Tak butuh waktu lama, tubuhku terasa terangkat seolah seseorang menarikku kembali dari batas yang nyaris tak terlihat.
Kelopak mataku terbuka perlahan. Pandanganku masih kabur, namun satu wajah langsung tertangkap jelas kak Yuta. Wajahnya tegang, penuh kecemasan, napasnya tak beraturan. Untuk sesaat… Aku melihat ketakutan di matanya.
Di sampingnya, seorang perempuan berdiri. Ia tersenyum lega.
“Syukurlah…” ucapnya lirih.
Aku menatapnya dalam diam.
Pasti dia yang menyelamatkanku.
Tidak mungkin… Kak Yuta.
Perempuan itu melangkah mendekat. Satu langkah… Dua langkah… Hingga jarak di antara kami terasa terlalu sempit. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat dadaku sesak.
Dan tiba-tiba.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipiku.
Kepalaku terhempas ke samping. Rasa perih menjalar cepat, panas, menusuk hingga ke dalam dada. Dunia seolah berhenti sesaat.
“Apa kau pikir ini lelucon?!” bentaknya, suaranya bergetar antara amarah dan kepanikan.
“Apakah kau sadar betapa khawatirnya kami denganmu?! Apa kau ingin mati?!”
Kata-katanya menghantam lebih keras dari tamparannya.
Iya… Aku ingin mati.
Lalu kenapa kalian menghentikanku?
Batinku berteriak, penuh penolakan yang tak mampu lagi kutahan.
Tanganku perlahan menyentuh pipi yang masih berdenyut. Aku mengangkat wajah, menatapnya dengan dingin tatapan yang bahkan terasa asing bagiku sendiri.
“Aku tidak butuh bantuan kalian,” ucapku pelan, namun tajam.
“Aku juga tidak pernah memintamu untuk menolongku.”
Keheningan jatuh di antara kami.
Tanpa menunggu reaksi, aku memaksa tubuhku berdiri. Kakiku lemah, kepalaku masih berputar, tapi aku menolak terlihat rapuh di hadapan mereka.
Aku berbalik.
Melangkah pergi.
Meninggalkan mereka… Meninggalkan kepedulian yang terasa seperti luka baru.
Satu hari… Dua hari… Tiga hari… bahkan hampir setiap hari, anak itu selalu datang ke rumah ini.
Seolah ia tak pernah kehabisan alasan untuk muncul.
Kalau saja Kak Yuta tidak membukakan pintu untuknya, mungkin ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di sini. Tapi nyatanya, ia selalu datang—dan entah kenapa, selalu menemukanku.
Usianya seumuran denganku. Tinggi kami hampir sama. Matanya besar, penuh cahaya… Cahaya yang dulu pernah kumiliki. Tawanya lepas, ringan, tanpa beban—seperti diriku… Sebelum ibu pergi.
Aku menatapnya diam-diam.
Ada sesuatu yang aneh.
Kenapa… Wajahnya begitu mirip denganku?
Atau hanya aku saja yang berpikir seperti itu?
Namanya Arien.
Arien El Luis.
Ia selalu mendekatiku, mengajakku bicara seolah kami sudah lama saling mengenal. Kata-katanya ringan, sikapnya santai, terlalu santai… Hingga membuatku merasa tidak nyaman.
Aku tidak mengerti dirinya.
Atau mungkin… Aku tidak ingin mengerti.
Saat aku menatapnya dengan kesal, berharap ia menjauh, ia justru tersenyum senyum yang terlalu cerah untuk suasana hatiku.
Lalu, tanpa izin.
Ia mengangkat tangannya… Dan menyentuh keningku dengan telunjuknya.
Seketika tubuhku menegang.