Untukmu Selamanya

Kinanti Sekar
Chapter #1

Draft Proyek Baru dalam Hatiku

Namaku Dimas, Dimas Adhiyaksa.


Jika orang-orang bertanya siapa perempuan yang paling berpengaruh dalam titik balik hidupku, jawabannya bukan mantan istriku. Bukan pula perempuan-perempuan yang pernah singgah di ranjangku ketika aku masih menganggap cinta hanyalah sebuah permainan ego.


Jawabannya adalah Rena.


Perempuan itu sudah lama pergi dari hidupku. Bertahun-tahun lamanya. Namun, anehnya, ia masih menjadi pemegang saham proyek terbesar di dalam kepalaku. Namanya tidak pernah benar-benar lenyap. Selalu ada ruang sunyi yang diam-diam menyimpannya dengan rapi, seolah waktu tidak pernah berhasil menghapus jejak langkahnya.


Aku sering merenung dan bertanya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin seseorang yang sudah memilih melangkah jauh masih mampu membuat dadaku sesak hanya karena sebuah nama yang terus berputar-putar dalam ingatanku?


Mungkin karena penyesalan memang tidak pernah mengenal tanggal kedaluwarsa.


Aku yang membuat Rena memilih pergi dari kehidupanku. Bukan karena aku berhenti mencintainya, melainkan karena kebodohanku sendiri. Dan kebodohan masa muda itu harus kubayar dengan harga yang sangat mahal.


Rumah tangga yang kemudian kubangun bersama Vira setelah kepergian Rena ikut runtuh berkeping-keping. Lucunya, penyebab perceraian kami bukan karena aku jatuh cinta kepada perempuan lain setelah menikah. Aku memang berselingkuh, namun perselingkuhan itu sengaja kurancang dengan dingin.


Aku menyewa seorang perempuan di salah satu kelab malam kawasan Senopati, lalu kubiarkan semua bukti foto dan pesan singkat sampai ke tangan Vira. Aku membuat semua skenario kotor itu terlihat begitu nyata agar istriku mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.


Gila? Ya, aku memang segila itu. Psikologiku jungkir balik oleh obsesi masa lalu. Hanya ada satu tujuan yang memenuhi benakku saat itu: aku ingin bebas dari Vira dan kembali mengejar Rena, bidadari yang tak pernah sekalipun bisa ku lupakan itu.


Ironisnya, ketika semua bidak catur yang kususun telah berakhir, aku justru dihantam kenyataan pahit. Tidak semua kesalahan di dunia ini diberi kesempatan kedua untuk diperbaiki.


---


**Delapan tahun sebelumnya.**


Usiaku baru menginjak dua puluh sembilan tahun saat itu. Masa-masa ketika darah mudaku sedang bergejolak, dipenuhi ambisi besar dan rasa percaya diri yang meluap-luap.


"Bos, jadi balik ke kantor sekarang?" Suara Syaiful membuyarkan lamunanku.


Aku menoleh ke arah lelaki berkulit sawo matang itu. Syaiful Syarif adalah asisten lapangan kepercayaanku selama tiga tahun terakhir. Dia orang yang paling tahu bagaimana kasarnya tabiatku jika proyek sedang bermasalah.


"Iya. Rapat dengan divisi keuangan jam dua," jawabku seraya mengelap keringat di dahi.


Syaiful melirik jam tangan digitalnya yang tampak kusam. "Waduh, Bos. Sekarang sudah lewat jam satu. Jalur keluar Priok sedang macet total karena antrian kontainer."


Aku mengembuskan napas panjang, menatap hamparan proyek yang gersang. "Sial."


Hari itu aku baru saja menyelesaikan inspeksi proyek pembangunan terminal pelabuhan di Tanjung Priok. Sebuah proyek infrastruktur bernilai triliunan rupiah dari BUMN tempatku bekerja. Mega proyek yang membuatku nyaris tinggal di lapangan selama berbulan-bulan, bergulat dengan debu dan tekanan tinggi.


Sebagai Manajer Proyek termuda, hidupku tidak pernah jauh dari beton, target penyelesaian yang mencekik, audit sekuritas, dan negosiasi alot. Namun, aku menyukai semua ritme gila itu. Bagiku, proyek adalah adrenalin. Semakin besar nilai anggarannya, semakin hidup rasanya jiwaku.


Aku berjalan menuju mobil BMW 330i M Sport keluaran terbaru milikku yang terparkir di bawah terik matahari yang menyengat. Kilap cat hitamnya kontras dengan kekumuhan sekitar. Belum sempat aku menyentuh gagang pintu, Syaiful sudah menyeringai jahil.


"Mau ke mana, Bos?" tanya Syaiful dengan sengaja.


"Kantor pusat," jawabku pendek.


"Ngapain? Rajin amat."


"Rapat, Syaiful."


"Cie, rapat dengan Mbak Berta?" Syaiful menaikkan sebelah alisnya.


Aku mendelik tajam. "Iya. Kenapa?"


"Wah, bukannya Bos dengan Mbak Berta seperti kucing dan anjing? Selalu musuhan kalau ketemu."


Aku terkekeh, membuka pintu mobil sehingga hawa dingin dari AC yang sengaja kunyalakan sejak tadi berembus keluar. "Musuhan apanya? Itu namanya diskusi sehat antar-divisi."

Lihat selengkapnya