Bestri mendorong pintu sebuah minimarket dan masuk. Udara dingin langsung menyambut dirinya yang dipenuhi keringat di wajahnya. Bukan hanya udara panas yang membuat ia terlihat agak lelah, namun sebelumnya ia sudah berlari dari gerbang sekolah sambil menghitung waktu. Hobinya memang lari. Meskipun menurut kedua kakaknya tidak ada untungnya berlari tidak jelas selain menghabiskan tenaga.
Gadis itu mengambil sebotol minuman dingin lalu segera beranjak menuju meja kasir.
“Empat ribu, Dek.”
“Mas tinggal di mana?” sahut Bestri kemudian, membuat si mas kasir agak sedikit kaget.
“Di Blok Anggrek, Dek. Memangnya kenapa?”
“Gak sih. Nanya aja biar ada yang diomongin,” sahut Bestri sambil menyerahkan uangnya.
Si kasir menerima uang itu sambil mengerinyitkan dahi.
“Biasanya orang beli minuman nanyanya ‘ada promo gak, Mas?’”
“Kalau saya tanya promo nanti Mas jawabnya bisa ‘ada’. Kalau saya tanya tinggal di mana, jawabannya pasti lebih panjang.”
Si kasir terdiam.
Bestri mengangguk puas.
“Makasih, Mas. Gak usah baper juga, ya,” lanjutnya sambil melangkah pergi.
Mas kasir masih melongo. Ia baru tersadar saat melihat dompet Bestri tertinggal dalam keadaan terbuka di atas meja kasir. Terlihat kartu pelajar dirinya dengan nama Bestri Gia Cahyono.
“Anaknya Pak Hadi Cahyono?” sahut si mas kasir kaget.
“Dek! Tunggu, Dek!” teriaknya sambil berlari mengejar Bestri keluar.
“Dek! Dompetnya ketinggalan!”
Bestri berhenti dan menoleh.
“Eh? Aduh, maaf, Mas. Jadi ngerepotin. Makasih, ya, Mas.”
“Anaknya Bapak Hadi Cahyono, ya? Kok gak bilang-bilang?”
Dahi Bestri berkerut.
“Kok gak bilang dari tadi?”
“Kenapa harus bilang anaknya siapa?”
“Ya biar saya tahu juga kalau...”
“Eh, ada yang beli itu, Mas,” sahut Bestri sambil menunjuk ke arah dalam minimarket.
Si Mas langsung berbalik.
“Mana?”
“Ya itu.”
Bestri langsung berjalan menjauh.
Beberapa langkah kemudian ia berhenti dan menoleh.
“Mas!”
“Iya?”
“Jangan gampang percaya sama orang.”
Si kasir mengangguk bingung.
Bestri tersenyum lalu kembali berjalan.
“Hati-hati, ya, Dek. Eh... Non... eh, apa ya? Pokoknya itu lah.”
Bestri terpaku beberapa detik lalu mengeluarkan ponselnya. Ia mencari tahu nama yang dimaksud.
“Bapak Hadi Cahyono? Pemilik beberapa swalayan dan pengusaha bisnis?” sahut Bestri sambil berjalan menuju rumahnya.
Ia membaca beberapa informasi sekilas.
“Dikirain gue anaknya kali, ya?”
Bestri memasukkan ponselnya ke saku.
“Padahal nama Cahyono juga banyak.”
Namun langkahnya mendadak melambat.
“Dwiko Cahyono.”
Bestri menggeleng sambil tersenyum.
Ia melanjutkan perjalanan.
“Assalamualaikum. Anak bontot sudah pulang,” teriak Bestri begitu membuka pintu rumah.
Suasana hening.
Padahal semuanya lengkap.
“Wah, rumah ini kenapa? Ada challenge tutup mulut, ya?”
Tidak ada jawaban.
“Apa untungnya sih kalem-kalem gini? Aku gak salah rumah, kan?”
“Salah rumah sih gak. Salah alamat ngomong, iya,” jawab Wina dari ruang tengah.
Bestri berjalan menuju sumber suara.
“Kok pada diem?”
“Lagi gak ada bahan buat dibahas,” jawab Wina.
“Gak mungkin.”
“Kenapa?”
“Di rumah ini kalau gak ada bahan buat dibahas, biasanya kita bikin sendiri.”
Lucky muncul dari balik sofa sambil membawa ponsel.
“Jangan ganggu. Lagi mikirin caption.”
“Caption apa?”
“‘Hari ini belajar bahwa hidup adalah tentang proses.’”
Bestri menatap Lucky.
“Padahal tadi gue lihat lo makan tiga gorengan.”
“Proses menuju kenyang.”
Wina memijat pelipisnya.
“Bisa gak kalian diam sebentar?”
Bestri mengerutkan kening.
“Ada apa?”
“Gak ada.”
“Kalau gak ada apa-apa, kenapa Kak Wina mukanya kayak habis lihat nilai ujian?”
“Memangnya muka orang habis lihat nilai ujian kayak apa?”
“Kayak orang yang tahu nilainya jelek tapi masih berharap gurunya salah menghitung.”
Lucky mengangguk.
“Benar juga.”
“Bisa gak kalian berdua berhenti menganalisis muka orang?” sahut Wina.
Bestri hendak bertanya lagi, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Ibu duduk di sudut ruang tengah. Tidak seperti biasanya, Ibu tidak sibuk dengan pekerjaan.
Ia hanya diam.
Bestri memandang Wina.
Wina menggeleng pelan.
“Jangan tanya sekarang.”
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan.”
Bestri mengangguk.
Namun ia justru semakin penasaran.
---
Malam datang perlahan.
Suara jangkrik saling menyahut dari halaman belakang. Lampu rumah sudah dinyalakan, tetapi sisi samping rumah tempat ayah dan ibu duduk masih terasa remang-remang.
Ibu duduk di ayunan kayu samping rumah.
Ayah datang mendekat dan duduk di samping Ibu.
“Bulannya gak ada, ya?” sahut Ayah.
“Sepertinya.”
“Tapi tetap ada cahaya, kan, ya?”
“Kuasa Allah,” jawab Ibu lagi.
Ayah tersenyum.
“Kenapa belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
“Kuasa amarah?”
Ibu menghela napas.
“Gak marah, Yah... tapi...”
“Tapi?”
Ibu diam.
Ayah menunggu.
“Kesel? Takut?”
Ibu tetap diam.
“Lucky dari tadi lemes, lho. Mau nanya juga takut. Wina sama Bestri gak berani nanya ke Ibu.”
Ibu tersenyum tipis.
“Anak-anak sudah besar.”
“Justru karena sudah besar, mereka makin pintar membaca muka ibunya.”
Ibu kembali diam.
Ayah menatap halaman.
“Seharian ini mereka memperhatikan Ibu.”
“Ayah juga.”
“Iya. Ayah juga.”
Beberapa detik berlalu.
“Ayah yang salah, ya?” tanya Ayah akhirnya.
Ibu menoleh.
“Kenapa?”
“Makanya Ibu malu datang reuni? Karena Ayah cuma karyawan kantor swasta biasa dan Ibu merasa minder ketemu mereka?”
“Yah... maksudnya bukan gitu.”
“Sssttt.”
Ayah tersenyum kecil.
“Ayah tahu.”
“Ayah gak tahu.”
“Ayah tahu sedikit.”
Ibu menunduk.
“Ayah gak marah. Karena dulu di mata mereka Ibu itu hebat. Panutan. Dan mungkin mereka berharap Ibu akan menjadi dosen, pengusaha, atau minimal orang kaya. Gak hidup seperti ini sama Ayah.”
“Yah...”
“Kadang memang ada keadaan yang membuat kita merasa tertinggal dari suatu standar yang kita buat sendiri. Dan standar itu bisa menghancurkan pikiran kita sendiri.”
Ibu mulai berkaca-kaca.
“Ayah minta maaf jika akhirnya Ibu harus hidup jauh dari standar yang dulu Ibu ciptakan.”
Air mata Ibu akhirnya jatuh.
“Bukan Ayah yang harus minta maaf.”
“Terus siapa?”
“Ibu sendiri.”
Ayah diam.
Ibu mengusap pipinya.
“Maafkan Ibu, ya, Yah.”
“Untuk apa?”
“Karena Ibu sempat berpikir bahwa hidup Ibu ini sesuatu yang harus disembunyikan.”
Ayah menggenggam tangan Ibu.
“Dengar.”
Ibu menoleh.
“Gak ada yang perlu disembunyikan.”
“Tapi mereka dulu melihat Ibu sebagai orang yang punya masa depan.”
“Dan Ibu memang punya masa depan.”
“Sekarang?”
“Sekarang juga.”
Ibu tersenyum pahit.
“Sekarang Ibu jualan nasi uduk.”
“Terus?”
“Terus... kadang Ibu merasa kalah.”
Ayah menggeleng.
“Kalah dari siapa?”
Ibu tidak menjawab.
“Dari teman-teman Ibu?”
Ibu menunduk.
“Dari kehidupan yang Ibu bayangkan dulu?”
Ibu mengangguk.