Setelah kejadian itu, ada satu hal yang tidak pernah kusangka.
Seseorang yang dulu begitu kutakuti.
Perlahan justru menjadi orang yang paling membuatku merasa nyaman.
Ibu Arien.
Misya El Luis.
Dulu, setiap kali melihat perempuan itu, tubuhku selalu menegang. Tatapannya tajam, wajahnya terlihat lelah, dan ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tidak berani terlalu dekat.
Aku bahkan pernah berpikir bahwa dia adalah orang yang paling tidak ingin kutemui.
Namun semuanya berubah.
Entah sejak kapan.
Aku mulai sering berada di rumah mereka.
Awalnya karena Arien.
Kadang karena Arza.
Namun semakin lama, aku sadar bahwa aku datang bukan hanya karena mereka.
Aku datang karena beliau.
Karena di rumah itu, aku menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar kumiliki.
Perhatian seorang ibu.
Sore itu aku sedang duduk di ruang tengah ketika suara langkah kaki terdengar.
“Ghali.”
Aku menoleh.
Ibu Misya berdiri di ambang pintu sambil membawa sepiring makanan.
“Makan.”
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Untukku?”
Ia menghela napas.
“Memangnya di sini ada Ghali lain?”
Aku tertawa kecil.
Aku menerima piring itu.
“Terima kasih, Bu.”
Tanganku tiba-tiba berhenti.
Aku baru menyadari kata yang baru saja keluar dari mulutku.
Ibu Misya juga terdiam.
Tatapannya perlahan berubah.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada ketegasan.
Hanya sesuatu yang lembut.
Ia duduk di sampingku.
Kemudian tangannya terangkat dan mengusap kepalaku.
Pelan.
Sangat pelan.
Dadaku tiba-tiba terasa sesak.
Aku menundukkan wajah.
Aku tidak ingin dia melihat mataku yang mulai panas.
Selama ini aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ibu yang bertanya apakah aku sudah makan.
Seseorang yang menungguku pulang.
Seseorang yang akan mengomel ketika aku pulang terlambat.
Seseorang yang diam-diam menyiapkan makanan ketika melihatku kelelahan.
Ternyata hal-hal kecil seperti itu…
Bisa membuat seseorang merasa begitu dicintai.
Dan tanpa kusadari, aku mulai menyayangi perempuan itu.
Namun ternyata perasaan itu tidak hanya milikku.
Ada seseorang yang diam-diam merasa kehilangan.
Arien.
Suatu sore, ketika aku sedang duduk bersama ibunya, aku melihat Arien berdiri di tangga.
Dia memperhatikan kami.
Tatapannya membuatku terdiam.
“Arien…”
Dia tidak menjawab.
Dia hanya berbalik dan masuk ke kamarnya.
Aku menatap Ibu Misya.
“Dia marah?”
Ibu Misya menggeleng.
“Biarkan dia sendiri dulu.”
Aku mengangguk.
Namun sejak saat itu, aku mulai merasa bersalah.
Aku tidak pernah bermaksud merebut kasih sayangnya.
Aku hanya ingin merasakan sedikit saja kasih sayang seorang ibu.
Tapi mungkin bagi Arien…
Sedikit itu adalah seluruh dunianya.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar pertengkaran.
“Kenapa Ibu selalu membela Ghali?!”
Aku berhenti di depan pintu.
Suara Arien terdengar dari dalam.
“Ibu tidak membela siapa-siapa.”
“Lalu kenapa Ibu selalu memperhatikannya?!”
Aku menundukkan kepala.
Aku tahu aku seharusnya pergi.
Namun tubuhku tidak bergerak.
“Dia bukan anak Ibu!”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
Aku memejamkan mata.
Sakit.
Sangat sakit.
Aku tahu Arien sedang marah.
Aku tahu mungkin dia tidak benar-benar bermaksud menyakitiku.
Tetapi tetap saja…
Aku merasa seperti orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam keluarganya dan mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.
Aku mundur perlahan.
Aku tidak ingin mereka tahu bahwa aku mendengarnya.
Masalah kemudian datang dari Sean.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia katakan kepada Kak Yuta dan bagaimana mereka bisa akrab.
Namun setelah itu, sikap Kak Yuta kepadaku berubah.
Dingin.
Jauh.
Bahkan terkadang kasar.
Aku mencoba mendekatinya.
Dia menghindar.
Aku mencoba bertanya.
Dia diam.
Sampai akhirnya aku mendengar pertengkarannya dengan Arien.
“Kau selalu membelanya!”
“Aku tidak membela siapa-siapa!”
“Lalu kenapa kau selalu berada di pihak Ghali?!”
“Karena dia tidak salah!”
Aku berdiri jauh dari mereka.
Aku ingin pergi.
Namun kakiku tidak bisa bergerak.
Kemudian Kak Yuta mengucapkan kalimat yang membuatku membeku.
“Kalau begitu kita selesai.”
Arien terdiam.
Air matanya jatuh.
“Kak Yuta…”
“Aku bilang selesai.”
Aku menundukkan kepala.
Sekali lagi…
Aku merasa semuanya terjadi karena aku.
Pagi itu, Kak Yuta datang menemuiku.
Tangannya langsung menarik lenganku.
“Kak?”
Dia tidak menjawab.
“Kak Yuta, mau ke mana?”
Dia terus berjalan dan membawaku ke tempat yang jauh dengan mengendarai mobil kesayangannya.
Cengkeramannya semakin kuat.