Pagi itu, Wina berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Kemeja putih yang baru disetrika Ibu Inggrit sudah tiga kali ia rapikan. Kerahnya dibetulkan. Lengan bajunya diperiksa. Bahkan bagian bawah kemeja yang sebenarnya sudah rapi masih sempat ditarik beberapa kali.
Di atas meja, sebuah map cokelat tergeletak dengan posisi sangat lurus. Wina membukanya. Ijazah. Transkrip nilai. Sertifikat organisasi. Sertifikat pelatihan. Fotokopi kartu identitas. Semuanya tersusun berdasarkan ukuran kertas.
Wina menghitungnya sekali lagi. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Ia mengangguk.
“Aman.”
Ibu Inggrit yang sejak tadi berdiri di ambang pintu membawa segelas teh hangat.
“Aman apa?”
Wina menutup map.
“Dokumennya.”
Ibu menyerahkan gelas itu.
“Dari tadi juga ibu lihat sudah rapi.”
“Takut ada yang kurang.”
“Sudah diperiksa tiga kali.”
“Justru karena itu.”
Ibu mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Kalau diperiksa sekali, takut ada yang kurang. Kalau dua kali, takut ada yang terlewat. Kalau tiga kali…”
“Takut tetap kurang?”
Wina terdiam.
Ibu tertawa kecil.
“Anak ibu kalau soal angka dan kertas memang luar biasa.”
Wina tersenyum.
“Ini penting, Bu.”
“Iya.”
Ibu memandang putrinya dari kepala sampai kaki. Ia tahu kemeja itu sudah disetrika sejak tadi malam. Ia tahu Wina bangun lebih cepat daripada biasanya. Ia juga tahu sejak tadi malam putrinya beberapa kali membuka map hanya untuk memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah pasti ada di sana. Ibu tahu Wina sedang gugup. Tetapi ia tidak mengatakannya. Sebab terkadang, orang yang sedang gugup tidak membutuhkan seseorang yang mengatakan bahwa dirinya gugup. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ibu tersenyum.
“Semoga hari ini berhasil.”
Wina mengangguk.
“Semoga.”
Ibu hendak berbalik ketika Wina tiba-tiba memanggil.
“Bu.”
“Hm?”
“Kalau aku belum dapat juga…”
Ibu menunggu. Wina menunduk.
“…aku harus bagaimana?”
Ibu mendekat. Ia merapikan sedikit rambut Wina yang keluar dari belakang telinga.
“Ya cari lagi.”
“Sesederhana itu?”
“Memangnya harus bagaimana?”
Wina tersenyum tipis. Ibu menepuk bahunya.
“Jangan mengukur dirimu dari berapa kali orang menolakmu.”
Wina menatap ibunya.
“Terus dari apa?”
“Dari berapa kali kamu masih mau mencoba.”
Kalimat itu sederhana. Namun Wina mengingatnya. Sebab ibunya memang seperti itu. Tidak banyak memberi nasihat panjang. Tetapi sekali bicara, biasanya sulit dilupakan. Dari ruang tengah terdengar suara langkah kaki diseret. Lucky muncul dengan rambut berantakan dan mata setengah terpejam.
Ia menguap panjang.
“Kalau ditolak lagi…”
Wina langsung menoleh. Lucky mengambil pisang goreng dari meja.
“…bilang saja bapak kenal orang dalam.”
Wina mengernyit.
“Jangan ngomong begitu.”
“Loh, kenapa?”
“Karena aku mau diterima karena kemampuanku.”
Lucky mengunyah pisang goreng.
“Kalau aku sih langsung cari manajernya.”
“Itu namanya minta dikasihani.”
Lucky menggeleng.
“Itu namanya strategi.”
“Strategi dan jalan pintas itu beda.”
“Tipis.”
“Justru karena tipis, jangan dicampur.”
Pak Dwiko yang sejak tadi berada di halaman menyiram tanaman tiba-tiba ikut menyahut.
“Kalau tipis, jangan dilewati.”
Lucky menoleh ke halaman.
“Nah, itu maksud saya.”
Wina mendengus.
“Ayah bahkan enggak tahu kita ngomongin apa.”
Pak Dwiko mematikan keran.
“Tapi kalau ada kata jalan pintas, biasanya ujungnya masalah.”
Ibu Inggrit tertawa dari dalam.
“Sudah. Sarapan dulu.”
Lucky mengambil satu pisang goreng lagi.
“Bu, kalau nanti aku sukses, ibu jangan kaget.”
Ibu menatap anak laki-lakinya.
“Sukses apa?”
“Terkenal.”
“Terkenal karena apa?”
Lucky berpikir.
“Belum tahu.”
Ibu tertawa.
“Nah, itu masalahnya.”
Lucky memasang wajah tidak terima.
“Pokoknya nanti aku sukses.”
“Kalau begitu ibu tunggu.”
Ibu kembali ke dapur. Sebenarnya ia selalu senang mendengar anak-anaknya berbicara tentang masa depan. Meski kadang-kadang masa depan yang mereka bayangkan membuatnya ingin tertawa. Wina ingin pekerjaan yang stabil. Lucky ingin menjadi terkenal. Bestri ingin menjadi anak baik saja katanya. Dan semuanya punya cara sendiri untuk meyakinkan dunia bahwa mereka tahu apa yang sedang dilakukan. Padahal sebagai ibu, Inggrit tahu satu hal. Anak-anaknya belum tahu banyak. Dan itu tidak apa-apa. Bukankah menjadi ibu memang berarti melihat anak-anak berjalan menuju sesuatu yang belum mereka pahami, lalu diam-diam berdoa agar mereka tidak terlalu banyak jatuh?
Ibu Inggrit menoleh ke halaman. Pak Dwiko sedang menyiram tanaman. Ia tersenyum. Suaminya juga begitu. Selalu terlihat tenang. Selalu punya jawaban untuk segala sesuatu.
“Untungnya apa?”
Itulah kalimat yang paling sering keluar dari mulut laki-laki itu. Kadang-kadang Inggrit ingin tertawa mendengarnya. Kadang-kadang ia ingin marah. Tetapi lebih sering ia tahu bahwa kalimat itu adalah cara suaminya menjaga keluarganya agar tidak terlalu lama tenggelam dalam masalah.
Inggrit tahu. Pak Dwiko bukan tidak punya ketakutan. Ia hanya tidak suka memperlihatkannya. Dan pagi itu, entah mengapa, Inggrit merasa ada sesuatu yang berbeda dari suaminya. Ketika Pak Dwiko meletakkan selang, tangannya sempat menekan dada. Hanya sebentar. Sangat sebentar. Tetapi Inggrit melihatnya.
“Mas?”
Pak Dwiko menoleh.
“Kenapa?”
“Tadi pegang dada.”
Pak Dwiko tersenyum.
“Masuk angin.”
“Masuk angin sampai pegang dada?”
“Namanya juga angin.”
Inggrit memandangnya tajam.
“Jangan bercanda.”
Pak Dwiko tertawa kecil.
“Enggak apa-apa.”
Inggrit tidak menjawab. Ia hanya menatap suaminya beberapa detik lebih lama. Sebagai istri, ia tahu ada banyak hal yang tidak pernah dikatakan laki-laki itu. Dan sebagai ibu, ia tahu ada terlalu banyak hal yang harus ia pikirkan sendiri. Namun pagi itu bukan waktunya bertanya. Wina harus berangkat.
Inggrit hanya berkata,
“Hati-hati.”
Wina mengangguk.
“Bu, aku berangkat.”
“Semoga lancar.”
Pak Dwiko mendekat.
“Jangan lupa.”
Wina menunggu.
“Kalau ditanya gaji yang diharapkan, jangan jawab sesuai kebutuhan keluarga.”
Wina tersenyum.
“Lalu?”
“Sesuai kemampuanmu.”
Wina mengangguk.
Pak Dwiko menatap putrinya.
“Dan kalau tidak diterima…”
Wina menunggu.
“Jangan pulang sambil merasa gagal.”
Wina terdiam.
“Kenapa?”
“Karena orang yang gagal bukan orang yang belum diterima.”
Pak Dwiko menunjuk map di tangan Wina.