Untukmu, kakak.

Saya seani
Chapter #5

Chapter 5

Sean berjalan semakin jauh.

Aku masih berdiri di depan toilet.

Entah kenapa kakiku tidak langsung membawaku kembali ke kelas.

Mataku terus mengikuti punggungnya yang semakin lama semakin kecil, sampai akhirnya menghilang di ujung koridor.

Aku mengernyit.

Ada sesuatu yang salah.

Aku tidak tahu apa.

Aku juga tidak tahu kenapa perasaanku tiba-tiba menjadi tidak nyaman hanya karena melihat ekspresinya.

Beberapa menit yang lalu, Sean masih tersenyum seperti biasa.

Namun saat keluar dari toilet...

Senyumnya menghilang.

Tatapannya berubah.

Dingin.

Kosong.

Bahkan untuk sesaat, aku merasa seperti sedang melihat orang yang sama sekali berbeda.

Aku menelan ludah.

Apa sebenarnya yang dia lakukan di sana?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.

Aku melangkah beberapa langkah, lalu berhenti lagi.

Aku ingin memanggilnya.

Namun entah kenapa, suara itu tidak keluar.

“Sean...”

Namanya hanya terdengar sebagai bisikan kecil dari bibirku.

Aku menghela napas.

“Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir.”

Aku akhirnya berbalik dan kembali ke kelas.

Namun sejak saat itu.

Ada sesuatu tentang Sean yang tidak bisa lagi kulihat dengan cara yang sama.

Tatapannya.

Aku terus mengingatnya.

Tatapan yang seolah menyimpan sesuatu.

Sesuatu yang tidak ingin ia ceritakan kepadaku.

Hari-hari berikutnya berlalu.

Dan anehnya...

Sean justru semakin sering berada di dekatku.

Awalnya hanya sekadar menyapa.

“Pagi, Ghali.”

Aku yang sedang berjalan menuju kelas hanya mengangguk.

“Pagi.”

Sesederhana itu.

Namun keesokan harinya ia kembali menyapaku.

Lalu hari berikutnya.

Dan berikutnya lagi.

Lama-kelamaan, aku mulai terbiasa mendengar suaranya.

Bahkan ketika suatu pagi ia tidak menyapaku, aku sempat menoleh ke belakang untuk mencarinya.

Aku langsung menggelengkan kepala.

Kenapa aku mencarinya?

Aku sendiri tidak mengerti.

Saat jam istirahat, Sean mulai duduk di dekatku.

Kadang ia membawa makanannya sendiri.

Kadang hanya membawa sebotol minuman.

Ia tidak banyak bertanya.

Hanya duduk.

Kadang kami berbicara.

Kadang tidak.

Anehnya, diam bersamanya tidak terasa canggung.

Berbeda dengan orang lain.

Biasanya jika berada terlalu lama di dekat seseorang, aku akan merasa sesak.

Aku merasa harus mengatakan sesuatu.

Harus tersenyum.

Harus terlihat baik-baik saja.

Namun bersama Sean...

Aku tidak perlu melakukan semua itu.

Aku bisa diam.

Aku bisa menundukkan kepala.

Aku bahkan bisa terlihat lelah tanpa takut ditanya macam-macam.

Kemudian semuanya berkembang begitu saja.

Suatu hari setelah pelajaran selesai, aku baru saja keluar dari kelas ketika mendapati Sean berdiri di depan pintu.

“Kau belum pulang?”

Aku menggeleng.

“Masih ada tugas.”

Sean melihat ke dalam kelas.

“Kalau begitu aku tunggu.”

Aku mengernyit.

“Untuk apa?”

“Pulang bareng.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau.”

Ia tersenyum.

“Baiklah.”

Aku menghela napas lega.

Namun ia justru berjalan menuju bangku di depan kelas.

“Aku tunggu di sini.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Sean.”

“Hm?”

“Aku bilang tidak mau.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa masih menunggu?”

Ia mengangkat bahu.

“Aku tidak bilang kau harus pulang bersamaku.”

Ia tersenyum kecil.

“Aku cuma ingin menemanimu sampai gerbang.”

Aku terdiam.

Aku benar-benar tidak mengerti anak ini.

Namun anehnya...

Aku tidak merasa terganggu.

Sore itu, kelas hampir kosong.

Cahaya matahari masuk melalui jendela dan jatuh di atas meja-meja yang sudah tidak terpakai.

Aku masih mengerjakan tugas ketika Sean duduk di kursi di depanku.

“Ghali.”

Aku mengangkat kepala.

“Apa?”

“Kau selalu sendirian.”

Aku kembali melihat buku.

“Iya.”

“Tidak bosan?”

Aku mengangkat bahu.

“Sudah terbiasa.”

Sean terdiam.

Aku bisa merasakan tatapannya.

Namun kali ini aku tidak menghindar.

Beberapa detik kemudian ia bertanya,

“Sejak kapan?”

Tanganku berhenti menulis.

Aku menatap ujung pulpen.

“Sejak kapan apa?”

“Sejak kapan kau terbiasa sendirian?”

Pertanyaan itu...

Entah kenapa terasa menusuk.

Aku tidak langsung menjawab.

Jari-jariku perlahan mengencang pada pulpen.

Aku tidak suka pertanyaan itu.

Bukan karena aku tidak tahu jawabannya.

Justru karena aku tahu.

Aku hanya tidak pernah ingin mengatakannya.

Aku menelan ludah.

“Sudah lama.”

Sean tidak membalas.

Ia tidak tertawa.

Tidak berkata bahwa aku aneh.

Ia hanya diam.

Dan mungkin karena itulah...

Aku akhirnya membuka mulut.

“Sejak kecil.”

Suaraku terdengar lebih pelan dari yang kukira.

Sean masih diam.

Aku menarik napas panjang.

“Rumahku besar.”

Aku tersenyum kecil.

Namun senyum itu terasa pahit.

“Besar sekali.”

Aku menatap keluar jendela.

“Tapi kosong.”

Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba dadaku terasa berat.

“Orang tuaku hampir tidak pernah pulang.”

“Ayah sibuk dengan perusahaan.”

“Ibu sibuk dengan pekerjaannya.”

Aku memainkan ujung pulpen.

“Kadang mereka pulang.”

“Tapi hanya sebentar.”

Aku berhenti.

“Dan ketika mereka pulang...”

Aku menundukkan kepala.

“Mereka justru bertengkar.”

Aku masih bisa mengingatnya.

Suara pintu yang dibanting.

Suara benda pecah.

Suara ibu yang menangis.

Suara ayah yang meninggi.

Dan aku...

Aku hanya berdiri di balik pintu kamar.

Menutup telingaku.

Berharap semuanya berhenti.

Aku mengedipkan mata.

Tanpa kusadari, pandanganku mulai kabur.

“Dulu aku selalu berpikir mungkin aku yang salah.”

Sean menatapku.

Aku tersenyum kecil.

Namun tidak ada sedikit pun rasa lucu dalam tawaku.

“Aku pikir mungkin kalau aku tidak ada. Mereka tidak akan bertengkar.”

Aku terdiam.

Kata-kata itu membuat dadaku semakin sesak.

Aku menundukkan wajah.

“Kadang aku bahkan berpikir.Mungkin aku adalah alasan kenapa keluargaku tidak bahagia.”

Sean tidak berkata apa-apa.

Lihat selengkapnya