanan terasa begitu panjang… Melelahkan… Hingga tanpa sadar kelopak mataku menjadi berat dan akhirnya aku terlelap.

Namun sayangnya, tidurku tak pernah benar-benar tenang.

Suara dering ponsel ayah terus berbunyi—berulang, memecah keheningan, menusuk hingga ke dalam mimpiku. Kadang samar, kadang begitu jelas, seolah tak ingin memberiku kesempatan untuk beristirahat.

Aku terbangun sesaat.

Lampu-lampu jalan berkelebat di balik jendela, menciptakan bayangan yang bergerak cepat di dalam mobil. Suasana terasa dingin… Asing.

Dari depan, terdengar suara ibu yang mulai tak sabar.

“Mas, itu teleponnya dari tadi…”

Ayah hanya mendesah, lalu mengangkatnya dengan nada suara yang datar—terlalu datar untuk sebuah percakapan biasa.

Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Tapi entah kenapa… Ada sesuatu yang terasa berat.

Sesuatu yang membuat dadaku ikut sesak, meski aku belum paham apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Di sampingku, bibi menepuk pelan bahuku.

“Tidur lagi saja,” bisiknya lembut.

Aku mengangguk pelan, memeluk mobil-mobilan itu lebih erat, seakan benda kecil itu bisa melindungiku dari perasaan aneh yang perlahan merayap.

Namun sebelum mataku kembali terpejam, aku sempat melirik ke depan.

Tak lama kemudian, mobil silver itu akhirnya berhenti.

Keramaian langsung menyambut kami. Lampu-lampu terang menyorot ke berbagai arah, sementara para tamu berdatangan dengan balutan pakaian terbaik mereka—elegan, mewah, seolah masing-masing ingin menjadi pusat perhatian.

Beberapa wartawan tampak sudah bersiaga, kamera di tangan, menunggu… Seseorang.

Menunggu ibu.

Di depan gedung, sebuah papan besar terpampang jelas—

Tara Reemar.

Nama itu berdiri megah, dikelilingi para model dan manekin yang mengenakan rancangan ibu. Gaun-gaun berwarna kuning emas berkilau di bawah Cahaya, kontras namun begitu anggun… Membuat siapa pun yang melihatnya terpaku.

Aku bahkan bisa merasakan kekaguman orang-orang di sekitar.

Saat kami melangkah mendekat, suasana tiba-tiba berubah.

Seorang pria berteriak lantang, suaranya menggema di antara kerumunan.

“Sambutlah… Desainer terkenal kita—Tara Reemar!”

Seketika sorotan kamera mengarah pada ibu. Kilatan cahaya bertubi-tubi menyilaukan mata.

Ibu—yang kini genap berusia tiga puluh tujuh tahun—tersenyum anggun. Senyum yang begitu sempurna… Terlalu sempurna, hingga sulit kutebak apa yang sebenarnya ia rasakan.

Ia melambaikan tangan, menyapa, berjalan dengan penuh percaya diri seolah dunia memang telah lama berada dalam genggamannya.

Selama setengah jam…

Ibu sepenuhnya menjadi milik mereka.

Wawancara demi wawancara, senyum demi senyum, pujian yang terus mengalir tanpa henti. Namanya dielu-elukan, karyanya dipuji setinggi langit.

Semua mata tertuju padanya.

Semua orang menginginkannya.

Dan saat sesi wawancara itu akhirnya usai, seorang wartawan maju dengan senyum lebar.

“Bu Tara, boleh satu foto bersama keluarga?”

Ibu tak terlihat keberatan sedikit pun. Justru dengan cepat ia menoleh ke arahku, lalu menarik tanganku agar mendekat. Gerakannya begitu sigap—seolah aku memang selalu berada di sisinya.

Yuta menyusul. Ayah berdiri di samping ibu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu… Kami tampak seperti keluarga yang utuh.

Aneh.

Sangat aneh.

Karena sebelum kami datang ke tempat ini, ibu bahkan nyaris tak menginginkan kehadiranku. Tatapannya dingin, sikapnya menjauh… Seolah aku adalah beban yang tak pernah ia inginkan.

Namun sekarang—

Tangan itu memelukku erat.

Tubuhku diangkat, digendong dengan begitu hangat. Ibu bahkan mencium pipiku berulang kali di depan kamera, tersenyum lebar seakan dunia harus tahu betapa ia menyayangiku.

Kilatan kamera terus menyala.

Senyum itu terus terjaga.

Dan aku… Hanya bisa diam.

Tak mengerti mana yang nyata.

Tak tahu mana yang benar-benar tulus.

Sesi foto pun berakhir.

Keramaian perlahan memudar saat kami kembali menuju mobil. Rasa hangat dari pelukan ibu masih tertinggal, membuatku merasa nyaman… Terlalu nyaman, hingga tanpa sadar mataku terpejam.

Aku tertidur di pelukannya.

Di dalam mobil, suasana berubah menjadi lebih sunyi. Tak ada lagi sorotan kamera, tak ada suara wartawan.

Hanya kami.

Dan ibu.

Tangannya tak berhenti mengelus rambutku dengan lembut. Sesekali ia menyeka keringat di dahiku, gerakannya pelan… Penuh perhatian.

Begitu berbeda.

Begitu asing.

Namun hangatnya terasa nyata.

Seolah untuk sesaat…

Aku benar-benar menjadi anak yang ia sayangi.

Dan di dalam tidurku yang lelap, aku memeluk kehangatan itu erat—

Hari demi hari berlalu…

Namun tak satu pun langkah kaki yang kembali ke rumah itu.

Tak ada ibu.

Tak ada ayah.

Hanya keheningan yang semakin tebal, seolah dinding-dinding rumah ikut menunggu… Lalu perlahan menyerah.

“Harus menunggu satu tahun lagi,” ucap Kak Yuta suatu hari.

Entah bagaimana ia bisa mengatakannya dengan begitu ringan, sementara bagiku… Satu hari saja sudah terasa terlalu lama.

Di rumah besar itu, hanya ada kami bertiga—

Aku, Kak Yuta, dan bibi.

Namun sebesar apa pun rumah itu, tetap terasa sempit… Sesak… Karena kekosongan yang tak bisa diisi.

Kak Yuta mencoba mengusir sepi dengan caranya sendiri.

Ia berlari ke sana kemari bersama anjing pemberian ibu—seekor bulldog bernama Holly.

Tubuhnya besar, rahangnya kuat, tatapannya tajam.

Menakutkan.

Namun di mata Kak Yuta, Holly adalah segalanya.

Tawanya sering menggema, memenuhi setiap sudut rumah. Ia berlari, tertawa, jatuh, lalu bangkit lagi—seolah tak ada rasa sakit.

Padahal aku melihatnya.

Dengan jelas.

Pakaian yang sobek.

Kulit yang tergores.

Wajah yang perlahan membiru karena benturan.

Namun Yuta tetap tertawa.

Seolah luka itu adalah harga dari kebahagiaannya.

Aku?

Aku hanya bisa berdiri jauh.

Tak berani mendekat.

Setiap kali Yuta memanggilku, tangannya melambai penuh semangat—

“Main bareng!”

Aku hanya menggeleng.

Pelan.

Takut.

Dan setiap penolakan itu… Seperti menamparnya.

Wajahnya berubah. Senyumnya hilang. Tatapannya mengeras.

Seolah aku bukan lagi adiknya.

Seolah aku… Memilih meninggalkannya sendirian.

Lalu keesokan harinya…

Semuanya berubah.

Rumah itu terlalu sunyi.

Bukan sunyi yang biasa.

Tapi sunyi yang terasa… Salah.

Aku menoleh ke sana kemari.

Tak ada suara langkah kaki.

Tak ada gonggongan.

Tak ada Holly.

“Holly…?” suaraku hampir tak terdengar.

Tak ada jawaban.

Tak ada penjelasan.

Dan saat aku menemukan Kak Yuta—

Dunia seakan berhenti.

Tubuhnya… Penuh luka.

Lebam menghitam di hampir seluruh bagian. Goresan panjang, bekas gigitan, balutan kain yang tak mampu menutupi semuanya.

Wajahnya pucat. Bibirnya gemetar.

Tak ada tawa.

Tak ada cahaya di matanya.

Ia hanya diam… Seperti kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar rasa sakit.

Dadaku sesak.

Aku ingin bertanya.

Tapi tak satu kata pun keluar.

Segalanya terjadi begitu cepat.

Bibi panik.

Langkah kaki tergesa.

Pintu terbuka keras.

Rumah yang selama ini sepi… Tiba-tiba dipenuhi kepanikan.

Kak Yuta dibawa ke rumah sakit.

Dan di saat itulah—

Ayah dan ibu akhirnya pulang.

Namun bukan karena rindu.

Bukan karena mereka ingat bahwa kami ada.

Melainkan karena keadaan… Memaksa mereka.

Di depan rumah sakit, kerumunan kembali tercipta.

Namun kali ini berbeda.

Tak ada tepuk tangan.

Tak ada kekaguman.

Hanya bisikan.

Tatapan tajam.

Dan kamera yang menyala tanpa ampun.

Nama ibu kembali disebut—

“Tara Reemar.”

Namun bukan dengan bangga.

Melainkan dengan tuduhan.

Seorang desainer hebat…

Yang dianggap gagal menjadi seorang ibu.

Sorotan kamera mengejar setiap langkahnya, seolah menelanjangi hidupnya di depan publik.

Berita bermunculan—

Tentang kelalaian, tentang kesalahan, tentang seorang ibu yang dianggap terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga melupakan anaknya.

Dan di tengah semua itu…

Aku berdiri diam.

Lihat selengkapnya