Entah kenapa…
Setiap kali aku mulai merasa nyaman bersama Sean, Arien justru semakin menjauh dariku.
Awalnya aku mencoba mengabaikannya.
Aku berpikir mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir.
Mungkin Arien sedang lelah.
Mungkin dia punya urusan lain.
Atau mungkin memang aku yang terlalu berharap semuanya akan tetap seperti dulu.
Tapi semakin hari, aku semakin sulit membohongi diriku sendiri.
Arien benar-benar berubah.
Setiap kali aku mendekatinya, dia akan mencari alasan untuk pergi.
Setiap kali mata kami bertemu, tatapannya segera beralih.
Dan yang paling membuatku sakit.
Tatapan itu.
Tatapan Arien kepadaku bukan lagi tatapan seorang teman.
Ada sesuatu di sana.
Dingin.
Kecewa.
Bahkan seperti.
Tidak suka.
Aku tidak mengerti.
Apa yang sebenarnya telah kulakukan?
Aku sudah mencoba mengingat semuanya.
Percakapan kami.
Candaan kami.
Hal-hal kecil yang mungkin pernah membuatnya tersinggung.
Namun tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan perubahan sikapnya.
Hari itu aku bahkan sudah memutuskan untuk menghampirinya.
Aku ingin bertanya langsung.
Aku ingin meluruskan semuanya.
Kalau memang aku salah, aku akan meminta maaf.
Kalau ada sesuatu yang membuatnya kecewa, aku ingin mendengarnya.
Aku hanya ingin hubungan kami kembali seperti sebelumnya.
Tapi saat aku mencari Arien.
Dia tidak masuk sekolah.
Aku berdiri di depan kelas sambil menatap kursinya yang kosong.
Kursi itu terasa aneh.
Sepi.
Padahal sebelumnya aku tidak pernah peduli dengan kursi kosong itu.
Namun hari itu, entah mengapa, aku terus melihatnya.
Seolah aku berharap Arien tiba-tiba muncul sambil tertawa dan mengatakan bahwa semuanya hanya salah paham.
Tapi sampai bel pulang berbunyi.
Dia tetap tidak datang.
Aku pulang dengan perasaan yang semakin berat.
Keesokan harinya, Arien kembali tidak terlihat.
Yang kulihat hanya Arza.
Adiknya.
Sejak pagi, wajahnya sudah terlihat murung.
Dia tidak banyak bicara.
Bahkan ketika beberapa teman mencoba menyapanya, dia hanya menjawab seperlunya.
Saat bel pulang berbunyi, Arza langsung memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
Cepat.
Tergesa-gesa.
Seolah ingin segera meninggalkan sekolah.
Aku memperhatikannya dari kejauhan.
Ada sesuatu yang membuatku tidak tenang.
“Arza.”
Aku memanggilnya.
Dia berhenti.
Hanya sebentar.
Aku menunggu dia menoleh.
Namun dia justru menggenggam tali tasnya lebih erat dan kembali berjalan.
Aku terdiam.
Hubunganku dengan Arza memang tidak pernah terlalu baik.
Kami sering salah paham.
Kadang dia bahkan terlihat jelas tidak menyukaiku.
Jadi mungkin.
Memang pantas jika dia mengabaikanku.
Aku tidak berhak memaksanya bicara.
Namun saat aku hendak meninggalkan kelas, suara bisikan beberapa siswa membuat langkahku terhenti.
“Katanya Arien disiksa ibunya…”
Aku membeku.
“Apa?”
Suara itu begitu pelan.
Namun entah kenapa, aku mendengarnya dengan sangat jelas.
“Serius. Katanya sering.”
“Kasihan…”
“Makanya dia akhir-akhir ini nggak masuk.”
Jantungku seperti berhenti berdetak.
Arien.
Disiksa?
Aku menatap mereka dengan wajah tidak percaya.
Tidak.
Itu tidak mungkin.
Arien?
Gadis yang selalu tertawa itu?
Gadis yang begitu berani?
Gadis yang bahkan ketika sedang marah pun masih bisa membalas perkataan orang lain dengan senyum menyebalkan?
Aku menelan ludah.
Tiba-tiba semua potongan kejadian beberapa hari terakhir berputar di kepalaku.
Tatapan dinginnya.
Sikapnya yang menjauh.
Wajahnya yang akhir-akhir ini terlihat lebih pucat.
Ketidakhadirannya.
Dan Arza.
Wajah murungnya.
Langkahnya yang tergesa-gesa.
Semuanya tiba-tiba terasa masuk akal.
Aku menundukkan wajah.
Dadaku terasa sakit.
Jadi.
Selama ini bukan aku yang dia benci?
Aku mengusap wajah dengan kedua tangan.
Bodohnya aku.
Aku malah sibuk memikirkan perasaanku sendiri.
Aku merasa terluka karena Arien menjauh.
Aku merasa kecewa karena dia tidak lagi mau berbicara denganku.
Padahal mungkin.
Dia sendiri sedang berusaha bertahan dari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Aku membayangkan Arien sendirian di rumah.
Tidak ada suara tawanya.