Untungnya Apa?

Enggia Valox
Chapter #2

Jangan Panik, Cari Untungnya

“Assalamualaikum. Pak! Pak Dwiko!”

Sepagi ini sudah ada seorang ibu dan seorang bapak yang usianya hampir seusia Ayah memanggil dari balik pagar rumah mereka.

“Waalaikumsalam,” jawab Bapak yang tengah menyirami bunga-bunga Ibu dari arah samping rumah.

Terlihat dua orang dengan wajah cemas dan ketakutan berdiri di halaman rumah.

“Pak Dwiko, tolong saya. Motor saya dicuri orang,” sahut bapak itu dengan tangan bergetar.

“Ha? Dicuri?” Ibu tiba-tiba muncul di balik badan Ayah dengan sutil masih di tangan dan celemek yang masih melekat.

“Ayo masuk dulu,” sahut Ayah.

“Silakan duduk Pak, Buk,” sahut Ibu dengan penuh prihatin.

“Jadi gini Pak Dwiko, Ibu Inggrit. Kedatangan kami ke sini ingin mengabari bahwa semalam motor saya dicuri orang.”

“Baik Pak. Saya ikut prihatin dengan musibah yang menimpa Bapak dan Ibu. Tapi sebelumnya mohon maaf ya, Bapak dan Ibu ini siapa ya?” tanya Ayah bingung.

“Oh maaf. Perkenalkan nama saya Rahmat dan ini istri saya, boleh dipanggil Bu Rahmat aja. Kami baru pindah sekitar satu bulan lalu dekat rumahnya Pak Kades,” jawab Pak Rahmat.

“Ya kali dipanggilnya Bu Dwiko. Kan gak mungkin,” bisik Bestri yang mengintip dari pintu kamar.

“Empati dikit napa sih,” sahut Wina.

“Kasus pencurian. Berita viral ini. Rekam ah,” sahut Lucky.

“Ngerekam tanpa izin, ada undang-undangnya lho,” timpal Wina lagi.

“Kalau viral, bisa ngundang donasi,” sahut Bestri.

“Nah, betul. Bagus kan?” tanya Lucky semangat.

“Tapi kalau gak, bisa ngundang emosi alias dituntut,” lanjut Bestri.

“Lo sebenarnya di pihak siapa sih?”

“Bisa diem gak?” sahut Wina.

“Jadi Pak Dwiko, kedatangan kami kemari ingin bertanya sama Bapak terkait dengan kejadian yang buruk menimpa kami ini,” lanjut Pak Rahmat.

“Nanya apa ya Pak Rahmat?” tanya Ayah bingung.

“Untungnya apa?” tanya Pak Rahmat.

Seketika Ayah terbelalak. Tidak terkecuali dengan ketiga anaknya yang ikut menganga ketika mendengar kalimat itu. Ibu bahkan gak sengaja menjatuhkan sutil yang sejak tadi setia di tangannya.

“M...maksud Pak Rahmat apa ya?” tanya Ayah bingung.

“Ya saya dengar Pak Dwiko terkenal di sekitar sini sebagai orang yang bisa menemukan keuntungan dari setiap kejadian. Makanya saya ke sini buat nanyain keuntungan apa yang bisa saya dapat dari kejadian ini?” tanya Pak Rahmat sungguh-sungguh.

Ayah gelagapan. Beliau terlihat bingung karena tiba-tiba pertanyaan yang biasa ia lontarkan harus ia jawab sendiri kali ini.

Untuk beberapa detik, Ayah hanya menatap Pak Rahmat.

Seumur hidupnya, ia tidak pernah menyangka kalimat yang sering ia gunakan untuk menenangkan orang lain suatu hari akan kembali kepadanya dalam keadaan yang tak terduga seperti saat ini.

“Jadi... Bapak mau saya cari untung dari motor yang hilang?”

Pak Rahmat mengangguk mantap.

“Iya.”

Ayah menggaruk kepala.

“Waduh.”

Lucky menahan tawa.

Wina menutup mulut.

Bestri justru terlihat menikmati keadaan.

“Kenapa, Yah?” bisik ibu.

“Ayah lagi mikir.”

“Mikir apa?”

“Untungnya apa.”

Ibu langsung menggigit bibir agar tidak tertawa.

“Saya udah mendengar Pak, cerita hebat Pak Dwiko yang selalu bisa membuka jalan keluar bagi mereka yang tengah menghadapi berbagai masalah...” sahut Pak Rahmat sambil berdiri dengan mimik muka serius.

Seketika ingatan Ayah berusaha mengingat ‘keberhasilan’ yang sudah diakui oleh para tetangga.

Waktu itu, Pak Kades pernah ketinggalan pesawat sebelum pergi keluar kota. Ayah dengan tenang bilang, “Untungnya cuma ditinggal pesawat, kalau ditinggalin istri gimana?” Dan ternyata malamnya, ada korslet yang hampir membakar rumah Pak Kades. Coba kalau beliau gak di rumah? Bisa habis rumah mereka. Cerita ini heboh dibahas waktu itu.

Lalu, ada juga calon pengantin yang tiba-tiba batal menikah dan menangis meraung-raung. Ayah dengan tenang bilang, “Untung masih bisa diundur, jadi bisa nabung lebih banyak. Pernikahan itu tanggung jawabnya besar, lho.”

Seminggu kemudian harga barang sembako melonjak naik. Katering tentu saja juga melambung tinggi. Jika pernikahan tetap dilanjutkan, mungkin akan terjadi masalah besar.

Lalu ada tetangga lain yang saat itu kehilangan sandal di masjid.

“Pak Guntur kenapa mukanya habis salat malah kusut?” tanya Ayah.

“Anu Pak. Sandal saya ada yang nyuri.”

“Untung yang dicuri sandalnya, coba kalau kakinya,” jawab Ayah.

Pak Guntur mendengus kesal. Saat beliau berbalik, ada seseorang yang berlari kecil mendekat sambil membawa sandal.

“Bapak di sini pasti ada yang kehilangan sandal ya? Kayaknya ketuker sama punya saya. Saya lupa tadi masuknya lewat pintu sana. Karena sandalnya mirip jadi saya salah bawa,” sahut orang itu.

“Hu-uh. Untung yang ketuker sandalnya, bukan kakinya,” jawab Pak Guntur.

Seketika orang-orang yang ada di sana ikut tertawa.

“Jadi gimana Pak Dwiko?” tanya Pak Rahmat membuyarkan lamunan Ayah.

“Engg... gak gimana-gimana juga Pak. Sekarang kita fokus dulu mencari tahu keberadaan motor Pak Rahmat. Masalah bagaimana dengan untungnya, kita belum bisa menyimpulkan apa-apa.”

“Jangan-jangan Pak Dwiko butuh pelicin,” bisik Bu Rahmat ke suaminya.

“Gak gitu, Bu,” potong Ibu cepat.

“Kan katanya keluarga Duit,” lanjut Bu Rahmat.

“Keluarga Dwiit, Bu. Dwi-it. Keluarga Dwiko-Inggrit. Bukan keluarga duit,” Wina tiba-tiba keluar kamar memotong pembicaraan.

Ayah memberi kode dengan tangannya agar Wina segera masuk kembali. Namun bukan hanya Wina, Lucky dan Bestri juga ikut keluar.

Tiga anak itu berdiri berjajar seperti tim investigasi yang tidak pernah diminta.

“Kalau Bapak sama Ibu nanya untungnya apa, gampang kok Pak. Motornya nyicil apa udah lunas?” sahut Lucky.

“Nyicil,” jawab Pak Rahmat.

“Lha bagus. Artinya bulan depan gak perlu bayar cicilan, kan?” sahut Lucky merasa pintar.

“Tapi kalaupun motor ilang, cicilan bukannya tetap harus dibayar ya?” sahut Bestri.

Seketika senyum Lucky tersurut.

“Tapi kayaknya udah lunas, deh,” lanjut Pak Rahmat lagi.

“Nah. Itu artinya bisa beli motor baru lagi. Biar move on,” sahut Lucky.

Pak Rahmat hanya memandang Lucky. Bestri menepuk jidat. Wina menghela napas. Ayah menatap langit-langit rumah seolah sedang meminta kesabaran tambahan.

“Artinya harus lebih waspada. Kalau dia nyuri gak ketahuan masih bisa dibilang gak membahayakan. Tapi kalau ketangkap basah lagi nyuri, nyawa bisa jadi taruhan,” sahut Wina tenang.

“Tapi kalau ketahuan minimal bisa teriak, kan?” bantah Lucky.

“Masalahnya dalam keadaan terdesak, otak sama gerak gak sinkron. Masa itu aja gak paham?” sahut Bestri.

“Anak-anak tenang. Masuk ke kamar!” perintah Ayah.

Lihat selengkapnya