Sejak kejadian malam itu, pikiranku tak pernah benar-benar tenang.
Setiap kali menutup mata, bayangan Kak Yuta yang berdiri membeku di ruang keluarga selalu muncul kembali. Tatapannya yang penuh amarah, suara pintu yang kubanting, dan keheningan setelahnya terus menghantuiku.
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri.
Apakah hubungan kami sudah benar-benar tidak bisa diperbaiki?
Apakah aku dan kak Yuta memang ditakdirkan menjadi dua orang asing yang hanya kebetulan memiliki hubungan darah?
Semakin kupikirkan, semakin sesak dadaku.
Entah kenapa, aku justru merasa iri.
Iri pada Arien dan Arza.
Mereka memang sering bertengkar. Arien berisik, sedangkan Arza begitu pendiam. Kepribadian mereka benar-benar bertolak belakang.
Namun, di balik semua itu, aku bisa melihat sesuatu yang tidak pernah lagi kumiliki.
Kehangatan.
Mereka saling mengganggu, saling mengejek, bahkan saling memukul sesekali. Tetapi tidak pernah sekalipun aku melihat kebencian di mata mereka.
Aku menunduk.
Apakah sebenarnya aku terlalu takut pada kak Yuta?
Atau... Akulah yang tidak pernah berusaha membuka hati?
Aku tidak tahu jawabannya.
Yang kutahu, sejak malam itu kami tak pernah berbicara lagi.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada makan malam bersama.
Kami hidup di rumah yang sama, tetapi seperti dua orang asing yang berjalan di jalannya masing-masing.
Satu hari berlalu.
Lalu dua hari.
Kemudian berganti menjadi berminggu-minggu.
Namun bayangan malam itu tetap tinggal di kepalaku.
Hingga suatu pagi...
Pintu kelas kembali terbuka.
Seorang anak laki-laki masuk bersama wali kelas.
Perhatianku langsung tertuju kepadanya.
Tubuhnya jauh lebih kecil dibandingkan siswa laki-laki lain. Tingginya bahkan sepertinya belum mencapai seratus enam puluh sentimeter.
Kulitnya putih kemerahan, wajahnya bersih, rambut model mangkuk dengan poni panjang menutupi sebagian wajahnya membuat penampilannya terlihat kuno sekaligus unik dan tak lupa kacamata bulat dengan lensa tebal yang memancarkan kesan intelektual.
Di sampingnya berdiri seseorang bertubuh besar dan berjas putih.
Seorang dokter.
Aku mengernyitkan dahi.
Dokter?
Kenapa seorang siswa baru datang ke sekolah ditemani dokter?
“Perkenalkan dirimu,” ujar wali kelas.
Anak itu melangkah maju tanpa sedikit pun terlihat gugup.
Berbeda denganku saat pertama kali berdiri di depan kelas.
Ia tersenyum percaya diri, lalu membungkukkan badan dengan sopan.
“Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, aku Sean El Karch,” ucapnya dengan lantang namun penuh kehangatan.
Suaranya tenang.
Jelas.
Dan penuh keyakinan.
“Aku harap kita bisa berteman dengan baik.”
Seluruh kelas langsung menyambutnya dengan tepuk tangan dan senyum ramah.
Aku hanya memperhatikannya dalam diam.
Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa aneh.
Meski ditemani seorang dokter dengan alasan kondisi kesehatannya, wajah Sean justru tampak segar.
Kulitnya bersih.
Pipinya kemerahan.
Bahkan senyumnya terlihat begitu sehat.
Aneh...
Jika memang dia sedang sakit... kenapa dia terlihat lebih sehat daripada aku?
Tanpa kusadari, pertemuan pertama kami menjadi awal dari sesuatu yang sama sekali tidak pernah kuduga.
Seseorang yang kelak perlahan mengubah cara pandangku terhadap hidup...
Bel istirahat akhirnya berbunyi.
Suara kursi yang bergeser dan tawa para siswa memenuhi seluruh kelas. Dalam hitungan detik, ruangan yang semula ramai perlahan mulai kosong.
Aku hanya memperhatikan mereka pergi.
Entah kenapa, setiap kali melihat teman-teman sekelasku bercanda bersama, ada perasaan asing yang sulit dijelaskan.
Mungkin...
Aku juga ingin memiliki teman.
Saat Arien berdiri dan bersiap keluar kelas, aku memberanikan diri meraih pelan ujung lengan seragamnya.
Tanganku sedikit gemetar.
Arien pun menoleh.
Aku langsung menundukkan kepala.
Entah kenapa, hanya untuk mengajaknya makan siang saja terasa sangat memalukan.
“Aku... Ikut.”
Suaraku hampir tak terdengar.
Namun Arien langsung tersenyum lebar.
“Tentu.”
Senyumnya membuat dadaku terasa sedikit hangat.
Mungkin... Beginilah rasanya memiliki seseorang yang benar-benar menunggumu.
Sayangnya, kehangatan itu tidak bertahan lama.
“Permisi.”
Aku menoleh.
Siswa baru itu berjalan menghampiri kami dengan langkah santai. Rambut model mangkuknya tampak rapi, sementara seorang pria bertubuh besar dengan jas putih berjalan tepat di belakangnya.
“Aku masih belum mengenal sekolah ini,” katanya sambil tersenyum ramah.
“Bolehkah aku dan Dokter Al makan siang bersama kalian?”
Aku dan Arien saling berpandangan.
Jujur saja, aku tidak keberatan.
Namun kami juga baru saling mengenal.
Aku sendiri bingung harus menjawab apa.