Pagi itu, Wina sudah berangkat sejak matahari belum tinggi. Di tangannya ada map cokelat yang mulai menebal oleh berkas lamaran. Hari itu ia berniat mendatangi setiap perusahaan yang masih membuka lowongan. Tak peduli harus berjalan kaki berkilo-kilometer. Tak peduli harus ditolak berkali-kali. Ia hanya tidak ingin diam. Sebab sejak kemarin ada satu hal yang terus berputar di kepalanya. Ayah pensiun. Dan kalau Ayah benar-benar sudah tidak bekerja... ia tidak ingin menjadi anak yang hanya bisa duduk di rumah dan menunggu. Ia ingin membantu. Meski caranya belum jelas. Meski dirinya sendiri bahkan belum tahu harus mulai dari mana.
Meskipun, perdebatan semalam membuat matanya tak terpejam. Belum ada penyelesaian hingga pagi. Ia hanya pamit pada ibu sebelum keluar rumah. Itupun dari kejauhan. Sedangkan ayah, ia sengaja tidak berpamitan dengan beliau. Ia tidak tahu apakah rasa kecewanya adalah sesuatu yang benar atau sesuatu yang tidak pantas ia ungkapkan.
Sementara itu, Lucky duduk di depan laptopnya. Jari-jarinya bergerak cepat menyusun potongan-potongan video. Gedung kantor. Papan nama perusahaan. Beberapa pegawai yang keluar masuk. Wajah-wajah mereka terlihat jelas. Tak satu pun ditutupi. Lucky mengetik sebuah kalimat.
“Puluhan tahun mengabdi. Tetap di jabatan yang sama. Lalu di-PHK sepihak. Beginikah balasan untuk kesetiaan?”
Ia membaca ulang. Mengangguk puas.
“Kalau begini pasti viral.”
Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol unggah. Video itu sebenarnya dibuat dengan satu tujuan. Lucky ingin membela Ayah. Sesederhana itu. Ia tidak memikirkan akibatnya. Tidak memikirkan siapa yang mungkin terseret. Tidak memikirkan apakah informasi yang ia dapatkan benar atau salah. Baginya, selama ia merasa Ayah disakiti, maka ia harus membalas. Itulah cara Lucky menunjukkan bahwa ia peduli. Hanya saja...ia belum tahu bahwa niat baik tidak selalu menghasilkan sesuatu yang baik.
Di dapur, Ibu sedang membungkus nasi uduk. Ayah membantu mengikat plastik satu per satu. Tiba-tiba tangan Ayah berhenti. Telapak kirinya perlahan menekan dada. Ibu menoleh.
“Kenapa?”
Pak Dwiko langsung tersenyum.
“Masuk angin.”
“Minum dulu.”
“Nanti.”
Ia kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa. Ibu memperhatikannya beberapa detik. Tatapannya tertahan pada tangan suaminya yang baru saja menekan dada. Ada rasa khawatir yang muncul. Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, seorang pembeli datang.
“Bu, nasi uduknya tiga.”
Ibu langsung tersenyum.
“Iya, sebentar.”
Ia kembali melayani pembeli. Lalu memilih diam. Ia mengenal suaminya. Kalau belum ingin bercerita...memaksa bertanya tidak akan membuatnya menjawab.
Malam itu, unggahan Lucky tak langsung ramai. Ia berkali-kali membuka layar ponselnya. Lima puluh tayangan. Seratus. Dua ratus.
“Halah... sepi.”
Lucky melempar tubuhnya ke kasur.
“Orang-orang sekarang sukanya joget.”
Ia menghela napas panjang, lalu mematikan layar ponsel. Matanya terpejam. Dalam hati ia mulai menyesal. Mungkin memang tidak ada yang peduli. Mungkin orang-orang lebih suka melihat hal-hal lucu daripada masalah orang lain.Tak sampai lima belas menit kemudian...
Ting!
Satu notifikasi. Disusul dua. Lima. Sepuluh. Puluhan.
Lucky mengernyit.
“Apaan, sih?”
Ia membuka aplikasi media sosialnya. Matanya membulat. Jumlah tayangan melonjak ribuan hanya dalam hitungan menit. Kolom komentar bergerak begitu cepat hingga sulit dibaca.
“Kasihan banget.”
“Perusahaan mana ini?”
“Viralkan sampai pusat tahu!”
“Kalau benar begini, keterlaluan!”
Lucky terduduk.
Dadanya berdegup lebih cepat.
“Viral...”
Ia menelan ludah.
“Ini... benar-benar viral.”
Untuk beberapa detik ia hanya menatap layar. Rasa bangga memenuhi dadanya. Inilah yang selama ini ia inginkan. Sekali saja ia ingin melakukan sesuatu yang membuat keluarganya bangga. Tanpa sadar ia tersenyum lebar. Tanpa tahu bahwa di balik angka-angka yang terus bertambah itu...masalah juga sedang bertambah.
“Sial...”
Lucky berdiri. Ia ingin segera mencari Ayah. Namun ia berhenti. Mungkin nanti saja. Ia ingin memberi kejutan. Ia ingin melihat wajah Ayah ketika tahu bahwa anaknya berhasil membela dirinya.
---
Di sisi lain kota...Wina baru keluar dari sebuah gedung perkantoran. Ia kembali memasukkan map cokelat ke dalam tas.
“Maaf, Mbak. Saat ini kami belum membuka lowongan.”
Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Ia bahkan tak lagi menghitung berapa perusahaan yang ia datangi hari itu. Kakinya pegal. Sepatunya mulai terasa sempit. Namun ia tetap melangkah menuju pemberhentian angkot. Ia sempat berhenti di pinggir jalan. Menatap orang-orang yang berlalu-lalang. Ada yang pulang membawa tas kerja. Ada yang berbicara di telepon. Ada yang tertawa bersama teman. Semua orang seperti sedang menuju sesuatu.
Sementara dirinya...masih berdiri di tempat yang sama. Saat ponselnya berbunyi, ia buru-buru mengangkat.
“Halo?”
“Halo, Mbak Wina. Maaf, kami dari PT Sinar...”
Wina langsung menghentikan langkah.
“Iya, Pak.”
“Kami sudah mempelajari berkas Mbak.”
Jantung Wina berdegup semakin cepat.
“Namun, untuk saat ini kami belum bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.”
Lagi. Ia kembali mendengar kalimat yang sama.
“Baik, Pak.”
“Terima kasih.”
Telepon ditutup. Wina tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Lalu kembali berjalan. Ia tidak menangis. Bukan karena tidak sedih.Tapi karena ia merasa kalau setiap penolakan harus dibayar dengan air mata, mungkin air matanya sudah habis sejak kemarin.
Sore itu, kedai nasi uduk Bu Inggrit tampak lebih lengang daripada biasanya. Beberapa kursi masih kosong. Panci nasi bahkan belum habis setengah. Ibu mencoba tetap tersenyum kepada setiap pembeli yang datang. Namun sesekali matanya melirik ke arah jalan. Berharap ada pelanggan tambahan.
Pak Dwiko sedang mengangkat termos teh ke meja. Belum sempat sampai...tangannya kembali menekan dada. Ia berhenti beberapa detik. Mengatur napas. Lalu tersenyum saat melihat Ibu memperhatikannya.
“Berat ya?”
Ibu bertanya pelan.
Pak Dwiko mengangguk kecil.
“Termosnya.”
Ibu tahu suaminya sedang berbohong. Namun ia kembali memilih diam. Ia tidak ingin mendesak. Barangkali memang belum waktunya.
Malam menjelang, Lucky masih menatap angka-angka di layar ponselnya. Seratus ribu tayangan. Dua ratus ribu. Lima ratus ribu. Ia melompat dari kursi.
“Yes!”
Ia segera mencari Ayah. Namun Pak Dwiko sudah tertidur di ruang tamu. Wajahnya terlihat jauh lebih pucat daripada biasanya. Lucky tersenyum kecil.
“Nggak apa-apa, Yah.”
“Nanti kalau videonya tembus sejuta, Ayah pasti bangga.”
Ia mematikan lampu ruang tamu. Tak pernah ia sadari... Ayah yang dikiranya tertidur sebenarnya belum benar-benar memejamkan mata. Pak Dwiko mendengar semuanya. Ia hanya tidak memiliki tenaga untuk membuka mata.
---
Hari kedua berlalu.
Video Lucky terus menyebar. Wina terus mencari pekerjaan. Kedai nasi uduk belum juga ramai.
Dan Bestri...tak pernah datang ke sekolah.
Hari ketiga.
Pak Dwiko baru saja menuangkan teh ke dalam gelas ketika ponsel Lucky berdering.
“Siapa, ya?”
Lucky mengangkat panggilan itu sambil tetap menatap layar ponselnya.
“Halo?”
“Selamat pagi. Apakah benar ini Saudara Lucky Dio Cahyono?”
“Iya.”
“Kami dari Kepolisian Sektor...”
Lucky langsung duduk tegak.
“...berkaitan dengan unggahan Saudara mengenai PT Maju Bersama.”
Senyumnya perlahan menghilang.
“Kami mengundang Saudara datang hari ini bersama orang tua untuk dimintai keterangan.”
Telepon terputus. Lucky masih memegang ponselnya. Wajahnya memucat.
“Ada apa?” tanya Ibu.
Lucky menelan ludah.
“Bu...”
“Aku dipanggil polisi.”
Ibu terkejut. Lucky terlihat sangat ketakutan.
---
Ruang pemeriksaan terasa lebih dingin dari apa yang dibayangkan. Lucky duduk di samping Ibu. Di hadapan mereka, seorang penyidik membuka layar komputer.