Untungnya Apa?

Enggia Valox
Chapter #8

Mimpi Paling Menyakitkan

Rumah keluarga Dwiit kembali dipenuhi orang. Namun kali ini...Tak ada seorang pun yang datang untuk tertawa. Karpet di ruang tamu masih dipenuhi orang-orang yang duduk bersila. Beberapa pelayat membaca doa dengan suara lirih. Sebagian lainnya berbincang pelan, seolah takut suara mereka mengganggu kesunyian rumah itu.

Di sudut ruang tamu, bingkai foto Pak Dwiko berdiri di atas meja kecil. Senyumnya masih sama. Hangat. Tenang. Seolah tak pernah memperlihatkan bahwa tubuhnya telah beristirahat untuk selamanya.

Di dapur, beberapa ibu-ibu tetangga masih sibuk mencuci gelas dan merapikan piring. Tak seorang pun membiarkan Bu Inggrit mengerjakannya sendiri.

"Sudah, Bu. Biar kami saja."

"Iya... Ibu istirahat dulu."

Bu Inggrit hanya mengangguk pelan.

Sejak pagi... Ia tak tahu sudah berapa kali orang memintanya untuk beristirahat. Namun setiap kali ia duduk...Matanya justru mencari sosok yang tak mungkin lagi pulang.

Pak Hendra keluar dari ruang tamu sambil mengusap matanya. Ia menghampiri Bu Inggrit yang sedang berdiri memandangi halaman.

"Bu..."

Pak Hendra berdeham pelan.

"Saya belum pernah lihat Pak Dwiko marah."

Bu Inggrit tersenyum tipis.

"Saya juga jarang."

Pak Hendra tertawa kecil.

"Kalau ada orang datang mengeluh, jawabannya selalu sama."

Bu Inggrit mengangguk.

"'Untungnya apa?'"

"Iya."

Pak Hendra mengembuskan napas panjang.

"Dulu saya sering kesal mendengarnya. Tapi sekarang...saya malah merasa kehilangan."

Tak jauh dari mereka, Bu Rini sedang membantu melipat tikar. Air matanya kembali jatuh.

"Kalau subuh...saya pasti bangun karena dengar suara Lucky sama Wina ribut."

Ia tersenyum di sela tangisnya.

"Lalu Pak Dwiko ketawa. Sekarang...gang ini sepi sekali."

Ucapan itu membuat beberapa tetangga lain ikut terdiam. Mereka sadar...Yang hilang bukan hanya seorang kepala keluarga. Tetapi seseorang yang selama bertahun-tahun menjadi warna di gang kecil itu.


---


Di ruang tengah...

Wina masih duduk di tempat yang sama sejak para pelayat mulai berdatangan. Tatapannya kosong. Di tangannya masih tergenggam map cokelat berisi hasil pemeriksaan kesehatan Ayah. Ia belum sanggup menyimpannya. Lucky duduk di lantai sambil membantu melipat sajadah yang digunakan para pelayat. Sesekali ia menjawab ucapan belasungkawa dengan anggukan pelan. Tak ada lagi senyum jahil di wajahnya. Tak ada lagi suara kerasnya yang memenuhi rumah.

Sementara itu Bestri berjalan mondar-mandir membawa gelas berisi teh hangat untuk para tamu. Meski matanya sembap, ia tetap berusaha tersenyum kepada setiap orang. Seolah sedang menjalankan tugas terakhir yang diajarkan Ayah. Menjaga agar semua orang merasa diterima. Menjelang sore...Satu per satu pelayat mulai berpamitan.

"Kalau ada apa-apa, panggil kami."

"Kalian tidak sendirian."

"Pak Dwiko orang baik."

"Kami juga kehilangan beliau."

Setiap ucapan itu membuat dada keluarga Dwiit kembali sesak. Hingga akhirnya...Pintu rumah ditutup. Suara langkah kaki para pelayat menghilang. Halaman yang sejak pagi dipenuhi kendaraan kembali lengang. Rumah itu mendadak sunyi. Sunyi yang berbeda. Bukan karena tidak ada suara. Melainkan karena mereka semua sedang menunggu. Menunggu satu suara yang selama ini selalu terdengar setiap sore.

"Bu... hari ini untungnya apa?"

Namun sore itu...Tak ada lagi yang akan mengucapkan kalimat itu.

Dan untuk kesekian kalinya...kesunyian benar-benar terasa lebih bising daripada keramaian.


---


Rumah itu masih sama. Kursi di ruang tengah masih berada di tempatnya. Gelas milik Ayah masih tersimpan di rak paling depan. Sandalnya masih tergeletak di bawah meja. Bahkan selang air yang biasa digunakan Ayah menyiram tanaman masih tergulung di dekat teras.

Semuanya masih ada. Kecuali orangnya. Dan justru itulah yang paling menyakitkan. Sejak pemakaman selesai, rumah itu berubah menjadi tempat yang aneh. Tidak ada yang benar-benar menangis sepanjang waktu. Tidak ada pula yang benar-benar baik-baik saja. Kesedihan datang sesuka hati. Kadang ketika sedang makan. Kadang ketika sedang mandi. Kadang ketika melihat kursi kosong. Kadang hanya karena mendengar suara pintu dibuka. Lalu untuk beberapa detik, mereka akan berpikir Ayah pulang. Sampai akhirnya kenyataan kembali datang. Ayah tidak akan pulang.

---

Inggrit duduk sendirian di kamar. Pintu ditutup. Lampu tidak dinyalakan. Sejak pagi, ia sudah beberapa kali merapikan lemari Ayah. Bukan karena ada yang berantakan. Justru karena semuanya terlalu rapi. Kemeja-kemeja Ayah masih tergantung. Celana masih tersusun. Jam tangan masih berada di atas meja. Inggrit mengambil salah satu kemeja itu. Didekapnya ke dada. Lalu ia diam. Tidak ada tangisan. Tidak ada suara. Hanya napas yang bergetar. Ia mencium kemeja itu. Masih ada bau Ayah. Atau mungkin hanya pikirannya yang sedang mencari-cari.

Inggrit memejamkan mata.

“Mas…”

Satu kata. Hanya satu kata. Namun setelah itu, air matanya jatuh. Tubuhnya perlahan melorot hingga duduk di lantai.

“Mas…”

Tangisnya pecah. Bukan tangisan seperti saat kehilangan seseorang di rumah sakit. Bukan tangisan ketika jenazah dibawa pergi. Ini tangisan yang berbeda. Tangisan seseorang yang baru menyadari bahwa mulai hari itu, ia benar-benar sendirian.

Inggrit menutup mulutnya sendiri agar suaranya tidak terdengar anak-anak. Padahal tidak ada seorang pun yang akan menyalahkannya jika ia menangis keras. Ia menangis sambil memegang kemeja itu.

“Kenapa kamu pergi duluan?”

Tidak ada jawaban. Inggrit tertawa kecil di sela tangis.

“Katanya mau lihat anak-anak sukses.”

Air matanya semakin deras.

“Katanya mau lihat Wina dapat kerja.”

Ia mengusap wajah.

“Katanya mau lihat Lucky berhenti bikin masalah.”

Lihat selengkapnya