Untukmu Selamanya

Kinanti Sekar
Chapter #2

Rasa Hangat di Divisi Keuangan

Sejak rapat siang itu, ada satu kebiasaan baru yang diam-diam tumbuh dan berakar dalam hidupku. Aku mulai sering mencari alasan untuk turun ke lantai divisi keuangan.


Padahal sebelumnya, segala urusan anggaran selalu kupercayakan sepenuhnya kepada Erika, sekretarisku. Jika ada revisi, cukup kuselesaikan lewat surat elektronik. Jika ada dokumen penting yang membutuhkan tanda tangan, aku hanya perlu meminta kurir internal untuk mengantarkannya.


Namun, entah sejak kapan, kakiku terasa begitu ringan setiap kali harus mengantar berkas sendiri. Perubahan ritme kerja ini rupanya tidak luput dari perhatian Erika. Suatu hari, pergelangan tanganku baru saja menyentuh gagang pintu ketika Erika mengernyit heran sambil mengangkat sebuah map.


"Pak Dimas, biar saya saja yang ke divisi keuangan," ujar Erika, menawarkan diri dengan sopan.


Aku menggeleng santai, mencoba menyembunyikan letup kegugupan di dalam dada. "Tidak usah, Er. Sekalian saya ingin mencari udara segar kok."


Erika tidak langsung kembali ke layar komputernya. Ia justru menatapku dengan pandangan penuh selidik yang menggelitik. "Kok, rasanya udara di lantai divisi keuangan jauh lebih sejuk daripada di lantai kita ya, Pak?"


Aku melotot kecil, berusaha mempertahankan wibawaku sebagai atasan. "Kamu ini kebanyakan membaca novel romantis. Cepat kembali bekerja."


Erika tertawa kecil, suara renyahnya mengiringi langkahnya yang kembali ke meja kerja. "Baik, Pak."


---


Dua bulan terakhir ini, intensitas kedatanganku ke kantor pusat meningkat tajam. Proyek pembangunan di Tanjung Priok memang sedang padat-padatnya, tetapi alasan utamaku kerap menghabiskan waktu di kantor pusat sebenarnya ada di lantai yang berbeda.


Untuk memuluskan siasat ini, aku bahkan sering menyeret Syaiful, asisten pelaksana proyek, untuk ikut menemaniku ke kantor pusat dengan dalih koordinasi percepatan anggaran. Syaiful, yang biasanya malas meninggalkan area proyek yang berdebu, belakangan hanya bisa pasrah mengekor di belakangku.


Siang itu, aku kembali memasuki ruang divisi keuangan bersama Syaiful. Suasana di ruangan ini selalu berhasil memikatku karena kontrasnya yang begitu kentara dengan divisi proyek. Di sini, tidak ada suara orang yang berteriak saling bersahutan lewat telepon genggam. Tidak ada aroma semen atau debu pekat yang menempel di pakaian kerja. Tidak ada pula umpatan-umpatan kasar para mandor yang pening mengejar tenggat waktu.


Yang terdengar di ruangan ini hanyalah bunyi taktis dari ketukan keyboard laptop dan desiran halus pendingin ruangan.


Mataku langsung bergerak liar, menyisir ruangan, dan dalam hitungan detik langsung menemukannya, Rena. Perempuan itu sedang berdiri di depan mesin fotokopi, jemari lentiknya bergerak telaten merapikan beberapa map tebal. Hijab berwarna *sage* yang dikenakannya siang ini tampak sederhana, tanpa payet atau aksesori berlebih, tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat wajahnya terlihat begitu teduh dan cantik.


Aku memberi isyarat kepada Syaiful untuk menunggu di kubikel depan, lalu aku melangkah menghampiri Rena. "Selamat siang," sapaku.


Rena menoleh terkejut. Sepasang matanya yang jernih mengerjap sesaat sebelum ia mengulas senyum tipis. "Oh, selamat siang, Pak Dimas."


Lihat selengkapnya