Tenang bukan berarti tak bersuara, berbantah tak selalu harus marah, menerima tak berarti tidak bertanya, kalau hilang arah... ingat saja senyum ayah.
“Ayah! Ayamnya kabur! Tolong tangkap Ayah!”
Suara Wina menggema dari arah dapur dan teriakannya naik nada perdetiknya.
Ayah yang saat itu tengah menyiram tanaman di depan rumah tampak tenang seolah tak terpengaruh oleh teriakan sumbang itu.
Ayam yang ia kejar berlari gesit mengitari pekarangan rumah dan membuat tumpukan dedaunan yang tadinya sudah dikumpulkan Ayah kembali beterbangan. Wina masih berteriak sambil sesekali menarik napas yang tersengal-sengal.
“Ayah kok cuek aja sih?” tanya Wina kesal.
“Ya, untungnya apa?” tanya Ayah.
“Untung apanya? Ayamnya kabur,” sahut Wina kesal sambil terus mengejar ayam.
“Untungnya berarti ayamnya masih sehat. Ayam sakit mana bisa lari?” jawab Ayah sambil terus menyirami bunga-bunganya.
Wina berhenti sesaat.
Ia menatap ayam yang kini berlari menuju sisi pagar, lalu menatap Ayah.
“Yah, ayam itu bukan pasien rumah sakit. Itu ayam yang mau dimasak!”
Ayah mengangkat bahu.
“Justru itu. Berarti dia masih punya semangat hidup.”
“Semangat hidup apaan?!”
Ayam kembali berlari.
Wina mengejarnya.
Daun-daun beterbangan.
Sapu yang tadi disandarkan di dinding ikut jatuh.
Satu sandal Wina terlepas.
Dan ayam itu tetap berlari seperti tahu dirinya sedang memperjuangkan kebebasan terakhir sebelum masuk ke wajan.
Belum sempat Wina menjawab, Lucky berlari dari kamarnya dengan mata yang masih setengah mengantuk sambil mengangkat ponselnya.
“Geser dikit. Pencahayaannya kurang mantap,” teriak Lucky.
Wina segera memalingkan wajah.
“Gue berantakan! Turunin kamera lo!” teriak Wina lagi.
“Justru itu natural. Penonton suka yang natural.”
“Natural apaan? Rambut gue kayak sapu ijuk!”
Lucky malah semakin mendekatkan kamera.
“Guys, hari ini kita punya konten luar biasa. Kakak gue sedang mengejar ayam yang—”
“LU TURUNIN!”
“—diduga melakukan percobaan kabur dari rumah.”
“Lucky!”
Lucky tertawa.
“Untungnya ayamnya kabur, jadi ada bahan konten hari ini,” teriak Lucky girang.
“Gak juga. Untungnya kurang mantep. Coba pikirin untung lainnya. Waktunya lima detik dari sekarang,” tantang Ayah.
“Bukan waktunya bercanda!” teriak Wina lebih keras lagi.
“Untungnya Kak Wina gak perlu capek-capek setor bakar kalori hari ini. Katanya mau diet,” timpal Bestri di balik pintu rumah.
“Best!”
Bestri hanya terkekeh.
Sejak pagi, rumah keluarga Dwiit memang hampir tidak pernah benar-benar tenang.
Bukan karena mereka sering bertengkar.
Justru sebaliknya.
Mereka sudah terlalu terbiasa hidup dalam kekacauan kecil yang bagi keluarga lain mungkin dianggap masalah, tetapi bagi keluarga ini entah bagaimana selalu bisa berubah menjadi bahan bercanda.
Dan semuanya bermula dari Ayah.
Pak Dwiko.
Bagi Ayah, hampir semua kejadian selalu punya satu pertanyaan yang sama.
“Untungnya apa?”
Gelas pecah?
“Untung tidak kena kaki.”
Hujan turun saat hendak pergi?
“Untung tanaman tidak perlu disiram.”
Ketinggalan dompet?
“Untung sadar sebelum jauh.”
Pernah suatu kali Ayah kehilangan sandal sebelah.
Satu rumah mencarinya hampir setengah jam.
Setelah ditemukan ternyata sandalnya terselip di bawah sofa.
Ayah hanya tertawa.
“Untung cuma satu.”
Tidak ada yang mengerti maksudnya.
Sampai Ibu berkata bahwa kalau yang hilang dua-duanya, mungkin Ayah akan berjalan tanpa alas kaki.
Begitulah keluarga ini.
Mereka bisa mengubah hampir semua kejadian menjadi sesuatu yang terdengar seperti keberuntungan.
Hampir semua.
Kecuali Wina yang pagi itu sudah hampir kehilangan kesabaran.
“Yah! Ini ayamnya mau ke jalan!”
Ayah masih menyiram bunga.
“Jangan sampai ke jalan.”
“Ya aku tahu!”
“Kalau sampai jalan, bisa ketabrak.”
“Makanya ditangkap!”
“Berarti kamu sudah tahu untungnya.”
Wina memejamkan mata.
“Kadang aku bingung kenapa Ayah selalu punya jawaban.”
Ayah tersenyum.
“Karena kalau Ayah ikut panik, nanti siapa yang menenangkan kalian?”
Wina tidak sempat membalas karena ayam itu kembali berbalik.
Ia mengejar lagi.
“AAAA!”
Lucky mengikuti dari belakang sambil tertawa.
“Ini kalau viral, lumayan.”
“Kalau gue masuk rumah sakit gara-gara kepleset, jangan bikin konten!”
“Justru kalau viral—”
“LU!”
“Ya, ya, aku diem.”
Tentu saja Lucky tidak benar-benar diam.
“Untungnya ayamnya kabur, jadi ada bahan konten hari ini,” ulangnya.