Untungnya Apa?

Enggia Valox
Chapter #5

Kalah Beruntun

Pagi itu, untuk pertama kalinya, gang tempat keluarga Dwiit tinggal terasa begitu sunyi. Tak ada suara Lucky yang berteriak mencari kaus kaki. Tak ada Wina yang mengomel karena kamar mandi terlalu lama dipakai. Tak ada Ibu yang menyuruh mereka sarapan sebelum makanan dingin. Bahkan suara Ayah yang biasanya menengahi keributan pun tak terdengar.

Bestri keluar rumah sambil mengenakan tas ranselnya. Baru beberapa langkah, pintu rumah sebelah terbuka.

“Eh, Bestri!” sapa Bu Rini dengan rambut masih acak-acakan. “Keluargamu kenapa?”

Bestri berhenti. “Kenapa, Bu?”

“Sunyi.”

Bestri menoleh ke arah rumahnya. Ia baru menyadarinya. Benar. Sunyi sekali.

“Ibu kesiangan.”

Bestri mengernyit bingung.

“Biasanya jam segini Lucky udah teriak, Wina udah ngomel, ibumu manggil-manggil. Itu alarm gratis buat satu gang.”

Pak RT yang sedang menyapu ikut tertawa.

“Saya juga telat nyiram tanaman. Kirain masih subuh.”

Bestri tersenyum kecil.

“Maaf ya, Bu.”

“Lho, jangan minta maaf. Besok ribut lagi aja.”

Bestri hanya mengangguk pelan, lalu melanjutkan langkah menuju sekolah. Namun senyum kecil yang tadi muncul di wajahnya perlahan menghilang. Ia tahu kenapa rumahnya mendadak sunyi. Bukan karena semua orang sedang tidur. Bukan karena Lucky sedang kehabisan bahan untuk berisik. Bukan pula karena Wina sedang tidak punya sesuatu untuk dikomplain. Ada sesuatu yang berubah sejak semalam. Dan perubahan itu bernama keputusan Ayah. Belum jauh dari gang, seseorang mengayuh sepeda hingga sejajar dengannya.

“Bes!”

Bestri menoleh.

“Eh, Rara.”

“Naik aja.”

Bestri duduk di boncengan. Beberapa saat mereka sama-sama diam. Rara mengayuh sepeda melewati jalan yang mulai ramai oleh anak-anak sekolah.

“Nilaimu udah kasih lihat ke orang tua belum?”

Bestri menggeleng.

“Belum.”

Rara menghela napas.

“Kemarin kamu juga bilang belum sempat karena Kak Wina lagi stres mau wawancara.”

Bestri hanya diam.

“Terus ibumu sibuk mau reuni.”

Bestri mengangguk pelan.

“Sekarang ayahmu mau pensiun.”

“Iya.”

Rara melirik sahabatnya itu.

“Bes...”

“Hm?”

“Besok apa lagi?”

Bestri tidak langsung menjawab. Ia menatap jalan di depan. Entah kenapa pertanyaan sederhana itu terasa berat.

Rara tersenyum tipis.

“Setiap orang memang punya masalah.”

Bestri mengangguk.

“Tapi termasuk kamu juga.”

Bestri menatap punggung Rara.

“Jangan terus sibuk mikirin masalah semua orang sampai lupa kalau kamu juga punya masalah.”

Bestri menarik napas pelan.

“Semalam... memang lagi terjadi sesuatu di rumah.”

“Apa?”

Bestri terdiam beberapa detik.

Pikirannya kembali ke ruang makan, ketika semua orang membeku mendengar satu kalimat dari ayahnya.

“Ayah... mau pensiun.”

Kalimat itu jatuh begitu saja di atas meja makan.

Tak ada yang menyangka. Tak ada yang siap. Wina yang sedari tadi memotong martabak langsung berdiri.

Lucky mengangkat kamera.

"Prank nih. Prank gais. Ayah gue mau prank kami bilang pensiun. Kalau kami kaget, pasti bentar lagi bilang, untungnya apa kalian kaget. Enggak mempan Yah," sahut Lucky mengarahkan kamera ke ayah sambil tertawa.

"Ayah gak bercanda," sahut Ayah.

Lucky masih mengarahkan kameranya hingga ia tertegun saat kamera mengarah ke wajah ibu. Ibu membeku. Beliau kesulitan mengatur napas sendiri. Yang paling tahu gelagat ayah adalah ibu. Jika reaksi ibu begitu, artinya memang tidak ada candaan di sini. Buru - buru ia meneguk minuman yang ada di gelasnya.

“Ayah serius?”

Pak Dwiko mengangguk pelan.

“Serius.”

“Tapi... kenapa?” Suara Wina mulai bergetar. “Ayah masih sehat. Masa kerja Ayah juga masih ada. Kenapa harus pensiun sekarang?”

Lucky ikut meletakkan gelasnya sedikit lebih keras dari biasanya.

“Iya, Yah. Ini bercanda, kan? Masa keputusan sebesar ini baru bilang sekarang? Ayah nggak diskusi dulu sama kami?”

Bestri yang sejak tadi hanya memandangi wajah ayah akhirnya ikut bersuara.

“Ayah... ada sesuatu yang Ayah sembunyikan?”

Pak Dwiko tersenyum tipis.

“Tidak ada.”

“Lalu kenapa?” desak Bestri.

Pak Dwiko menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Ayah ingin fokus membantu usaha nasi uduk Ibu.”

Suasana kembali sunyi. Tak seorang pun langsung menanggapi. Justru kesunyian itu terasa lebih berat daripada pertengkaran. Wina menggeleng pelan.

“Tapi... penghasilan nasi uduk nggak mungkin bisa menggantikan gaji Ayah.”

“Iya, Yah,” timpal Lucky cepat. “Kalau Ayah bosan kerja, ya istirahat dulu. Libur seminggu. Sebulan. Tapi bukan pensiun.”

Pak Dwiko hanya mendengarkan. Wina kembali bersuara.

“Aku juga belum kerja. Selama ini Ayah yang menopang keluarga. Kalau Ayah pensiun sekarang...”

Kalimatnya terhenti. Ia tak sanggup melanjutkan. Lucky mengembuskan napas kasar.

“Ayah biasanya selalu ngajarin kita kalau keputusan keluarga harus dibicarakan bareng. Kenapa kali ini Ayah mutusin sendiri?”

Pak Dwiko tetap diam. Bestri memperhatikan ayahnya lebih lama. Ada sesuatu yang berbeda. Ayahnya memang masih tersenyum. Tetapi senyum itu terasa terlalu dipaksakan. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang disembunyikan di baliknya. Bestri ingin bertanya lagi. Namun melihat tatapan ayah, ia justru mengurungkan niatnya. Di tengah meja, martabak kesukaan keluarga itu masih utuh. Biasanya Lucky sudah berebut potongan pertama. Wina selalu protes karena bagian kejunya diambil lebih banyak. Bestri biasanya ikut mengambil bagian kecil sambil mendengarkan kedua kakaknya bertengkar soal potongan paling besar.

Malam itu... tak seorang pun mengulurkan tangan. Martabak itu mendingin bersama suasana rumah. Untuk pertama kalinya, ketiga anak Pak Dwiko memiliki pikiran yang sama. Kali ini... Ayah mengambil keputusan yang salah.

Malam semakin larut.

Pak Dwiko masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang.

Ibu sedang melipat pakaian.

“Ibu.”

“Hm?”

“Kok dari tadi diam saja?”

Ibu tetap melipat baju tanpa mengangkat kepala.

“Mau tanya apa?”

“Kenapa Ibu nggak protes?”

Ibu tersenyum kecil.

“Untuk apa?”

Pak Dwiko menatap istrinya.

“Kalau keputusan itu sudah Ayah ambil... pertanyaan Ibu nggak akan mengubah apa-apa.”

“Tapi Ibu marah?”

Ibu menggeleng pelan.

“Enggak.”

“Lalu?”

Lihat selengkapnya