Pak Dwiko mengusap wajahnya pelan. Tatapannya bergantian menatap Wina, Lucky, Bestri, lalu berhenti pada istrinya. Rumah kembali dipenuhi keheningan. Tak ada seorang pun yang berani membuka suara. Hingga akhirnya...
"Untungnya apa..."
Suara Pak Dwiko terdengar lirih. Semua menoleh.
"Untungnya apa Ayah menyembunyikan semua ini?"
Ia tersenyum tipis.
Namun senyum itu tak lagi mampu menyembunyikan kesedihan di wajahnya.
"Sejak dokter mengatakan Ayah harus berhenti bekerja, Ayah terus mencari jawabannya."
Pak Dwiko menggeleng pelan.
"Ayah mencari untungnya apa."
"Kalau Ayah diam... untungnya apa."
"Kalau Ayah menyembunyikan penyakit ini... untungnya apa."
"Kalau Ayah membiarkan kalian marah... untungnya apa."
Ia menundukkan kepala.
"Lalu hari ini..."
"Ayah menemukan jawabannya."
Sunyi.
"Tidak ada."
Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.
"Untuk pertama kalinya dalam hidup Ayah..."
"...Ayah tidak menemukan untung dari keputusan yang Ayah ambil."
Pak Dwiko menarik napas panjang.
"Ayah kalah."
Kalimat itu membuat Wina menutup mulutnya.
"Ayah juga salah."
Ia menoleh kepada putri sulungnya.
"Wina..."
"Ayah minta maaf."
Wina menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Selama ini Ayah mengajarkanmu untuk tidak mengandalkan relasi. Itu benar. Tapi Ayah lupa menjelaskan sesuatu yang lebih penting."
Pak Dwiko tersenyum pahit.
"Yang tidak jujur bukan relasinya. Yang tidak jujur adalah ketika relasi digunakan untuk mengambil hak orang lain. Kalau relasi hanya membuka pintu agar kemampuanmu bisa dilihat...itu bukan kecurangan. Itu kesempatan."
Pak Dwiko menunduk.
"Ayah membuatmu menolak kesempatan yang seharusnya boleh kamu ambil. Ayah minta maaf."
Air mata Wina akhirnya jatuh. Ia baru menyadari...Selama ini ia tidak salah memahami dunia. Ia hanya belum mendengar penjelasan Ayah sampai selesai.
Pak Dwiko lalu memandang Lucky.
"Lucky."
Lucky mengangkat wajahnya perlahan.
"Ayah juga minta maaf sama kamu."
Lucky buru-buru menggeleng.
"Enggak, Yah. Yang salah aku."
Pak Dwiko tersenyum tipis.
"Kamu memang salah."
Lucky menunduk semakin dalam.
"Tapi Ayah lebih salah."
Lucky kembali menatap ayahnya.
"Kamu berani membela orang yang kamu sayangi. Kamu bahkan rela dimarahi polisi demi membela Ayah."
Pak Dwiko mengembuskan napas panjang.
"Sedangkan Ayah...tidak berani berkata jujur kepada keluarganya sendiri."
Suaranya mulai bergetar.
"Kalau hari ini Ayah harus menyebut siapa yang pengecut..."
Pak Dwiko menatap putranya lurus.
"...orang itu adalah Ayah."
Lucky langsung menangis. Ia menggeleng berkali-kali.
"Jangan bilang begitu, Yah..."
Pak Dwiko mengulurkan tangannya. Lucky segera menggenggamnya erat. Pak Dwiko kemudian memanggil pelan.
"Bestri."
Putri bungsunya mendekat sambil menghapus air mata. Pak Dwiko mengusap kepalanya dengan lembut.
"Selama ini kamu tahu kenapa rem tidak pernah dipuji?"
Bestri menggeleng.
"Karena orang baru sadar rem itu penting...saat remnya tidak ada."
Pak Dwiko tersenyum hangat.
"Rumah ini sering selamat...karena kamu. Kamu yang selalu mengingatkan Lucky. Kamu yang selalu menjaga Wina. Kamu yang selalu melihat hal-hal yang tidak sempat Ayah lihat."
Pak Dwiko menatap mata putrinya.
"Tapi Ayah terlambat menyadari semua itu."
"Ayah benar-benar minta maaf."
Bestri tak mampu lagi menahan tangisnya. Ia memeluk ayahnya erat.
"Aku kira...aku nggak berguna, Yah."
Pak Dwiko menggeleng sambil membelai rambut putrinya.
"Kalau rem hilang...kendaraan tidak akan sampai ke tujuan."
"Lucky adalah gas. Wina adalah kemudi. Dan kamu...adalah rem yang menjaga semuanya tetap selamat."
Tangis Bestri pecah. Pak Dwiko kemudian mengangkat pandangannya kepada istrinya.
"Bu..."
Ibu tersenyum sambil mengusap air matanya.
"Ayah juga minta maaf."
"Selama ini Ayah selalu bilang hidup sederhana sudah cukup. Tapi Ayah lupa....hidup sederhana tidak boleh membuat Ibu kehilangan rasa bangga pada diri sendiri."
Pak Dwiko menundukkan kepala.
"Ayah menyesal. Ayah tidak pernah berhasil membuat Ibu percaya...bahwa menjadi penjual nasi uduk bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan."
"Ayah tidak pernah berhasil membuat Ibu berani berdiri di depan teman-teman Ibu dengan kepala tegak."
Ibu menggeleng pelan.
"Bukan salah Ayah."
Pak Dwiko tersenyum.
"Mungkin bukan. Tapi Ayah tetap menyesal."
Keheningan kembali memenuhi ruang tamu. Tak ada lagi kemarahan. Tak ada lagi bantahan. Hanya suara tangis yang bergantian memenuhi rumah kecil itu.
Untuk pertama kalinya... Pak Dwiko tidak mengajarkan keluarganya mencari untung dari sebuah musibah. Ia hanya mengajarkan satu hal. Bahwa meminta maaf tidak membuat seseorang menjadi lebih kecil. Justru keberanian mengakui kesalahanlah yang membuat seseorang benar-benar menjadi seorang ayah.
Keesokan paginya...
"Lucky! Itu telur buat dijual, bukan buat sarapan!"
"Kan tinggal beli lagi, Bu!"
"Beli pakai apa?"
"Pakai uang."
"Uang siapa?"
"Ya... uang Ibu."
"LUCKY!"
"Ya ampun, Bu! Telurnya baru dua!"