Aku sangat kecewa dengan ucapan Arien.
Jujur saja, aku muak dengan orang yang baru mengenalku beberapa hari, lalu bertindak seolah memahami hidupku. Seolah ia berhak menasihatiku. Seolah semua yang kulalui bisa diselesaikan hanya dengan beberapa kalimat sederhana.
Dia hanya melihat apa yang tampak di luar.
Rumah besar.
Keluarga kaya.
Kehidupan yang terlihat sempurna.
Tapi tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik semua itu.
Tak ada yang tahu bagaimana rasanya tumbuh dalam kesepian. Tak ada yang tahu bagaimana rasanya kehilangan satu-satunya orang yang masih berusaha memelukku. Dan tak ada yang tahu betapa lelahnya aku bertahan hingga hari ini.
Kulangkahkan kakiku menjauh darinya.
Semakin jauh.
Semakin cepat.
Padahal, sejujurnya aku begitu senang dengan kehadirannya.
Kedatangannya membuat rumah yang biasanya sunyi terasa sedikit hidup. Tawanya yang berisik, sikapnya yang ceroboh, dan kebiasaannya menggangguku perlahan membuatku terbiasa.
Namun sikapnya yang seolah paling dewasa dan paling mengerti segalanya membuatku kesal.
Tanpa menghiraukan panggilannya, aku langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Aku tidak ingin bertemu siapa pun.
Tidak ingin berbicara.
Tidak ingin mendengar apa pun.
Malam itu aku hanya duduk di sudut kamar.
Merenung.
Menangis.
Dan terus menangis.
Air mata yang selama ini ku tahan seolah menemukan jalannya sendiri. Semua rasa sakit, kemarahan, dan kekecewaan keluar bersamaan.
Hingga tanpa kusadari, langit di luar jendela telah berubah gelap.
Malam telah tiba.
Kelopak mataku membengkak hebat. Wajahku memerah. Kepalaku terasa berat karena terlalu lama menangis.
Namun anehnya...
Setelah semua air mata itu habis, hatiku terasa sedikit lebih ringan.
Jam dinding menunjukkan pukul 23.00.
Dengan langkah pelan, aku keluar dari kamar.
Rumah begitu sunyi.
Di ruang tengah, Kak Yuta tertidur di sofa. Lampu-lampu menerangi wajahnya yang terlihat lelah.
Aku berdiri beberapa saat, memandangnya dalam diam.
Entah sejak kapan, aku menyadari satu hal.
Selama semua orang pergi...
Kak Yuta tetap bertahan.
Mungkin caranya tidak selalu benar.
Mungkin ia juga sering membuatku marah.
Namun ia tidak pernah benar-benar meninggalkanku.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Jantungku berdegup kencang.
Ada sesuatu yang ingin kusampaikan.
Sesuatu yang sudah lama kupendam.
"Kak...?"
Yuta perlahan membuka matanya.
"Hm...? Ada apa, Ghali?"
Aku menelan ludah.
Tanganku meraih tangannya erat-erat, seolah keberanian itu bisa menghilang kapan saja jika kulepaskan.
Yuta menatapku heran.
Aku menarik napas sekali lagi.
Lalu mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa.
"Aku ingin sekolah."
Suasana mendadak hening.
Yuta membeku.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatapku tanpa berkata apa-apa.
Seolah memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Kau... Serius?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk.
Kali ini tanpa ragu.
"Iya."
Suaraku bergetar, tetapi tekadku tidak.
"Aku ingin mencoba lagi."
Aku menunduk sejenak, sebenarnya dalam hati aku masih nyaman dengan homescholing dan masih takut bertemu orang luar.
Namun, jika dipikir-pikir, alasan sebenarnya aku ingin kembali bersekolah hanya ingin membungkam mulut angkuh Arien.
Aku ingin membuktikan bahwa aku tidak selemah yang ia pikirkan. Aku ingin menunjukkan bahwa hidupku bukan sesuatu yang bisa ia nilai seenaknya. Dan entah kenapa, ada keinginan kekanak-kanakan yang terus menggangguku.
Membuat Arien dan Kak Yuta putus, lalu membuat dia menangis.
Beberapa hari kemudian, setelah Kak Yuta dan ayah mengurus seluruh berkas pendaftaranku, akhirnya hari yang kutunggu tiba.
Aku resmi menjadi murid di SMA JTI 2 di usiaku yang baru 15 tahun. Sejujurnya, aku juga sengaja meminta agar ditempatkan di kelas yang sama dengan Arien.
Jika dia ingin ikut campur dalam hidupku, maka aku akan memastikan dia melihat sendiri seperti apa diriku sebenarnya.
Pukul 07.00
Aku berdiri di depan kelas dengan tubuh yang terasa kaku.
Puluhan pasang mata menatapku tanpa berkedip. Beberapa siswa berbisik pelan, beberapa lainnya tersenyum penasaran. Bagi mereka mungkin ini hanya kedatangan murid baru.
Tapi bagiku...
Ini seperti berdiri di hadapan ratusan hakim yang siap menilaiku.
Telapak tanganku basah oleh keringat.
Jantungku berdegup begitu keras hingga membuat telingaku berdenging.
“Silakan perkenalkan dirimu,” ucap Mr. Tonie dengan ramah.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Ini hanya perkenalan.
Tidak sulit.
Aku bisa melakukannya.
“A-aku...”
Suaraku langsung tercekat.
Sial.
Aku menelan ludah dan mencoba lagi.
“Namaku Ghali...”
Semua orang masih menatapku.
Dadaku semakin sesak.
“Namaku Ghali Reemar.”
Namun entah karena gugup atau panik, lidahku justru semakin tidak terkendali.
“Ghali... Ghali Reemar...”
“Ghali...”
“Ghali Reemar...”
Hening selama beberapa detik.
Lalu—
“AHAHAHAHAHA!”
Satu kelas pecah dalam tawa.
Wajahku langsung memanas.
Aku menundukkan kepala secepat mungkin.
Rasanya seperti seluruh darah dalam tubuhku naik ke wajah.
Malu.
Sangat malu.
Bahkan aku bisa mendengar beberapa siswa masih tertawa sambil menirukan caraku memperkenalkan diri.
Kalau bisa, aku ingin lantai ini terbuka dan menelanku hidup-hidup.
“Sudah, sudah.”
Mr. Tonie menghentikan mereka.
“Jangan membuat murid baru semakin gugup.”
Aku mengangkat kepala perlahan.
Guru itu tersenyum hangat.
“Ghali, kau bisa duduk di kursi kosong sebelah Mei Lili.”
Aku hanya mengangguk pelan.
Kemudian berjalan menuju kursi yang ditunjuk.
Langkahku terasa berat.
Aku bisa merasakan tatapan mereka mengikuti setiap gerakanku.
Ada yang tersenyum ramah.
Ada yang melambaikan tangan.
Bahkan beberapa siswi berusaha menyapaku.
Namun semua itu tidak membuatku tenang.
Justru sebaliknya.
Aku merasa semakin tertekan.
Bukankah selama ini aku ingin sekolah?
Lalu kenapa aku merasa sangat ketakutan?
Mungkin karena terlalu lama mengurung diri.
Atau mungkin...
Aku memang tidak cocok berada di tengah banyak orang.
Begitu duduk, aku langsung menundukkan kepala.
Berusaha menghilang dari dunia.
Namun tak lama kemudian—
“Eh... Kau?!”
Tubuhku menegang.
Aku mengenal suara itu.
Suara yang selama beberapa hari terakhir terus mengganggu pikiranku.
Perlahan aku mengangkat kepala.
Dan di sana...
Arien berdiri dengan wajah yang terlihat benar-benar terkejut.
Matanya membulat lebar.
Mulutnya sedikit terbuka.
Seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
“Apa ini mimpi?” gumamnya.
Aku langsung memalingkan wajah.
Entah kenapa, melihat ekspresinya membuat dadaku bergetar.